
Keterangan Gambar : Penerima Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2026, LK Ara (sumber foto : ist/pp)
JAKARTA - Parahyangan Post — Penerima Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2026, LK Ara, menyampaikan pesan mendalam tentang hakikat kepenyairan dalam pidato penerimaannya pada puncak Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026. Penghargaan yang diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., itu menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi panjang LK Ara dalam perjalanan sastra Indonesia.
Berbicara di hadapan para penyair, budayawan, akademisi, pegiat literasi, dan tamu undangan di Graha Utama, Gedung A Lantai 3, Kemendikdasmen, Jakarta, LK Ara menegaskan bahwa penghargaan yang diterimanya merupakan amanah yang harus dijaga melalui karya dan pengabdian yang berkelanjutan.
Menurutnya, seorang penyair tidak hanya bertugas melahirkan puisi, tetapi juga terus memperkaya pengetahuan, mengasah kepekaan batin, serta membangun dialog dengan kehidupan. Baginya, proses kreatif adalah perjalanan panjang yang tidak mengenal kata selesai.
Dalam pidatonya, LK Ara mengungkapkan bahwa selama puluhan tahun ia menjalani kehidupan sastra dengan semangat belajar tanpa henti. Membaca berbagai karya, berdiskusi, menulis, hingga menerbitkan buku merupakan bagian dari ikhtiarnya menjaga tradisi literasi sekaligus memperluas cakrawala berpikir.
Ia juga menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterimanya serta mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Hari Puisi Indonesia, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, dewan juri, keluarga, sahabat, dan seluruh komunitas sastra yang telah mendampingi perjalanan kepenyairannya.
Lebih jauh, LK Ara berharap penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi lahirnya generasi penyair yang memiliki keteguhan berkarya, keluasan wawasan, dan kepedulian terhadap kehidupan sosial. Menurutnya, puisi akan tetap relevan selama mampu menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Mengakhiri sambutannya, LK Ara mengajak seluruh insan sastra untuk terus merawat puisi sebagai ruang pembelajaran, perenungan, dan pengabdian. Ia meyakini bahwa karya sastra memiliki kekuatan untuk menyentuh hati, membangun kesadaran, serta menjadi bagian penting dalam perjalanan peradaban bangsa.
Pidato tersebut mendapat apresiasi dari para hadirin yang memadati ruang acara. Bagi banyak peserta, pesan LK Ara menjadi pengingat bahwa penghargaan tertinggi bagi seorang penyair bukan semata pengakuan atas karya, melainkan kemampuan menjaga api kreativitas dan mengabdikan diri kepada kemanusiaan melalui kata-kata. - (Rissa Churria/PP)






LEAVE A REPLY