Oleh : Salma Rohimah
Mahasiswi & Aktivis Muslimah
Fenomena Brain Rot Generasi Muda
Belakangan ini muncul riset yang menunjukkan penurunan kemampuan berpikir kritis dan fungsi kognitif generasi muda, terkhusus Gen Z. Suatu fenomena yang dikenal dengan istilah brain rot. Fenomena ini merupakan gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan sulit fokus, konsentrasi, berpikir kritis, hingga masalah pengendalian diri.
Fenomena ini banyak dialami oleh generasi muda akibat pola konsumsi konten digital berlebih. Konten-konten receh, cepat, dan dangkal, menjadi pemicu kecanduan konsumen yang menjadi sebab malas berpikir mendalam.
Konsumsi konten digital berlebih memicu algoritma yang terus-menerus berputar. Jika tidak dikendalikan akan memicu perilaku konsumtif. Dan jika dibiarkan akan berakibat fatal pada perkembangan fungsi otak. Akibatnya, generasi muda yang perannya sebagai pelopor perubahan dan penerus peradaban menjadi terhambat disebabkan algoritma digital yang tak terkendali sehingga memicu kedangkalan berpikir.
Algoritma Digital Sistem Kapitalisme Sekuler
Kedangkalan berpikir generasi muda telah menjadi desain algoritma digital di bawah payung sistem kapitalisme sekuler. Keduanya menciptakan habitat yang memuja kecepatan di atas kebenaran, dan hiburan di atas tsaqafah Islam. Tidaklah dipungkiri sistem ini sesungguhnya tengah mencegah generasi muda dari perannya sebagai pelopor perubahan dan penerus peradaban.
Paparan konten digital yang terus berputar tanpa kendali lambat laun mengikis peran serta karakter generasi muda. Akibatnya, mereka hanya akan menjadi “objek” pasar, bukan “subjek” peradaban. Upaya mengatasi fenomena brain rot ini diperlukan keberanian untuk berhenti sejenak dari arus viralitas demi merekonstruksi tsaqafah.
Generasi Muda Sebagai Subjek Peradaban
Islam tidak menolak teknologi, namun Islam mengatur pengendaliannya dengan syariat. Syariat Islam menjadi pedoman seluruh manusia dalam mengendalikan pesatnya arus teknologi. Memberikan batasan terhadap konten negatif dan menjadikan teknologi sebagai sarana perluasan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Maka, generasi muda haruslah mampu mengendalikan perangkat digitalnya untuk kepentingan Islam dan umatnya, bukan justru dikendalikan olehnya. Islam telah mengajarkan pentingnya tabayyun (memeriksa kebenaran informasi) dan mujahadah al-nafs (pengendalian diri) untuk menjaga keharmonisan umatnya dan mencegah dari kerusakan.
Untuk mewujudkannya dibutuhkan upaya pembinaan literasi ideologis yang dilakukan secara sistematis; di keluarga, sekolah, masyarakat, dan akan jauh lebih efektif melalui negara dengan seperangkat aturan dan kekuasaan yang dimilikinya. Pembinaan ini dilakukan oleh partai politik Islam ideologis. Karena Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan secara komprehensif. Sehingga tidak cukup dengan kebangkitan berpikir saja tanpa mengambil ide yang shahih berlandaskan al-Qur’an dan al-Sunnah. Dengan demikian, keharmonisan umat akan terwujud dan kerusakan yang terjadi akan dibenahi. (*)





LEAVE A REPLY