Home Edukasi GIHES 2026, Ahmad Muzani: Pendidikan adalah Investasi Peradaban

GIHES 2026, Ahmad Muzani: Pendidikan adalah Investasi Peradaban

JK: Pendidikan holistik bukan sekadar perubahan metode belajar

123
0
SHARE
GIHES 2026, Ahmad Muzani: Pendidikan adalah Investasi Peradaban

Keterangan Gambar : Ketua MPR Ahmad Muzani (3 dari kiri) saat memberikan keterangan pers usai membuka GIHES 2026 di hotel Borobudur Jakarta (foto aboe)

JAKARTA , parahyangan-post.com-Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani menegaskan, pendidikan tidak boleh dipandang sekadar sebagai proyek dalam kehidupan berbangsa. Pendidikan merupakan investasi peradaban yang menentukan keberlanjutan cita-cita kemerdekaan sekaligus masa depan bangsa.Hal itu disampaikan Muzani saat membuka Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (5/9/2026).“Pendidikan adalah investasi peradaban. Pendidikan adalah jalan untuk memastikan bahwa kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa dapat diteruskan kepada generasi berikutnya,” ujar Muzani.

Menurutnya, salah satu tujuan utama berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Karena itu, Muzani menilai makna mencerdaskan kehidupan bangsa harus dipahami secara lebih luas. Hal tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan pelaksanaan program pendidikan, tetapi menyangkut upaya membangun manusia dan peradaban bangsa.

“Salah satu tujuan kita bernegara adalah memajukan, mencerdaskan kehidupan bangsa. Kata mencerdaskan seperti yang kita pahami bersama dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, itu bukan sekadar proyek terhadap pendidikan dalam kehidupan kita berbangsa,” katanya.

Muzani menilai gagasan pendidikan holistik menjadi salah satu pendekatan penting untuk mewujudkan tujuan tersebut. Pendidikan, katanya, tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus membentuk karakter, tanggung jawab, serta nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam konteks itu, lembaga pendidikan, termasuk pesantren, memiliki posisi strategis dalam membangun manusia seutuhnya.

“Pendidikan pesantren telah mewariskan kepada kita bagaimana peradaban dibentuk dari awal,” ujarnya.

Namun, Muzani mengingatkan bahwa perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan. Kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dapat menjadi kekuatan apabila dimanfaatkan secara tepat, tetapi juga berpotensi menjadi jalan pintas yang mengikis proses belajar.

“Kemajuan teknologi bisa menjadi kekuatan kita. Pada sisi lain, kemajuan teknologi misalnya AI, menjadi tantangan dan itu sering menjadi jalan pintas bagi proses pendidikan. Kita harus manfaatkan bagian kemajuan itu agar dapat memperkuat proses pendidikan kita,” tandasnya.

 

Pesantren dan Kekuatan Perdamaian

Sementara itu, Gubernur Lemhannas RI Ace Hasan Syadzily mengungkapkan potensi pesantren untuk berkembang menjadi kekuatan global, bukan hanya di bidang pendidikan, tetapi juga dalam membangun perdamaian.

Menurut Ace, tradisi pendidikan pesantren memiliki banyak nilai yang relevan dengan kebutuhan dunia masa kini. Pendidikan masa depan, katanya, tidak cukup hanya mengejar kemampuan akademik, tetapi harus membentuk manusia secara utuh, mulai dari karakter, spiritualitas, keterampilan hingga tanggung jawab sosial.

“Pesantren bukan sekadar tempat santri menuntut ilmu; pesantren adalah sekolah kehidupan,” kata Ace.

Ia menjelaskan, santri tidak hanya belajar melalui pelajaran di ruang kelas. Mereka juga ditempa melalui disiplin kehidupan sehari-hari, kesederhanaan, kemampuan mengelola diri, bekerja sama, mengabdi, memimpin hingga memikul tanggung jawab.

“Di pesantren, nilai-nilai tidak sekadar diajarkan, melainkan dihidupkan. Karakter tidak hanya dijelaskan secara teoretis, melainkan dibentuk melalui pembiasaan,” ujarnya.

Ace menilai pengalaman tersebut dapat menjadi kontribusi Indonesia dalam percakapan global mengenai pendidikan holistik. Tradisi kepemimpinan dan pembentukan karakter yang berlangsung lintas generasi menjadi modal penting pesantren untuk mencetak pemimpin masa depan.

Namun, pemimpin global yang lahir dari pesantren, menurut Ace, harus tetap memiliki akar moral dan nilai kemanusiaan.

“Pemimpin global masa depan harus mampu memahami keanekaragaman budaya, menavigasi dinamika geopolitik yang rumit, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan berkiprah melintasi batas-batas negara,” ungkapnya.

“Namun, mereka juga harus memiliki integritas, empati, keberanian moral, kearifan, serta tujuan hidup yang luhur,” sambungnya.

Ace juga mendorong pesantren beradaptasi dengan perkembangan teknologi, AI, riset, inovasi dan kolaborasi internasional. Modernisasi tersebut, katanya, tidak boleh menghilangkan identitas pesantren.

“Rawat nilainya, transformasikan metodenya,” ucap Ace.

Menurutnya, penguatan pesantren pada akhirnya tidak hanya berdampak pada dunia pendidikan. Pesantren juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun perdamaian dunia.

 

Nilai rahmah, keadilan, keseimbangan, persaudaraan dan penghormatan terhadap martabat manusia dalam tradisi Islam, kata Ace, memiliki pesan universal.

“Di tengah dunia yang kian terbelah oleh pertikaian, keterbelahan, dan rasa saling curiga, nilai-nilai ini mengingatkan kita pada satu hal mendasar: pendidikan tidak boleh hanya melatih manusia untuk saling bersaing, melainkan harus mengajarkan mereka cara untuk hidup berdampingan,” ungkapnya.

Ia berharap pesantren dapat berkembang menjadi kekuatan pendidikan sekaligus kekuatan perdamaian dunia.

“Dari pesantren menuju kepemimpinan global, dari pendidikan menuju perdamaian, dari martabat menuju peradaban, dari Indonesia untuk kemanusiaan,” imbuhnya.

Tidak sekadar berubah

Pada forum yang sama, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) menilai pendidikan holistik membutuhkan perubahan besar dalam sistem pendidikan. Pendidikan, katanya, tidak boleh hanya berorientasi pada hafalan.

JK menyebut pendidikan holistik harus membentuk tiga aspek sekaligus, yakni head, heart and hand—kepala, hati dan tangan.

“Head, heart and hand. Otak, kepala, hati untuk akhlak dan juga kecerdasan dan tangan untuk kemampuan bekerja. Itulah holistik, seutuhnya,” kata JK.

Menurutnya, pendidikan juga harus mengembangkan logika, inovasi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di tengah perkembangan teknologi dan AI, kemampuan menghafal semata tidak lagi memadai.

“Zaman sekarang bukan lagi zaman menghafal. Sekarang tinggal ambil handphone, sedikit AI, semua bisa dikasih tahu sama kita. Buat apa kita hafal?” ujarnya.

Karena itu, JK mendorong santri dan siswa dibiasakan berpikir kritis, berdiskusi, berdebat serta mempraktikkan ilmu yang dipelajari. Ia juga menekankan pentingnya fasilitas pendukung agar konsep pendidikan holistik dapat diterapkan secara nyata.

“Untuk pendidikan yang holistik harus ada fasilitas. Tidak mungkin pendidikan tanpa lab, tanpa ruang kerja, tanpa ruang praktik, tanpa debat,” katanya.JK juga mendorong perubahan peran guru. Dalam pendidikan holistik, guru tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi harus menjadi fasilitator yang mendorong peserta didik aktif berpikir dan berdiskusi.

“Kalau holistik guru bukan lagi mengajar, tapi memfasilitasi. Bagaimana mahasiswa, santri berdebat dengan gurunya?” tuturnya.

Berbagai pandangan tersebut menegaskan bahwa pendidikan holistik bukan sekadar perubahan metode belajar. Pendidikan ditempatkan sebagai proses panjang

Pembangun manusia berilmu, berkarakter, memiliki keterampilan, berakar pada nilai, serta mampu berkontribusi bagi peradaban dan perdamaian dunia.***(pp/aboe)