
Keterangan Gambar : Pameran “Sandang Sanding Agraria” menampilkan tradisi tekstil agraria dari Tuban, Jawa Timur
JAKARTA II Parahyangan Post – Seiring pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia, seni dan budaya semakin berperan dalam membangun hubungan bisnis internasional serta membuka peluang perdagangan baru. Berbagai inisiatif yang menghubungkan kegiatan budaya dengan aktivitas bisnis kini berkembang sebagai sarana dialog dan kolaborasi lintas negara.
Pendekatan ini juga mulai terlihat dalam jaringan perdagangan global. Berbagai organisasi internasional kini memasukkan unsur seni dan budaya dalam program dan forum bisnis mereka. World Trade Centers Association (WTCA) turut mendukung berbagai inisiatif yang menggabungkan seni, warisan budaya lokal, serta pengalaman berbasis tempat (place-based experiences) dalam forum bisnis internasional untuk memperkuat koneksi antar peserta.
Salah satunya pada perhelatan 55th annual WTCA Global Business Forum (GBF) di Marseille, Prancis, bekerja sama dengan World Trade Center (WTC) Marseille Provence. Selain agenda bisnis utama, peserta juga diajak mengunjungi galeri seni lokal dan berbagai destinasi budaya di kota tersebut. Kegiatan ini memberi kesempatan bagi peserta untuk memahami lebih jauh karakter budaya dan ekonomi wilayah tersebut.
WTC Jakarta Integrasikan Seni dan Budaya dalam Ekosistem Bisnis
Pendekatan serupa juga diterapkan WTC Jakarta secara rutin menyelenggarakan program Art at WTC, yang telah diluncurkan sejak 2013. Program jangka panjang yang diinisiasi oleh Jakarta Land ini menghadirkan pameran seni dan budaya yang menampilkan karya seniman Indonesia maupun internasional. Melalui Art at WTC, WTC Jakarta berupaya menciptakan lingkungan bisnis yang tidak hanya berfokus pada aktivitas ekonomi, tetapi juga mendorong kesadaran budaya, dialog lintas sektor, serta konektivitas komunitas global.
Salah satu pameran yang diselenggarakan dalam program tersebut adalah “Sandang Sanding Agraria”, yang berlangsung pada 29 September 2025 hingga 23 Januari 2026. Pameran ini diselenggarakan bersama kurator dan penyelenggara ISA Art & Design. Bertempat di lobi utama WTC 3, pameran ini dikunjungi sekitar 17.000 pengunjung dari dalam dan luar negeri.
Pameran “Sandang Sanding Agraria” menampilkan tradisi tekstil agraria dari Tuban, Jawa Timur, melalui karya Tenun Gedog dan Batik Tuban. Kedua tradisi ini merepresentasikan hubungan erat antara manusia dan alam, termasuk siklus pertanian, kesadaran lingkungan, serta keterampilan kerajinan yang banyak dikembangkan oleh perempuan. Melalui pameran ini, masyarakat urban diajak untuk melihat kembali asal-usul, nilai, serta keberlanjutan produksi tekstil dalam konteks sistem perdagangan global.
Managing Director WTC Jakarta, William Chai, menjelaskan bahwa Art at WTC merupakan bagian dari inisiatif jangka panjang untuk mengintegrasikan seni dan budaya ke dalam kawasan WTC Jakarta, sekaligus menjadikan ruang publik di kompleks tersebut sebagai platform dialog, refleksi, dan koneksi lintas sektor dalam lingkungan bisnis internasional.
“Pameran Sandang Sanding Agraria menjadi contoh bagaimana program budaya di kawasan perdagangan dapat menciptakan keterlibatan yang bermakna antara sistem wawasan lokal dengan audiens internasional,” ujar Chai.
Pendekatan yang dilakukan WTC Jakarta juga sejalan dengan pertumbuhan sektor ekonomi kreatif Indonesia, di mana seni dan budaya semakin dipandang sebagai bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas peluang perdagangan.
Indonesia memiliki potensi besar dalam memanfaatkan sektor seni untuk mendukung perdagangan. Hal ini tercermin dari perkembangan industri kreatif nasional yang terus memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian, dengan pertumbuhan sebesar 5,69% dan nilai ekspor mencapai US$12,89 miliar. Perkembangan ini juga terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap seni. Berbagai pameran seni kontemporer berskala internasional seperti ArtJog, Art Jakarta, Art Moment, dan Art Subs.
Di sisi lain, karya seniman Indonesia juga semakin mendapat perhatian di pasar global. Salah satunya, seniman I Nyoman Masriadi, mencatat sejarah sebagai seniman Asia Tenggara pertama yang karyanya terjual lebih dari US$1 juta di Sotheby’s Hong Kong. Seniman Eko Nugroho juga berhasil menggelar pameran di berbagai institusi seni internasional seperti Mori Art Museum dan Palais de Tokyo, dengan karya yang mencakup mural, bordir, hingga street art.
Menuju WTCA Global Business Forum 2026
Di tengah dinamika geopolitik global, pendekatan yang menggabungkan perdagangan dengan seni dan budaya semakin relevan. Melalui perpaduan arsitektur, seni, dan warisan budaya, WTCA berupaya menciptakan ruang di mana hubungan bisnis dapat terbangun secara lebih kuat.
Pendekatan tersebut juga tercermin dalam 56th annual WTCA Global Business Forum (GBF) yang akan diselenggarakan oleh WTC Greater Philadelphia pada 19–22 April 2026 dengan tema “Historic Foundations, Future Collaborations: Cultivating New Business Frontiers.”
Presiden dan CEO WTC Greater Philadelphia, Thomas Young, menjelaskan, forum ini ni bertujuan untuk menghargai sejarah sekaligus membuka peluang kolaborasi di masa depan. “Kami setiap tahun merayakan keberagaman diaspora dan budaya yang berkembang di Philadelphia. Koneksi tersebut juga kami manfaatkan untuk menarik pelaku bisnis dari berbagai negara datang ke Philadelphia, karena banyak di antaranya memiliki keterkaitan alami dengan komunitas diaspora di sini.”
Chair Board of Directors WTCA, John E. Drew, menambahkan, “Bisnis World Trade Center di seluruh dunia melihat bagaimana seni dan budaya dapat memperkaya bangunan mereka, aktivitas bisnis, serta konferensi dan pameran yang mereka selenggarakan. Global Business Forum adalah tempat di mana koneksi tersebut benar-benar terwujud.”
Bagi pelaku bisnis Indonesia, WTCA GBF 2026 membuka peluang untuk menjalin kemitraan lintas negara sekaligus memperluas koneksi dengan investor global. Forum ini juga menjadi kesempatan strategis untuk mempromosikan berbagai sektor unggulan Indonesia, termasuk ekonomi kreatif, di tingkat internasional. - (rd/pp)






LEAVE A REPLY