
Keterangan Gambar : Foto, Merupakan Ilustrasi (sumber foto : di-buat dengan AI/Gemini/PP)
Oleh : Mikhail Adam
Peneliti Ekopol di Nusantara Centre
MERAYAKAN - Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Inilah tema program Nusantara Centre pada bulan juni-juli ini (2026). Program yang disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. Dan, cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Soekarno, adalah tokoh kelima dari tujuhbelas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti dan teladani.
Suatu kali, di ruang perpustakaan tua yang berdebu. Ada kisah. Seorang anak yang menginjak sekolah menengah bertanya pada kakeknya: “Mengapa nama Soekarno selalu muncul dalam buku sejarah dan bukan sekadar lewat seperti angin?”
Kakek itu tersenyum, lalu membuka lembaran yang sudah mulai menguning, seolah membuka pintu waktu. Maka mengalirlah cerita, bukan sekadar tentang pemimpin nasional, melainkan sebuah tesis politik yang hidup.
Tesis tentang bagaimana bangsa yang baru merdeka menawarkan kepada dunia mengenai tatanan global yang berdasar pada kemanusiaan, solidaritas, dan nilai-nilai universal di hadapan kekuatan besar yang berebut hegemoni. Karena itulah seluruh jalan politiknya menjadi argumen historis.
Pada pagi 17 Agustus 1945, ketika kertas proklamasi bergetar di tangannya, bukan hanya suara beliau yang terdengar, itu adalah gemuruh 350 tahun perlawanan rakyat yang memadat menjadi satu ayat pendek: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia…”
Bagi Soekarno sendiri, di balik teks pendek Proklamasi yang ia bacakan, tersembunyi jejak panjang pengasingan: Ende, Bengkulu, Berastagi, Parapat hingga pulau Bangka, debat panjang di ruang-ruang gelap, rumah tahanan yang dingin dan lembap. Semua itu menyatukan dirinya menjadi manusia yang tak gentar pada takdir.
Ia tahu bahwa proklamasi bukanlah garis finis, melainkan garis awal. Kemerdekaan ibarat bayi: lahir oleh darah dan air mata, tapi harus dibesarkan oleh keberanian dan imajinasi.
**
April 1955. Bandung berwangi hujan, tetapi sejarah mewangi dengan aroma pembebasan. Soekarno menancapkan tiang baru bagi sejarah dunia: Konferensi Asia-Afrika.
Di Gedung Merdeka, di sebuah kota yang masih menyimpan luka perang, Soekarno berdiri di podium kecil tetapi menggetarkan panggung besar sejarah. Ketika ia membuka dengan pidato ikonik “Let a New Asia and a New Africa be Born,” dunia berubah sedikit lebih cepat dari biasanya. Dalam ruangan yang diselimuti wangi kopi, tetapi lebih kuat semangat pembebasan dan solidaritas itu duduk pemimpin India, Mesir, Aljazair, Tiongkok, Iran, Irak, Myanmar, Ethiopia, Sri Lanka, dan puluhan negara yang separuhnya bahkan belum diakui kemerdekaannya.
“Jangan tertipu,” kata Soekarno liris dalam bentuk namun monumental dalam makna, “kolonialisme belum mati.” Bagi Bung Karno, wajah kolonialisme tidak hanya dalam bentuk klasik. Ia bisa hadir dalam bentuk modern lewat kontrol ekonomi, penaklukkan budaya, dan penundukkan pikiran. Kini, saat memasuki era digital, penjajahan hadir lewat algoritma, kendali nyata oleh segelintir elite global atas bangsa-bangsa di dunia.
Soekarno berbicara tentang kolonialisme sebagai monster berkepala banyak yang harus dibunuh bukan dengan pedang, tapi dengan ilmu pengetahuan dan solidaritas. Ia menyinggung Barat tanpa menunjuk hidung, dan mengangkat Asia-Afrika tanpa merendahkan siapa pun. “Tidak ada fondasi yang lebih tinggi,” katanya nyaris teatrikal, “selain kesejahteraan umat manusia.”
Kala itu, setengah umat manusia diwakili di Bandung. Negara-negara muda melihat seorang pemimpin yang tak hanya menyuarakan bangsanya, tetapi menyuarakan mereka semua. “Untuk saudara-saudaraku di Asia dan Afrika,” kata Soekarno dalam pidatonya yang menumbuhkan keberanian bermimpi, “perjuangan untuk kemerdekaan senantiasa menjadi tindakan yang benar.”
Konferensi Asia-Afrika bukan hanya seruan solidaritas, tetapi deklarasi moral Selatan Global. Sebagian lagi menyebut revolusi jiwa yang berpengaruh dan mengilhami berbagai peristiwa bersejarah lainnya. Pertemuan yang melahirkan Dasasila Bandung itu menjadi titik balik. Sekitar 40 lebih negara Afrika merdeka satu dekade setelahnya. Ia berkulminasi di tahun 1960 yang disebut sebagai “Tahun Afrika.”
“Sekarang kami bebas dan berdaulat,” Pidato Soekarno di Konferensi Asia-Afrika seperti lentera dalam perjalanan zaman, “Kami kembali menjadi tuan di rumah kami sendiri.” Konferensi Asia-Afrika menjadi dukungan moral dan politik bagi negara-negara Asia dan Afrika untuk merdeka.
Konferensi Asia-Afrika bukan pertemuan internasional biasa, tetapi kekuatan imajinasi yang tak dapat ditaklukkan. Malcom X menyebut Spirit Bandung sebagai Big Bang dalam penciptaan dunia baru. Sementara Presiden Senegal, Leopold Senghor menyebut Semangat Bandung sebagai sumber kebangkitan kembali kebudayaan kulit hitam.
Di Paris, Konferensi Asia-Afrika memicu lahirnya Kongress penulis dan artis kulit hitam pada 1956. Di Havana Spirit Bandung menginspirasi lahirnya inisiatif Konferensi Tri Kontinental pada 1966. Di Iran, Ayatullah Khamenei membaca buku Soekarno saat menjadi tahanan politik. Ia menjadikan Soekarno sebagai inspirasi sejarah untuk memperjuangkan harkat dan martabat bangsanya. Pada 2015, Arsip Konferensi Asia-Afrika ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Arsip Dunia.
“Jangan biarkan ketakutan menuntun langkah kita,” kata Soekarno seperti membuka epos sejarah bangsa-bangsa di dunia, “jadikanlah langkah kita dipandu oleh harapan, tekad, dan cita-cita.”
Konferensi Asia-Afrika menjadi pernyataan politik paling penting dan genting di abad ke-20 tentang kemerdekaan dan kedaulatan negara-negara Asia-Afrika.
Jika diplomasi modern adalah permainan catur, maka Konferensi Asia–Afrika adalah momen ketika Soekarno membalikkan papan dan berkata: “Permainan ini tidak adil.”
Ia menentang struktur internasional yang selama berabad-abad menganggap negara-negara kecil sebagai objek, bukan subjek. Bandung menjadi kritik terbuka terhadap kolonialisme, kapitalisme predatoris, dan blok-blok kekuasaan yang memonopoli definisi peradaban.
Soekarno memberikan keberanian kepada negara-negara muda untuk berkata: Kami ada, kami penting, kami bukan satelit siapa pun. Soekarno menjadi role model bahwa diplomasi bisa puitis, gagah berani, sekaligus etis dan membebaskan.
Tahun 1961, gelombang Perang Dingin berhembus, dunia terbelah: Barat di satu sisi, Timur di sisi lain. Tapi Bung Karno menolak memilih kursi dalam teater yang dipentaskan dua kekuatan besar. Dia memilih teks politik yang diciptakannya sendiri bahwa kemerdekaan bangsa-bangsa harus bebas dari determinisme kekuatan besar.
Di ruang pertemuan yang lampunya seperti saksi sejarah, bersama Tito, Nehru, Nasser, dan Nkrumah, Soekarno bertutur: “Jika dunia dibelah dua, maka kita harus mencari jalan ketiga.”
Dari percakapan ide yang panjang, dari dokumen-dokumen yang ditulis dengan tangan, hingga perjalanan diplomatik yang melintasi berbagai benua, lahirlah gagasan yang menolak tunduk oleh dua kekuatan besar. Spirit Bandung menjadi arus sejarah yang mengilhami lahirnya Gerakan Non-Blok. Sebuah pilihan yang memilih jalan ketiga dan memilih kebebasan menentukan nasib sendiri.
“Tugas kita,” kata Soekarno seperti bertitah kepada sejarah dan masa depan, “bukanlah untuk mempertahankan dunia yang lama, melainkan membangun kembali dunia baru.”
Gerakan Non-Blok adalah jawaban filosofis sekaligus navigator moral yang menolak tunduk pada ancaman dan dominasi kekuatan besar. “Dunia harus dipimpin oleh kekuatan imajinasi dan keberanian, bukan ketakutan,” ucap Bung Karno jernih sekaligus puitis yang membangunkan emosi jiwa.
Soekarno menolak logika politik internasional yang dibangun di atas rasa takut. Ia menawarkan logika baru dalam diplomasi internasional: keadilan, solidaritas global, dan cita-cita bersama. Baginya politik bukan takdir, melainkan kehendak kolektif.
Setahun sebelumnya, 1960 Soekarno berpidato yang menggetarkan langit New York dan ruangan sidang umum PBB dengan “To Build the World Anew.”
Sebuah judul pidato yang lebih mirip mantra sejarah ketimbang pidato politik. Ketika Soekarno naik ke podium, Delegasi Soviet memasang wajah serius. Delegasi Amerika menggenggam pena lebih erat. Delegasi Afrika merasakan getaran samar seperti bisikan leluhur menggugah ingatan kolektif.
“Dunia tidak boleh terbagi dua pihak,” kata Soekarno sarat refleksi yang membebaskan, “Ia tumbuh bersama keberagaman Bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Bagi Bangsa Indonesia, kami namakan Pancasila.”
Soekarno menyodorkan kepada dunia bahwa Pancasila mampu menjadi fondasi moral global yang memadukan kebebasan, keadilan, dan kemanusiaan. "Pancasila," katanya, "adalah sumbangan Indonesia terhadap dunia."
Dalam pidatonya di PBB itu, Bung Karno menawarkan Pancasila sebagai fondasi moral dan etika universal bagi seluruh dunia. Sang proklamator Republik ini menawarkan Pancasila sebagai cetak biru moral untuk perdamaian dunia.
Soekarno meyakini dunia dibangun oleh kearifan budaya dan nilai-nilai luhur yang dimiliki bangsa-bangsa di dunia. “Kami mencintai bangsa kami dan semua bangsa,” kata Soekarno bernuansa sinematik, “Semua bangsa bermakna penting bagi dunia saat ini dan selamanya untuk membangun peradaban umat manusia.”
Bagi para penerjemah pidato Soekarno memaksa mereka bekerja dua kali lebih keras, mendengarkan kata demi kata dengan seksama. Aksen Soekarno seolah beban berat sejarah yang meminta ditebus. Berlapis-lapis, seolah berasal dari berbagai zaman sekaligus tetapi mengandung sesuatu yang mereka kenali tetapi terus-menerus disembunyikan: kebenaran yang selama ini ditimbun oleh hasrat kekuasaan.
“Bangunlah dunia ini kembali,” pesan inti pidato Soekarno yang menggetarkan sejarah, “bangunlah dunia untuk semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan. Bangunlah dunia yang sesuai dengan impian dan cita-cita umat manusia.”
Tahun 2023, UNESCO menetapkan penghargaan atas pidato Bung Karno yang berjudul “To Build the World Anew” sebagai Memory of the World (Warisan Arsip Dunia). Soekarno menjadikan Pancasila diakui internasional sebagai arsip filosofis dan landasan moral universal dunia.
Soekarno mencetuskan metadipomasi. Dia memperluas jangkauan diplomasi bukan hanya di ruang konferensi dan meja perundingan yang dingin, melainkan ke ruang budaya, nilai-nilai luhur, panggung ideologis, dan simbol moral yang universal. Dalam studi Hubungan Internasional kontemporer tercatat apa yang dilakukan Soekarno sebagai maha karya diplomasi global.
Soekarno menjadi arsitek imajinasi baru global. Ia membawa diplomasi berjalan di antara realitas dan imajinasi. Ia menjadikan diplomasi sebagai karya seni yang bekerja melalui wacana, simbol, solidaritas, persahabatan, harapan, dan imajinasi kolektif. Ia membangun tata pergaulan internasional berbasis nilai-nilai luhur, solidaritas, dan martabat kemanusiaan.
Persahabatan yang hangat dan erat dengan pemimpin negara-negara di dunia menambah citra dan kharisma sang proklamator Republik dan jaringan diplomasi yang konstruktif bagi bangsa Indonesia. Seperti persaudaraannya dengan Gamal Abdel Nasser pemimpin Mesir yang diikat semangat perlawanan terhadap kolonialisme.
Habib Bourguiba bapak bangsa Tunisia yang yang menyebut Soekarno menginspirasi perjuangan rakyat Tunisia. Kwame Nkrumah Pemimpin Ghana menyebut Soekarno sebagai guru revolusi. Leopold Sedar Senghor Presiden Senegal memanggilnya penyair politik dan posisi Indonesia dianggap sebagai kakak tertua dalam perjuangan pembebasan oleh negara Afrika.
Kemudian, keakrabannya dengan Nikita Khruschchev pemimpin Uni Soviet yang memandang Soekarno sebagai pemimpin dunia ketiga. Jawaharlal Nehru pemimpin India menyebut hubungannya dengan Soekarno sebagai persaudaraan yang dirangkai lewat kesamaan ide dan value. Relasinya dengan Tiongkok bersama Mao Zedong dan Zhou Enlai yang saling menghormati. Diplomasi cerutu dengan Kuba bersama Fidel Castro.
Persahabatan Soekarno dengan para pemimpin dunia itu kini menjadi modal besar diplomasi internasional Indonesia dengan kedekatan emosional dan historis. Surplus nilai ini menjadi modal yang dapat dioptimalkan untuk memperkuat Indonesia di panggung global.
Dari Konferensi Asia-Afrika, Gerakan Non-Blok, pidato yang dianugerahi Warisan Arsip Dunia UNESCO, hingga metadiplomasi adalah jejak panjang seorang lelaki yang percaya bahwa masa depan harus diperjuangkan dengan keberanian bermimpi dan kekuatan imajinasi.
Pada sejarah Indonesia, Soekarno bukan hanya proklamator, Ia adalah pemimpin paling kharismatik yang pernah dimiliki Indonesia dan arsitek imajinasi global bangsa ini. Soekarno mewariskan kepada bangsa Indonesia pusaka diplomasi internasional dan visi global yang menjulang.
Kakek itu menutup buku. Anak kecil itu menatapnya, penuh tanda tanya. “Apa pelajaran terbesarnya?” tanyanya dengan nada lirih tetapi jernih.
Kakek itu menjawab pelan, seperti membacakan mantra yang hendak diwariskan: Soekarno mengajarkan satu hal yang terlupakan: bahwa diplomasi bukan hanya buku tebal, meja panjang, dan senyum yang sudah dilatih.
Diplomasi adalah cara suatu bangsa mendefinisikan dirinya sendiri. Jika kita melihat diri kerdil, maka dunia akan memandang kita sebagai bayangan. Jika kita melihat diri besar, maka dunia akan belajar mengeja nama kita.
"Bermimpilah setinggi langit," ucap Bung Karno nyaris puitis, sepenuhnya menggetarkan. "Karena jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."
Bagi Bung Karno, kemerdekaan dibangun dengan imajinasi dan keberanian bermimpi. Ia melihat Indonesia sebagai tanah dengan keanekaragaman hayati dan sosio-kulutral yang tak tertandingi; Sebuah mercusuar nilai-nilai luhur dan sumber inovasi.
Soekarno membangun Indonesia sebagai imagined power di panggung dunia. Indonesia yang lahir sebagai kekuatan dari gagasan, cita-cita mulia, dan kemampuan menginspirasi. Dalam kamus Soekarno, Indonesia bukan pengikut arus sejarah, melainkan obor yang menerangi arah sejarah bangsa-bangsa di dunia.(*)

.png)




LEAVE A REPLY