
Keterangan Gambar : Ilutrasi, karya Teguh Paino
Catatan ini merupakan opini spekulatif penulis dalam melihat perkembangan Artificial Intelligence yang mempengaruhi medan seni rupa, untuk memantik percakapan yang lebih luas dan bagaimana tekhnologi ini justru menjadi titik balik dalam melihat kembali dan menggali potensi diri atas pembentukan karakter, penguatan skil dan pengetahuan dimasa sekarang dan mendatang, sehingga seni rupa kita bisa beradaptasi dengannya. Meski disepanjang sejarah dan dinamikanya banyak sengkarut praktik seni rupa yang tak mengenal batas etik. Tulisan ini tidak sepenuhnya membenarkan dalam beberapa kasus dan tidak pula menolak kehadiran AI. Tapi sebaliknya, mempertanyakan ulang persoalan etik yang disodorkan didalam praktik seni rupa secara sistemik ditengah maraknya penggunaan Artificial Intelligence.
Sementara itu, dunia seni rupa kita telah lama mengalami perubahan, dialektika dan pergeseran. Baik dalam identitas, preferensi, wacana dan media/instrumennya. Perdebatan mengenai penggunaan kecerdasan buatan dalam jurnal seni, teks kuratorial dan praktik seni rupa hari ini sering kali bergerak dalam nada moralistik yang sudah terburu-buru. AI diposisikan sebagai ancaman terhadap orisinalitas, keaslian dan bahkan integritas intelektual seorang penulis, kurator atau seniman/perupa. Padahal sebelumnya sudah dipaparkan dalam idiom - idiom seni posmodern, seperti Pastiche, Parodi, Kitcsh, Camp dan Skizofrenia. Namun, ketakutan dan kegelisahan ini menjadi persoalan ketika kita melihat bahwa medan seni rupa sendiri sejak lama telah beroperasi dalam wilayah abu-abu yang jarang disentuh oleh kritik etik secara serius. Dalam hal ini, penolakan terhadap AI justru membuka kontradiksi, mengapa teknologi baru dipersoalkan secara etik, sementara praktik lama yang tak kalah bobrok, problematik dan bermasalah justru dinormalisasi? Ini "cabul".
Melalui pendekatan teori kritis, hal ini dapat dibaca dengan konsep “kecabulan simbolik” dalam psikoanalisis Lacanian, di mana sesuatu yang seharusnya tersembunyi justru dipertontonkan secara terang-terangan tanpa rasa malu, oleh sebab dari tekanan kapitalisme. Frued menyebutnya ketidaksadaran (Id) yang menyimpang (perversi) karena tidak sepenuhnya terkontrol oleh kesadaran kolektif (ego). Singkatnya, praktik seni rupa yang "menyimpang" itu diperlihatkan. AI menjadi “kambing hitam” yang menutupi kenyataan bahwa ekosistem seni rupa telah lama beroperasi dan bergerak dengan logika manipulasi simbolik, dari konstruksi nilai artistik, inflasi harga, hingga produksi wacana kuratorial yang sering kali lebih retoris dari pada reflektif, bahkan kadang membingungkan.
Teks kuratorial, misalnya, sejak lama bukan sekadar medium penjelasan, ia merupakan salah satu dari perangkat legitimasi. Ia membangun aura, menciptakan narasi, dan dalam banyak kasus, mengaburkan relasi kuasa antara seniman, kurator, kolektor dan institusi. Biasanya lebih kepada sesuatu yang afirmatif. Ketika AI digunakan untuk membantu atau bahkan menyusun teks tersebut, muncul kekhawatiran tentang “keaslian suara kurator" dan persoalan etika dalam penggunaannya. Baru-baru ini pameran Tunggal perupa Faisal Amir teks kuratorialnya sengaja menggunakan Artificial Intelligence dan beberapa kurator diajang pameran satu kurator, satu perupa waktu lalu mengaku dibantu menggunakan AI. Termasuk perupa, budayawan Deny JA melukis menggunakan AI tahun lalu, yang kebetulan saya turut mengkurasinya. Ini bisa menyebabkan kurator dan kritikus "gegar otak".
Kemudian hal yang lebih mendasar, apakah teks kuratorial sebelumnya benar-benar lahir dari kejujuran intelektual? Ataukah ia sudah lama menjadi produk pesanan dari bahasa yang diproduksi secara strategis untuk kepentingan pasar dan institusi, atau dalam banyak kejadian tetiba seseorang sah menjadi kurator tanpa kedekatan dengan medan seni rupa, bahkan mendadak menjadi seniman yang tidak pernah dikonfirmasi dan dipertanyakan posisi etiknya? Ini adalah kontradiksi dimana segalanya mungkin.
Di sinilah kita bisa meminjam jalan berpikir Slavoj Zizek, yang melihat ideologi bukan sebagai sesuatu yang tersembunyi, ia justru hadir dalam praktik sehari-hari yang kita anggap normal. Artinya, mereka tahu apa yang terjadi dalam kepalsuan praktik seni rupa, akan tetapi mereka tetap melakukannya, kesadaran palsu ini terus menerus menopang realitas/fenomena seni rupa. Sehingga, penolakan terhadap AI sering kali bukan tentang menjaga etika, tetapi tentang mempertahankan ilusi tertentu, bahwa seni masih memiliki wilayah “murni” yang bebas dari konstruksi dan manipulasi. Padahal, seperti yang ditunjukkan Zizek, justru dalam momen ketika kita merasa paling otentik, ideologi bekerja paling efektif dan begitulah adanya.
Hal yang sama dalam praktik seni rupa, konsep “artisan seniman” yang membantu seniman memproduksi karya atau keterampilan manual sering dijadikan dasar legitimasi nilai karya. Sejalan dengan itu, sejarah seni sejak Renaisans atau bahkan jauh di masa Syailendra menunjukkan bahwa produksi karya selalu melibatkan jaringan atau orang lain, misalnya asisten studio, teknisi, bahkan fabrikator industri. Dalam fokus ini, AI hanyalah ekstensi baru dari rantai produksi tersebut. Ironisnya, penggunaan asisten manusia tidak pernah dipersoalkan secara etik sejauh penggunaan algoritma hari ini.
Persoalan lain yang jarang disentuh juga adalah praktik “penggorengan” karya seni dalam boom seni lukis, sebuah mekanisme spekulatif di mana nilai karya dinaikkan melalui strategi kuratorial, eksposur media dan relasi pasar. Harga karya sering kali tidak mencerminkan kualitas estetik, gilanya, ia hasil dari permainan jaringan, kapital simbolik dan selera kolektor, artinya, karya itu sendiri tidak memiliki standar, mau itu jelek, bagus ataupun karya seniman yang berproses puluhan tahun, itu tidak menjamin apa-apa jika tidak ada relasi "kuasa". Dalam kondisi seperti ini, keberatan terhadap AI menjadi terdengar selektif, tidak proporsional, tidak relevan dan mengada-ada. Mengapa kita lebih gelisah terhadap mesin yang membantu menulis teks dan membantu membuat karya seni dibanding terhadap sistem yang secara sistematis memanipulasi nilai?
Dominasi galeri juga memperumit situasi. Galeri tidak hanya berfungsi sebagai ruang presentasi, tetapi sebagai aktor yang menentukan selera, nilai dan bahkan arah praktik seni. Pilihan-pilihan kuratorial sering kali tidak transparan, bahkan hanya menuliskan sepenggal teks kuratorial dianggap merepresentasikan sebuah pameran, ini menunjukkan tanda bahwa teks kuratorial sebetulnya tidak terlalu penting, yang penting adalah bagaimana eksposur menjual, dari situ ia tidak memiliki standar etik yang jelas dan lebih didorong oleh kepentingan pasar dan subyektivitas. Oleh sebab itu dalam fenomena ini, AI justru berpotensi mengganggu monopoli tersebut dengan membuka akses produksi wacana yang lebih luas, meskipun tentu saja ia juga membawa risiko baru, seperti homogenisasi gaya dan reproduksi bias data.
Selanjutnya, problem AI ini dalam seni rupa bukan sekadar persoalan etik teknologi, tapi lebih kepada cermin yang memantulkan ketidakkonsistenan dalam ekosistem seni rupa itu sendiri. Ia memperlihatkan bahwa banyak nilai yang selama ini kita anggap sakral sebenarnya rapuh dan sengaja dikonstruksi. Ia membuka kemungkinan untuk mendemokratisasi produksi teks, pilihan media dan citra karya, tetapi sekaligus mengancam struktur kuasa yang telah mapan, konservatif dan oportunistik.
Bagaimanapun, yang perlu digeledah bukan hanya perkara penggunaan AI itu etis atau tidak, namun standar etika seperti apa yang selama ini kita gunakan dalam seni rupa seharusnya? Sementara didalam praktik seni rupa tidak ada kewajiban moral yang mutlak sejauh ia dikooptasi oleh kapitalisme. Type dan kurator jenis apa yang layak mempraktikan dan mewacanakannya? Jika praktik manipulasi, spekulasi dan dominasi institusional terus dibiarkan tanpa kritik, maka gugatan etik terhadap AI hanya akan menjadi bentuk moral panik yang dangkal dan tidak berlandas pada rasionalitas.
Di titik ini, isu AI menjadi kompleks, bahkan “cabul secara simbolik”, karena ia tidak hanya menghadirkan teknologi baru, tetapi juga menyingkap apa yang selama ini ingin disembunyikan, bahwa dunia seni rupa, jauh sebelum AI hadir, telah lama beroperasi dalam logika simulasi, konstruksi dan kepentingan. Ia seolah mengingatkan dan mengajak berefleksi kembali ketitik awal, yakni "skil". AI bukan penyebab krisis, ia hanyalah akselerator yang membuat krisis itu tak lagi bisa disangkal.***
Referensi :
- Carney, Noah. 2021. The Devil In The Gallery : How Scandal, Shock and Rivalry Shaped The Art World. Rowman & Littlefield Publishers.
- Zizek, Slavoj. 1989. The Sublim Object of Ideologi. Verso Books
- Kissinger A, Henry. Schmidt, Eric. Mundie, Craig. 2025. Genesis: Artificial Intelligence, Harapan, dan Masa Depan Umat Manusia. PT. Pustaka Alfabet.





LEAVE A REPLY