Oleh: Malika Dwi Ana
Penulis, Editor & Pengamat Sosial Politik
DALAM - Arena geopolitik global, minyak bukan sekadar bahan bakar, bukan komoditas biasa—ia adalah senjata utama kekuasaan, nadi kehidupan kekuasaan global. Siapa yang menguasai minyak, dialah yang menguasai harga energi, inflasi, militer, dan nasib miliaran manusia. Pernyataan Saddam Hussein bukan sekadar omong kosong: "Jika ingin menguasai dunia, kuasailah minyak." Ia tahu betul—dan ia menjadi korban dari pola keji itu. Kutipan Saddam (CNN 2002, Tony Benn 2003) bukan konspirasi, melainkan ramalan akurat tentang bagaimana AS dan sekutunya berulang kali hancurkan negara petro-state demi monopoli "emas hitam" ini.
Lihat pola brutalnya:
- Iran 1953: CIA gulingkan Mossadegh karena nasionalisasi minyak—kembalikan kontrol ke Anglo-Iranian Oil (sekarang BP). Akibatnya Shah jadi boneka AS selama 26 tahun.
- Irak 1990–2003: Saddam rebut Kuwait untuk kuasai cadangan raksasa → AS hancurkan Irak dengan dalih WMD, tapi intinya rebut minyak Teluk. Saddam sendiri bilang: "Squash Iraq, control Middle East oil, fix the price as you like." Dan itulah yang terjadi.
- Libya 2011: Gaddafi ancam mata uang dinar emas untuk minyak Afrika → NATO nge-bom, negara hancur, minyak jatuh ke tangan Barat.
- Venezuela 2019–2026: Maduro tolak dominasi AS → berujung sanksi ekonomi, dukung Guaidó, akhirnya menangkap Maduro langsung. Berakibat cadangan 303 miliar barel (terbesar dunia) kini terbuka lebar untuk Exxon, Chevron, dll. Trump bilang terang-terangan: "We will run Venezuela, sell the oil, put money in accounts we control." Ini bukan demokrasi—melainkan perampokan bersenjata.
Dan sekarang Iran 2026: Serangan gabungan AS-Israel 28 Februari bukan soal nuklir—itu perebutan Selat Hormuz, jalur 20–30% minyak dan LNG dunia. Kematian Khamenei jadi bonus propaganda, tapi target utama adalah melemahkan Iran agar tak bisa tutup selat, mengamankan pasokan murah untuk AS dan sekutu. AS untung dari harga tinggi sebagai eksportir neto, sementara negara importir seperti Indonesia, China, India menderita inflasi gila-gilaan. Ini pola klasik follow the oil : bungkus agresi dengan dalih mulia, pemimpin otoriter kek, narkoba kek, teroris kek, punya nuklir kek...tapi yang diincar AS selalu soal minyak.
Indonesia: Korban yang Tak Kunjung Sadar
Lihat di rumah kita: Blok Rokan di Riau (Dumai sebagai pusat refinery), Duri pernah menjadi "tanah air baru Amerika" selama 97 tahun di bawah Caltex/Chevron. Agung Marsudi dalam bukunya "Duri: Tanah Air Baru Amerika" (2010) sudah keras mengingatkan:
> "Duri bukan lagi tanah air Indonesia, melainkan tanah air baru Amerika. Perusahaan punya aturan sendiri, keamanan privat, dan pengaruh besar atas ekonomi serta pemerintahan lokal."
Cadangan recoverable 1–2,5 miliar barel, heavy oil mirip Venezuela—tapi kita biarkan asing menguasai selama puluhan tahun. Limbah pencemaran sumur warga, bioremediasi kontroversial, fasilitas mewah ekspatriat sementara rakyat lokal terpinggirkan. Setelah alih kelola ke Pertamina 2021, Chevron masih ingin kembali—bukti pola tak pernah berubah.
Maka, Bangkit atau Jadi Budak Imperialis Selamanya!
Minyak = kekuasaan dunia bukan mitos—ia racun imperialisme yang menciptakan perang, kudeta, sanksi, dan penderitaan. Dari Saddam hingga Maduro, dari Mossadegh hingga Khamenei, negara kaya minyak dan SDA akan selalu jadi sasaran: digulingkan, disanksi, atau diinvasi demi harga murah dan pasokan aman bagi Barat. AS TAK PERNAH PEDULI DEMOKRASI—AS HANYA PEDULI KONTROL HARGA dan ALUR.
Bagi Indonesia: Jangan biarkan Duri jadi Venezuela berikutnya! Blok Rokan harus 100% kedaulatan nasional—bukan kontrak predatory Exxon hingga 2055. Percepat transisi energi terbarukan, tolak hegemoni yang haus darah hitam. Jika diam, kita bukan sekadar korban—kita jadi kaki tangan perampok global. Bangkit sekarang, atau sejarah akan mencatat kita sebagai generasi yang menyerah pada tirani minyak!
Follow the oil? Ya—dan saatnya kini kita follow the sovereignty sebelum terlambat.
Jawa Timur, 02 Maret 2026






LEAVE A REPLY