Home Hukrim Rusmanto Melawan PT Semen Bosowa: Ibarat Semut Lawan Gajah

Rusmanto Melawan PT Semen Bosowa: Ibarat Semut Lawan Gajah

Dalam kasus tanah seluas 5,2 ha di Barru, Sulsel

1,204
0
SHARE
Rusmanto Melawan PT Semen Bosowa: Ibarat Semut Lawan Gajah

Keterangan Gambar : Ir. H. Rusmanto Mansyur Effendy (foto aboe)

Rusmanto Melawan PT Semen Bosowa: Ibarat Semut Lawan Gajah

Dalam kasus tanah seluas 5,2 ha di Barru, Sulsel

Jakarta, parahyangan-post.com-Ibarat Semut melawan Gajah! Demikian kira-kira gambaran yang dihadapi Ir. H. Rusmanto Manysur Effendy saat ini. Dia benar-benar berada dalam posisi terjepit. Karena yang dilawannya bukan sembarangan. Melainkan sebuah corporat raksasa. Yakni PT. Semen Bosowa, Maros Sulawesi Selatan.

Perseteruan Rusmanto dengan perusahaan tersebut mengenai soal kepemilikan lahan seluas 5,2 ha, di Desa Siawung, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Tanah tersebut dibeli Rusmanto dari Hj. Siti Aminah dan mendapatan sertifikat hak milik atas namanya, dari BPN Kabupaten Barru dengan nomor (SHM001), pada tahun 2007. Rusmanto pun mengagunkan sertifikatnya ke BNI untuk mendapatkan kredit.

Belakangan  Hj. Aminah bersengketa dengan ahli warisnya yang lain, yakni Hj. Rosma. Lahan yang dibeli Ruswanto  termasuk obyek  yang disengketakan. Hj. Rosma dinyatakan menang. Kemudian dia menjual lahan tersebut kepada PT. Semen Bosowa.

PT. Semen Bosowa, tanpa sepengetahuan Rusmanto,  kemudian melakukan aktivitas di tanahnya itu. Rusmanto tentu saja  memprotes dan melakukan upaya hukum. Dia kemudian membawa ke pengadilan. Di Pengadilan Negeri Barru, Rusmanto dinyatakan menang. Tanah seluas 5,2 ha itu sah menjadi miliknya.

Namun  PT Bosowa melakukan banding ke Pengadilan Tinggi Makasar. Di sini PT. Bosowa dinyatakan menang. Ruswanto kalah. Putusan Pengadilan Tinggi Makassar itu ke luar tanggal 26 Januari 2022.

Aneh, menurut Rusmanto, putusan Pengadilan Tinggi Makasar itu keluarnya sangat cepat. Hanya dalam tempo dua bulan. Padahal lazimnya, paling cepat putusan perkara semacam itu ke luarnya empat bulan bahkan sampai bertahun-tahun. Ia menduga di sini ada permainan ala mafia tanah untuk merampok haknya.

Tentu Rusmanto tidak terima.  Dia kemudian  melakukan kakasi ke Mahkamah Agung.Pada tanggal 15 Desember 2022 Mahkamah Agung mengeluarkan putusan yang  menolak kasasi yang diajukannya bersama PT. Bank Nasional Indonesia (BNI) itu. Rusmanto sangat kecewa. Apalagi, menurutnya,  prosedur di luar kelaziman. Karena diluarkan sangat cepat. Padahal di Mahkamah Agung biasanya perkara serupa bisa bertahun-tahun. Rusman menduga di sini ada permainan yang merusak rasa keadilan.

Rusmanto merasa ada yang janggal dengan Keputusan MA yang secepat kilat tersebut. Saat berbincang-bincang dengan parahyangan-post.com di sebuah rumah makan, kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin 6/2, Rusmanto menyatakan keheranannya.

“Masa sertifikat hak milik (SHM) dikalahkan  oleh surat keterangan?  Ini kan tidak masuk akal. Di mana letak keadilan?” keluh Rusmanto.

Dalam gugatan pun, lanjut Rusmanto, tidak pernah dicantumkan no sertifikat SHM 01 yang kini dimilikiya. Gugatan hanya menunjukan batas-batas tanah. Padahal sertifikat itu sudah ada sejak 1995. 

Rusman tidak patah arang. Ia akan terus melawan sampai hak atas tanahnya itu didapatkan kembali.

“Saya akan mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Ini benar-benar tidak adil bagi saya. Mentang-mentang saya orang kecil, tak punya uang, aya tak akan mengalah. Wajib hukumnya  bagi saya untuk mempertahankan hak saya,” tegas Rusmanto.

Bahkan, lanjut Rusmanto, jika masih gagal, dia akan melaporkan masalahnya kepada Presiden Jokowi, karena ia tahu, presiden sangat sensitif mengenai masalah tanah dan hak-hak orang kecil.*** (aboe/pp)