Home Opini Palanta Lengkong (2)

Palanta Lengkong (2)

Teks: Ismail Lutan. Karikatur: Munadi

547
0
SHARE
Palanta Lengkong (2)

 

MENUNGGU UCAPAN DUKA

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang hingga kini belum menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Menurut Dino, penyampaian belasungkawa merupakan praktik diplomatik yang lazim dilakukan ketika pemimpin negara sahabat meninggal dunia.

“Sayangnya, ketika Ayatollah Khamenei dll tewas terbunuh, Pemerintah Indonesia tidak menyatakan ucapan belasungkawa, sebagaimana lazimnya kalau pemimpin negara sahabat Indonesia meninggal,” kata Dino melalui media sosial X-nya, @dinopattidjalal yang ditulis Rabu (4/3/2026).

Ia mempertanyakan apakah sikap tersebut terjadi karena kelalaian atau merupakan keputusan yang disengaja.

"Kelupaan atau sengaja? Kalau sengaja, yang kita takutkan apa?” ujarnya.

Dino mengingatkan bahwa hubungan Indonesia dan Iran selama ini terjalin baik meskipun kedua negara memiliki sistem politik dan ideologi yang berbeda.

Menurutnya, kedua negara juga memiliki sejarah kerja sama dalam berbagai forum internasional.

“Selama bertahun-tahun, Iran adalah negara sahabat Indonesia. Kita sama-sama anggota Non-Blok, OKI, D8, G77, BRICS. Kita sering beda pandangan dan beda posisi dengan Iran, dan sistem politik serta ideologi masing-masing juga berbeda, namun Indonesia dan Iran tidak pernah cekcok,” jelasnya.

Ia menambahkan, Iran tidak pernah meminta Indonesia untuk memusuhi negara-negara yang menjadi rivalnya.

“Iran punya sejumlah musuh, tapi tidak pernah meminta Indonesia memusuhi musuh-musuhnya. Fokus hubungan bilateral kita adalah kerja sama, persahabatan, dan saling menghormati,” lanjut Dino.

Dalam konteks tersebut, Dino mempertanyakan apakah kebijakan luar negeri Indonesia masih konsisten dengan prinsip politik bebas aktif.

“Apakah yakin kita masih bebas aktif?” ujarnya.

Ia juga menilai sikap Indonesia yang dianggap dingin terhadap kematian pemimpin Iran bisa memengaruhi persepsi Teheran terhadap Jakarta.

Menurut Dino, hal tersebut mungkin menjadi salah satu alasan Menteri Luar Negeri Iran menolak secara halus tawaran Indonesia untuk menjadi mediator konflik.

“Karena merasakan sikap dingin kita terhadap kematian pemimpinnya, tidak heran Menlu Iran menolak dengan halus tawaran mediasi Indonesia. Mungkin mereka menyangsikan motivasi Indonesia,” katanya.

Dino menilai situasi tersebut menjadi bahan refleksi bagi diplomasi Indonesia dalam menjaga hubungan dengan negara sahabat sekaligus mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif.***