Home Opini Fenomena Kerja Kontrak Seumur Hidup dan Loyalitas Dibayar, Terima Kasih

Fenomena Kerja Kontrak Seumur Hidup dan Loyalitas Dibayar, Terima Kasih

81
0
SHARE
Fenomena Kerja Kontrak Seumur Hidup dan Loyalitas Dibayar, Terima Kasih

Oleh: Mugi Muryadi
Penulis adalah wisaswastawan, pegiat literasi, pemerhati sosial, lingkungan, dan pendidikan

Di Indonesia hari ini, ada dua jenis manusia paling setia: emak-emak penjual gorengan dan karyawan kontrak. Bedanya, gorengan kalau tidak laku masih bisa dimakan sendiri. Sementara loyalitas karyawan modern sering kali hanya berakhir menjadi kalimat sakti HRD: “Terima kasih atas kontribusinya selama ini.” Kalimat yang terdengar sopan, tetapi efeknya mirip putus cinta lewat chat pukul 23.47. Tragis, dingin, dan bikin ingin memandangi langit sambil membuka aplikasi lowongan kerja. Ironinya, semua itu terjadi di tengah seminar motivasi perusahaan yang setiap bulan berteriak soal “keluarga besar perusahaan”. Lucu memang. Di republik ini, hubungan paling toksik justru sering dibungkus kata “keluarga”.

Generasi muda Indonesia akhirnya sadar bahwa kantor bukan rumah kedua. Sebab kalau kantor benar-benar rumah, mustahil orang harus meminta izin tiga hari hanya untuk menemani ibunya operasi. Kantor modern lebih mirip tempat penitipan ambisi korporasi. Semua orang dipaksa tersenyum dalam rapat Zoom sambil pura-pura bahagia melihat grafik produktivitas naik 0,8 persen. Di balik itu, banyak pekerja muda mulai bertanya diam-diam: “Kalau hidup cuma buat mengejar KPI, kapan sempat jadi manusia?” Pertanyaan itu muncul bukan karena generasi sekarang manja, tetapi karena mereka menyaksikan sendiri generasi sebelumnya bekerja mati-matian lalu pensiun dengan kolesterol, cicilan, dan asam lambung kronis.

Dulu orang tua sering berkata, “Kerja yang rajin nanti hidup aman.” Kalimat itu sekarang terdengar seperti dongeng sebelum tidur. Anak muda melihat kenyataan yang lebih brutal: pegawai teladan bisa diputus kontrak lebih cepat daripada hubungan artis TikTok. Dunia kerja fleksibel yang dipuji sebagai simbol kemajuan ternyata sering berarti satu hal sederhana: perusahaan makin fleksibel membuang orang. Dalam logika ekonomi modern, manusia tidak lagi dipandang sebagai subjek, melainkan angka biaya operasional. Selama mesin kopi kantor lebih murah daripada asuransi kesehatan karyawan, jangan heran bila loyalitas mati pelan-pelan.

Fenomena lucu sekaligus menyedihkan mulai terlihat di mana-mana. Banyak anak muda menolak promosi jabatan. Bayangkan betapa absurdnya situasi ini. Dulu orang rela menjilat atasan demi naik posisi. Sekarang sebagian malah berkata, “Naik jabatan? Nanti dulu, saya masih ingin santai.” Jabatan manajerial hari ini sering terasa seperti paket bundling: gaji naik sedikit, stres naik drastis, grup WhatsApp kantor aktif 24 jam. Belum lagi budaya “kalau bisa dikerjakan bawahan, kenapa harus saya? Kalau bisa dilempar ke grup, kenapa harus jelas?” Akhirnya banyak orang muda memilih tetap jadi staf biasa daripada menjadi manajer yang hidupnya habis untuk membalas email dengan nada sopan tetapi hati mendidih.

Kita sedang hidup di zaman ketika kesehatan mental menjadi barang mewah. Ironisnya, perusahaan suka sekali mengadakan seminar mindfulness sambil tetap memberi target yang tidak masuk akal. Ini seperti menyuruh orang meditasi di tengah kebakaran. Banyak kantor memasang slogan “people first”, tetapi praktiknya tetap “profit first, people later kalau sempat”. Bahkan ada perusahaan yang bangga menyediakan ruang yoga, tetapi cuti sakit mental dianggap kurang patriotik. Seolah-olah depresi bisa sembuh hanya dengan kopi gratis dan sesi motivasi Jumat pagi.

Secara sosiologis, situasi ini melahirkan generasi prekariat: kelompok pekerja yang hidup dalam ketidakpastian permanen. Mereka bekerja, tetapi tidak merasa aman. Mereka punya penghasilan, tetapi tidak yakin bulan depan masih digaji atau tidak. Mereka terlihat mapan di Instagram, padahal tabungannya kalah tipis dibanding tisu toilet kantor. Inilah kelas sosial baru yang aneh: berpakaian rapi, membawa laptop mahal, tetapi masa depannya lebih kabur daripada sinyal Wi-Fi di kereta ekonomi. Negara modern ternyata berhasil menciptakan generasi yang produktif sekaligus cemas secara massal.

Dari sisi politik, keadaan ini sebenarnya menguntungkan banyak pihak. Pekerja yang takut kehilangan pekerjaan biasanya tidak sempat berpikir kritis. Mereka terlalu sibuk mengejar target untuk mempertanyakan mengapa biaya hidup naik lebih cepat daripada gaji. Demokrasi akhirnya berubah menjadi rutinitas lima tahunan, sementara keseharian rakyat diisi ritual abadi bernama “meeting mendadak”. Dalam masyarakat seperti ini, kerja bukan lagi sarana mencapai kesejahteraan, tetapi alat pengendalian sosial. Orang yang lelah terus-menerus cenderung tidak punya energi untuk melawan. Setelah bekerja 10 jam, siapa yang masih kuat membaca kebijakan publik selain mahasiswa yang baru putus cinta?

Dari sudut hukum, problemnya lebih rumit lagi. Regulasi ketenagakerjaan sering dipresentasikan sebagai jalan tengah antara investasi dan perlindungan pekerja. Namun di lapangan, “jalan tengah” itu kadang terasa seperti jalan tol khusus pemilik modal. Fleksibilitas kerja dipuji sebagai efisiensi ekonomi, padahal bagi pekerja artinya hidup dalam mode siaga setiap saat. Kontrak diperpanjang sedikit demi sedikit seperti hubungan tanpa status. Tidak dipecat, tetapi juga tidak benar-benar dipertahankan. Banyak pekerja akhirnya hidup dengan kecemasan administratif: takut evaluasi buruk, takut kontrak habis, takut HRD mengirim email mendadak berjudul “undangan pertemuan”.

Filsafat modern sebenarnya sudah lama memperingatkan kondisi ini. Manusia yang terus bekerja tanpa makna akan berubah menjadi mesin biologis. Ia bangun pagi, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulanginya lagi sampai lupa kapan terakhir merasa hidup. Inilah tragedi masyarakat modern: teknologi berkembang pesat, tetapi manusia makin sulit menikmati sore hari tanpa rasa bersalah. Bahkan liburan pun sekarang harus produktif. Orang pergi ke pantai bukan untuk tenang, melainkan untuk membuat konten “healing tipis-tipis”. Kapitalisme digital berhasil menjadikan istirahat sebagai bagian dari performa sosial.

Yang paling lucu, banyak perusahaan masih bingung mengapa loyalitas anak muda rendah. Mereka lupa bahwa loyalitas bukan mantra spiritual. Loyalitas lahir dari rasa aman dan penghargaan. Mustahil meminta orang mencintai perusahaan yang memperlakukannya seperti flashdisk: dipakai saat perlu, disimpan saat tidak berguna. Anak muda hari ini bukan anti kerja keras. Mereka hanya mulai sadar bahwa mati demi perusahaan bukan kategori cita-cita. Mereka ingin bekerja tanpa kehilangan hidup. Sebuah tuntutan yang terdengar sederhana, tetapi di banyak kantor justru dianggap radikal.

Di tengah semua kekacauan ini, muncul budaya baru: quiet quitting, conscious unbossing, hingga job hugging. Istilahnya keren-keren, tetapi intinya sama: manusia modern sedang lelah. Mereka tetap bekerja, tetapi emosinya sudah resign lebih dulu. Banyak pekerja hadir di kantor seperti NPC dalam permainan video: bergerak otomatis, tersenyum seperlunya, lalu pulang tanpa jiwa. Bahkan obrolan makan siang kini lebih banyak berisi strategi kabur daripada strategi berkembang. “Lu ada info lowongan nggak?” telah menjadi salam persahabatan kelas pekerja urban.

Akhirnya kita harus jujur mengakui satu hal pahit: Indonesia sedang membangun ekonomi modern dengan kesehatan mental ala gladiator. Semua orang diminta kuat, tahan banting, multitasking, adaptif, fleksibel, inovatif, kreatif, dan tetap tersenyum saat THR terlambat. Negara memuji produktivitas, perusahaan memuja efisiensi, media sosial memuja hustle culture, lalu heran ketika generasi muda mengalami burnout massal.

Padahal manusia bukan baterai ponsel yang bisa diisi ulang hanya dengan “semangat ya kak”. Jika dunia kerja terus bergerak tanpa belas kasih, mungkin kelak cita-cita paling realistis anak muda Indonesia bukan lagi menjadi direktur, melainkan sekadar punya hidup yang tidak terasa seperti hukuman administratif berkepanjangan. (*)