Oleh: Debi Primanda
FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta
BULAN - Ramadhan yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia kini telah usai. Bulan yang bukan hanya tentang menahan rasa lapar, dahaga, hawa nafsu, tetapi juga bulan perjuangan bagi umat Islam. Perjuangan dalam pengembalian kehidupan Islam yang sejati, sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah.
Pada faktanya, kesadaran umat Islam dalam mengartikan Ramadhan sebagai bulan perjuangan belum sampai pada kesadaran dalam memperjuangan Ideologi Islam. Perjuangan umat yang dominan bersifat praktis, yakni hanya fokus pada aspek ibadah individu saja, tanpa memperhatikan aspek sosial, politik, ekonomi, dan pendidikan. Padahal, Islam adalah agama yang sangat menyeluruh atau komprehensif, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik dunia maupun akhirat.
Di sisi lain Idul Fitri telah datang. Suasana penuh harapan akan kemenangan dan kegembiraan sebab telah menjalan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Namun demikian, kemenangan itu bukan hanya terbatas dalam menahan lapar dan haus saja. Kemenangan hakiki adalah saat kita mampu bersatu dan meraih mahkota takwa.
Sayangnya, di tengah momentum Ramadhan dan Idul Fitri ini, umat masih diselimuti ruang gelap peradaban kapitalisme-sekularisme. Bulan-bulan yang penuh berkah ini harus beradu dengan persoalan-persoalan yang pelik. Genosida atas penduduk Gaza masih terus berlangsung. Zionis penjajah makin meningkatkan berbagai bentuk kekerasan terhadap rakyat Gaza. Di sisi lain, sebagian penguasa Muslim dan Arab justru memilih berdamai dan menormalisasi hubungan dengan Zionis melalui Board of Peace (BoP) yang diketuai oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Dunia Islam hari ini berada pada perpecahan sekaligus kegelapan akibat hegemoni Barat dan AS melalui imperialisme gaya baru. Terlebih lagi, negara-negara muslim yang memiliki sumberdaya justru dikungkung oleh kepentingan asing melalui intervensi politik oleh AS-Zionis, ketergantungan ekonomi melalui hutang-hutang ribawi dari lembaga keuangan internasional seperti IMF dan World Bank, dan pelemahan militer dengan cara terus bergantung pada senjata buatan barat.
Posisi politik umat Islam saat ini terus dalam keadaan lemah, padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberikan predikat kepada umat Islam, yakni sebaik-baiknya umat (Khairu Ummah). Umat Islam memiliki jumlah sumber daya manusia yang banyak, sumber daya alam di negeri-negeri muslim melimpah, dan posisi geopolitik dan geostrategis yang krusial. Namun, seluruh potensi ini belum bisa dimanfaatkan dengan baik sebab kurangnya kesadaran Ideologi dan partai politik Islam yang shahih (benar).
Upaya pengembalian kehidupan Islam bukan hanya perjuangan individu. Akan tetapi, memerlukan persatuan umat dan partai politik Islam ideologis yang shahih untuk menjadi wadah perjuangan umat Islam. Prioritas dakwah harus difokuskan pada membangun kesadaran politik ideologi umat dengan Islam kaffah. Umat Islam harus memahami bahwa Islam merupakan agama yang menyeluruh, mengatur kehidupan manusia, termasuk aspek politik, ekonomi, dan sosial.
Urgensi membangun kesadaran umat akan kebutuhan adanya persatuan hakiki harus di bawah institusi Daulah Islam sebab hanya dalam institusi inilah umat Islam bisa benar-benar memperjuangkan Izzul Islam wal Muslimin. Umat ini harus memahami bahwa persatuan umat adalah kunci kekuatan dan bahwa Khilafah Islamiyyah adalah institusi yang dapat mewujudkan persatuan dan kekuatan umat Islam.
Ramadhan dan Idul Fitri ini semestinya menjadi titik awal untuk mengkonsolidasi dan memobilisasi kesatuan umat Islam. Umat harus memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan ketakwaan dan kesadaran ideologi Islam, memperkuat perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam, dan membangun persatuan yang sebenar-benarnya melalui Daulah Islam. Dengan demikian, umat Islam akan mencapai kemenangan dan kesatuan yang hakiki In syaaAllah. Wallahu ‘a'lam (*)






LEAVE A REPLY