Home Opini Modernitas Teknologi Militer AS-Israel Vis a Vis Mentalitas Iran

Modernitas Teknologi Militer AS-Israel Vis a Vis Mentalitas Iran

510
0
SHARE
Modernitas Teknologi Militer AS-Israel Vis a Vis Mentalitas Iran

Oleh: Boy Anugerah
Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional dan ESDM DPR RI/Analis Kerja Sama Luar Negeri Lemhannas RI 2015-2017/Founder Senayan Geopolitical Forum (SGF)

SALAH - Satu kelemahan Amerika Serikat (AS) sebagai sebuah negara adalah pola pikir (mindset) dan pola budaya (cultureset) yang terlalu menuhankan rasionalitas dan modernitas. Dengan berpijak pada rasionalitas dan modernitas sebagai Tuhan, para pemikir dan intelektual AS memacu pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi sekencang-kencangnya, termasuk dalam pembangunan industri pertahanan negara. Asumsi yang dipakai; semakin canggih tekonologi pertahanan negara, maka semakin mudah bagi bangsa AS untuk menguasai dunia, menghancurkan pihak-pihak yang tidak segaris dalam hal pemahaman, dan menjadi pemimpin global.

Ambisi besar bangsa AS

Aktualisasi ambisi besar bangsa AS sejatinya terpancar dalam banyak hal. Jika kita cermati film-film aksi Holywood seperti Atlas (2024), The Old Guard (2020 & 2025), serta War Machine (2026), sangat jelas tergambar intensi AS untuk mendudukkan dirinya sebagai negara dengan kekuatan pertahanan negara paling kuat di dunia. Dalam imajinasi dan aksentuasi empirik bangsa AS, musuh mereka bukan lagi entitas bernama negara atau kelompok-kelompok teroris dengan kekuatan medioker, tapi entitas dari luar Bumi dengan kapasitas super yang pantas memberikan perimbangan kekuatan bagi mereka. Melalui film-film tersebut, AS hendak menyampaikan satu pesan kepada khalayak global; militer AS tak tertandingi di seantero bumi.

Suara-suara kebatinan bangsa AS yang tercermin dalam produk-produk budaya seperti film tersebut pada akhirnya disampaikan secara lugas oleh Donald Trump yang memegang tampuk kepemimpinan sebagai presiden. Dalam berbagai forum internasional seperti sidang PBB, WEF, dan BoP, Trump dengan lantang menyebut AS sebagai negara dengan militer terkuat di dunia. Tak terbersit sedikitpun di hati Trump bahwa pernyataan tersebut bukan saja merobek perasaan para kepala negara dunia, tapi juga mengancam perdamaian global. Pada akhirnya, rasionalitas dan ambisi besar bangsa AS untuk menundukkan dunia termanifestasi dalam serangan brutal AS ke Iran di penghujung Februari lalu.

Bagi bangsa AS yang menganut aliran republikanisme atau kelompok-kelompok yang menuhankan rasionalitas dan teknologi, apa yang dilakukan oleh AS bersama Israel adalah sesuatu yang spektakuler. Kecerdasan kognitif dan ketangkasan motorik prajurit militer dibalut dengan rasionalitas dan modernitas teknologi militer menjadi senjata pamungkas AS untuk meluluhlantakkan sistem pertahanan negara Iran. Betul bahwa decoy pesawat nirawak AS membuat sistem radar Iran tidak berfungsi. Benar bahwa sistem siber AS yang canggih mampu memetakan secara presisi target-target strategis di Iran. Betul bahwa Khamenei dan para petinggi Iran berkalang tanah diluluhlantak oleh rudal-rudal balistik AS yang mampu menghancurkan bunker lapis baja milik Iran. Tapi apakah itu cukup untuk menjungkalkan Iran sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat?

Rapuhnya rasionalitas dan modernitas

AS dan Israel boleh sementara waktu bertempik sorak. Demikian pula kelompok-kelompok dan komunitas global yang memiliki kebencian terpendam terhadap Iran. Tapi perang yang merangkak secara perlahan memasuki pekan kedua suka tidak suka memberikan kegentaran tersendiri bagi para prajurit AS dan Israel di medan tempur. Militer Iran berlaku cerdik. Kesombongan rasionalitas dan modernitas teknologi militer yang dimiliki keduanya secara perlahan dilucuti dan dirapuhkan oleh mental tempur dan kecerdikan perang khas bangsa Persia. Rudal-rudal THAAD AS yang berharga 20-30 ribu dolarAS per unit yang diproduksi oleh Lockheed Martin dihadapi dengan ratusan drone berbiaya murah milik Iran. Iran juga meluncurkan rudal-rudal balistik teknologi lama residu Perang Teluk tahun 1980-an untuk menghancurkan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Fragmen jual beli serangan antara AS-Israel dan Iran mendedahkan satu hal; rasionalitas dan modernitas AS yang termanifestasi dalam bentuk sistem persenjataan ditelanjangi secara bulat oleh Iran yang menerapkan taktik cerdik peperangan. Iran menolak negosiasi dan mediasi yang dilakukan oleh pihak luar karena sangat yakin akan menumbangkan AS jika perang berlangsung secara berlarut. AS terjebak pada skema “bakar dolar” dan penumbalan para prajurit militernya apabila terus bersikukuh menyerang Iran. Di saat AS mulai kehabisan amunisi perang, menarik mundur kapal induk yang dihujani oleh serangan rudal balistik Iran, dan berlaku kalap dengan memaksa sekutu untuk menyediakan pangkalan militernya, Iran mengeluarkan senjata pamungkasnya; senjata-senjata rahasia terbaru untuk memenangkan peperangan.

Rasionalitas dan modernitas persenjataan militer bukanlah kunci utama memenangi peperangan. Kunci utama adalah faktor kepemimpinan dan strategi perang. Suka tidak suka, bangsa AS harus mengakui bahwa Trump hanyalah pebisnis serakah yang mencari celah keuntungan dari jabatan presiden dan moda peperangan. Trump tidak memiliki kapabilitas kepemimpinan politik dan militer yang cakap untuk mengendalikan kekuatan global. Hal ini tercermin dari rekasi rakyat AS yang tidak bulat dalam mendukung kebijakan luar negeri Trump. Demikian pula negara-negara sekutu di NATO. Kelemahan dari sisi Trump bertemu dengan kelicikan dan manipulasi bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi melalui American-Israeli Parliamentary Committee (AIPAC) terus mendesak pemerintah AS untuk memutus diplomasi dan menyerang Iran. Ketika dinamika perang yang masuk satu pekan menunjukkan bahwa Iran memiliki daya tahan yang tinggi, Yahudi Israel menempuh sikap licik dengan memprovokasi negara-negara kawasan dan Azerbaijan untuk memusuhi Iran.

Jalan keluar bagi AS

Melihat dinamika perang yang memasuki pekan kedua, AS sebaiknya belajar dari kasus Afghanistan dan Irak. Di kedua palagan tersebut, AS kalah total. Menyerang dengan klaim sepihak dan manipulasi global, membakar miliaran dolar AS untuk hasil yang sia-sia, serta menumbalkan nyawa para prajurit yang tidak berdosa. Butuh lebih dari dua dekade bagi AS untuk menyadari kesalahan kalkulasinya sebelum menarik mundur secara total pasukannya pada 2024. Iran jauh lebih kuat dibandingkan dengan Afghanistan dan Irak. Iran memiliki sistem persenjataan militer yang lebih kuat, soliditas internal kebangsaan, pengalaman bertempur sebagai sebuah bangsa, dan keunggulan komparatif dalam hal penguasaan energi yang dapat memaksa negara-negara lain untuk mendesak AS menghentikan serangannya. Keunggulan-keunggulan tersebut lebih dari cukup untuk menumbangkan kesombongan rasionalitas dan modernitas sistem persenjataan militer AS.

Rakyat domestik AS harus lebih persisten dalam menekan Trump untuk menarik mundur pasukan dan gugus tempurnya dari Timur Tengah. Skenario perang darat yang diproyeksikan untuk menundukkan Iran di pekan kedua peperangan berpotensi mendatangkan risiko perang yang lebih buruk di sisi AS. Pada akhirnya, rakyat AS harus mengakui bahwa AS di bawah kepemimpinan Trump tidak lebih dari sebuah bangsa yang tidak taat konstitusi, tak solid dalam kebijakan luar negeri, melanggar hukum perang, dan terjebak pada pola pikir yang menuhankan rasionalitas dan modernitas tanpa berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian global. Kebesaran sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa kuat dan canggihnya sistem persenjataan militer yang dimiliki, tapi bagaimana negara tersebut meletakkan perdamaian global sebagai tujuan yang harus dicapai secara kolektif oleh semua bangsa dan negara di dunia. (*)