Home Opini Ketika Pekerjaan Tidak Dibutuhkan dan Uang Tidak Berarti Lagi

Ketika Pekerjaan Tidak Dibutuhkan dan Uang Tidak Berarti Lagi

308
0
SHARE
Ketika Pekerjaan Tidak Dibutuhkan dan Uang Tidak Berarti Lagi

Oleh: Mugi Muryadi
Penulis adalah wisaswastawan, pegiat literasi, pemerhati sosial, lingkungan, dan pendidikan. 

Di forum U.S.–Saudi Investment Forum di Washington D.C., Elon Musk menyatakan bahwa dalam 10–20 tahun ke depan, pekerjaan mungkin menjadi “opsional” dan uang bisa menjadi konsep usang. Musk berargumen, jutaan robot humanoid dan sistem kecerdasan buatan (AI) akan menghasilkan produktivitas tak terbatas. Dalam skenario itu, manusia bisa bekerja hanya untuk kesenangan, misalnya menanam sayuran di pekarangan meski bisa membeli di toko (finance.yahoo.com, 21/11/2025). 

Fenomena ini mengundang kegelisahan sekaligus harapan. Lalu, jika pekerjaan tidak lagi diperlukan, apa peran manusia dalam perekonomian dan masyarakat? Bagaimana kita menyikapi transisi besar ini? Musk bahkan membayangkan dunia seperti dalam Culture Series karya Iain Banks, sebuah masyarakat “post-scarcity” yang mana uang dan pekerjaan formal tak lagi menjadi pusat kehidupan. 

Masalahnya adalah ketidaksiapan regulasi dan struktur sosial terhadap transformasi teknologi. Saat ini, AI berlari lebih cepat daripada kebijakan negara. Pekerjaan yang diotomatisasi dulu adalah yang bersifat rutin, tetapi kini AI sudah merambah ranah kreatif dan strategis. Musk menyampaikan ini sebagai respons atas laporan The New York Times bahwa Amazon berencana menggantikan 600.000 karyawannya dengan otomatisasi. 


Secara konseptual, pandangan Musk masuk ke dalam gagasan masyarakat tanpa pekerjaan (post-work society). Dalam teori futurologi, ini adalah gambaran masyarakat ketika pekerjaan tradisional menjadi usang karena otomatisasi komputer dan robot menyingkirkan tugas manusia. Namun, ekonom telah lama memperingatkan risiko besar dari skenario seperti ini. Contohnya, konsep Turing Trap dari Erik Brynjolfsson menyoroti bahaya jika kita hanya berfokus pada AI yang meniru manusia alih-alih memperkuat kita, ke depannya bisa mengarah pada stagnasi ekonomi. 

Tidak semua pakar menyetujui ramalan Musk. Profesor Hiroshi Ishiguro, pakar robotika, memandang bahwa manusia dan robot akan hidup berdampingan harmonis bukan saling menggantikan. Begitu pula Rodney Brooks, ilmuwan robot lain, menilai bahwa robot memang akan meringankan beban pekerjaan manusia, bukan menghapus keberadaan manusia sepenuhnya dalam dunia kerja. 

Fakta di lapangan menunjukkan peningkatan cepat robot humanoid. Menurut Business Lounge, robot seperti “Digit” milik Agility Robotics bisa menangani tugas gudang dengan adaptasi sangat baik. Sementara itu, penelitian dari tim Universitas Edinburgh berhasil membuat robot AI yang bisa membuat kopi di dapur sibuk, menandai bahwa robot generasi baru mampu berinteraksi dalam lingkungan dinamis layaknya manusia (Kompas, 24/3/2025). 


Ekonom Katya Klinova dan Anton Korinek memperingatkan agar manfaat AI dibagi secara adil. Dalam tulisan AI and Shared Prosperity, mereka mengusulkan kerangka kebijakan agar keuntungan dari otomatisasi tidak hanya menumpuk pada pemodal, melainkan dinikmati bersama. Sementara itu, Pascal Stiefenhofer dalam makalahnya menyatakan bahwa AI dengan produktivitas sangat tinggi bisa menjatuhkan upah pekerja manusia menjadi sangat rendah, sehingga perlu kebijakan seperti Universal Basic Income (UBI) atau pajak atas kepemilikan AI agar perekonomian tetap stabil. 

Lalu, apa yang harus dilakukan? Kita perlu merancang ulang kontrak sosial. Di era otomatisasi penuh, negara bisa memperkenalkan UBI atau skema distribusi kekayaan berbasis AI. Ini akan menjaga daya beli masyarakat meski pekerjaan tradisional menghilang.  Pendidikan harus diubah radikal, yaitu kurikulum lebih menekankan kreativitas, kolaborasi manusia–mesin, dan peran etis manusia dalam ekosistem AI. Yuval Rymon, dalam analisanya tentang adaptasi sosial terhadap otomatisasi tenaga kerja, menyarankan intervensi seperti pendidikan ulang besar-besaran dan tuntutan regulasi agar AI tetap “manusia-dalam-lingkar” (human-in-the-loop). 

Pajak robot bisa menjadi sumber pendapatan baru. Di Indonesia dan berbagai negara, ide mengenakan pajak pada robot sudah mulai dibahas. Pajak itu bisa digunakan untuk program kesejahteraan sosial, pelatihan, dan investasi publik. Seperti yang ditulis oleh Christian Tobing dalam analisis di DDTC, robot diperkirakan akan mengambil banyak pekerjaan manusia, sehingga pajak robot bisa menjadi salah satu cara menjaga keseimbangan sosial-ekonomi. 

Kita perlu mendorong pengembangan AI bukan hanya sebagai pengganti manusia, tetapi sebagai penguat kapabilitas manusia. Hindari jatuh ke dalam Turing Trap. Investasikan dalam AI yang memperkuat kreativitas, empati, dan kolaborasi bukan sekadar meniru fungsi manusia. Ini akan menciptakan ekosistem di mana manusia dan mesin saling melengkapi. 

Dialog publik dan regulasi juga diperlukan segera. Pembuat kebijakan, akademisi, perusahaan teknologi, dan masyarakat sipil harus bekerja sama merumuskan kebijakan etis dan inklusif. Kita perlu platform yang transparan untuk merancang masa depan AI. 

Bayangan indah masa depan yang digambarkan Musk memang sangat provokatif. Ia menegaskan bahwa otomatisasi total bukanlah kemungkinan semata, tetapi hanya soal waktu. Jika dikelola dengan bijak, skenario ini bisa membawa manusia ke era kelimpahan berkelanjutan, yang mana pekerjaan menjadi pilihan dan kreativitas menjadi pusat. 

Harapan semacam itu tidak datang tanpa risiko. Ketimpangan kekayaan bisa melebar tajam jika distribusi manfaat AI dibiarkan hanya pada segelintir orang. Masyarakat bisa menghadapi krisis identitas, jika pekerjaan bukan keharusan, apa makna eksistensi manusia? 


Pernyataan Elon Musk membuka diskusi luas tentang masa depan pekerjaan dan nilai uang. Untuk menjadikan bayangan itu sebagai realitas yang adil dan manusiawi, kita butuh kebijakan kreatif, pendidikan transformasional, dan tata kelola teknologi yang bijaksana. Jika berhasil, kita mungkin akan memasuki era ketika manusia benar-benar bebas memilih bekerja karena cinta, bukan karena kebutuhan.(*)