Home Opini REPUBLIK INDONESIA KE DEPAN (11): Saya adalah Taliban...!!

REPUBLIK INDONESIA KE DEPAN (11): Saya adalah Taliban...!!

126
0
SHARE
REPUBLIK INDONESIA KE DEPAN (11): Saya adalah Taliban...!!

Oleh : Sri-Bintang Pamungkas

Saya belum tahu apa dan dari mana asal kata Taliban. Tapi setiap orang pasti tahu apa itu Taliban. Pasti itu terkait dengan Afghanistan. Mereka adalah para Pejuang Rakyat Afghanistan yang selama 20 tahun terakhir ini berjuang dengan senjata melawan pendudukan Amerika Serikat dan Sekutunya dan sekarang berhasil mengusirnya! Memang itu yang menjadi dasar perjuangannya: mengusir segala pendudukan dan.penjajahan asing. Sekalipun, mereka pernah dituduh sebagai Teroris...

Luar biasa! Amerika Serikat, sebuah negara Super Power terusir oleh sebab kalah perang. Ini untuk ke dua kalinya AS terusir. Sebelumnya, AS terusir oleh Tentara Rakyat Vietcong di Vietnam. Tapi Jurubicara Gedung Putih meminta untuk tidak menyamakan Perang Vietnam dengan Perang Afghanistan, tanpa menjelaskan di mana letak bedanya. Padahal keduanya sama: Dominasi Asing harus diusir lewat Perang Kemerdekaan!

Bagi segala orang di Dunia, Tentara Pendudukan Asing manapun akan dikalahkan oleh Tentara Rakyat, dan lalu akan diusirnya. Ini adalah Hukum Alam, yang seharusnya menjadi Hukum  Internasional yang tidak bisa dibantah ataupun boleh dilanggar. Karena itu, segala tentara Asing harus keluar ditarik kembali, atau dikalahkan. Termasuk harus ditarik kembali adalah tentara pendudukan AS di Irak dan di mana-mana di pojok dunia. Apalagi Perang Penjajahan ini "main keroyokan" di antara Tentara-tentara Koalisi Barat. Maka tidak heran kalau di Eropa sendiri muncul Gerakan "Stop Coalition War"!

Tentara Rakyat Afghanistan, apa pun namanya, Taliban atau yang lain, sungguh luar biasa. Mereka berhasil mengusir siapa pun yang berusaha menguasai Afghanistan. Mereka berhasil mengusir Soviet Rusia dalam perang 10 tahun 1979-1989. Sekitar 15 ribu pasukan Rusia terbunuh oleh Tentara Rakyat dengan bantuan Al Qaeda dan Amerika Serikat. Tentu misi AS tidak sama dengan misi Al Qaeda yang membantu Afghanistan mengusir tentara asing.

Afghanistan terbentuk awalnya sebagai sebuah Kerajaan yg dipimpin oleh Rezim "Syah" atau "Khan". Soviet Rusia di jaman Rezim Komunis memang bertujuan melakukan expansi wilayah dengan "mengambil" Afghanistan sebagai Negara Satelitnya. Perubahan konstitusi menjadikan Afghanistan sebagai negara demokratis. Munculah Rezim Taliban yang mengambil alih kekuasaan. Belum lama Rezim Taliban berkuasa, datang Pasukan AS yg menjatuhkan Rezim Taliban pada 2001. Alasan awalnya adalah mencari Osama bin Laden. Tapi menjadi tidak jelas, kenapa AS berubah pikiran dengan menduduki Afghanistan selama 20 tahun, bahkan dengan mengundang pasukan NATO di Eropa, termasuk Tuki. Tentara AS yang tewas sedikitnya 2300 orang selama Perang 20 tahun ini..

Jurubicara AS mengatakan bahwa AS meninggalkan Afghanistan, karena misinya sudah selesai. Misi AS apa di Afghanistan tidak jelas. AS membentuk Pemerintahan Boneka yg katanya dipilih secara demokratis. Tapi apa yang berubah selama 20 tahun pendudukan AS?! Tidak ada! Apakah rakyatnya tambah makmur?! Tidak juga! Apakah Demokrasi Barat berhasil dijalankan, tidak juga!

Tidak kurang dari 50% penduduk Afghanistan hidup di bawah Garis Kemiskinan. Korupsi merajalela, di antara para Pemimpin Boneka.... Pendudukan AS menimbulkan perpecahan di antara masyarakat, antara lain, munculnya Kelompok-kelompok Pengkhianat, serta pro dan kontra Ideologi Barat dan Timur di antara penduduk. Tetapi, pada akhirnya Presiden Boneka Ashraf Gani harus lari pula dari negerinya. Belum diketahui di mana Presiden sebelumnya, Hamid Karsai, berada... kemungkinan sudah punya Istana sendiri di New York atau Arab Saudi.   Mereka yang pernah bekerja sebagai kaki-tangan Asing dan para Pengkhianat pun akan ikut lari ke luar negeri mencari selamat.

Tentara AS dan koalisinya terpaksa lari tetbirit-birit pulang kembali ke negerinya dengan meninggalkan banyak senjata berat yang berguna bagi Angkatan Perang Afghanistan. Rezim Taliban tentu akan segera berbenah intuk mengurus negerinya setelah merdeka dari pendudukan asing. Akan tetapi tidak bisa dihindarkan adanya ratusan ribu orang Afghan yang harus mengungsi dan menyelamatkan diri ke luar Agghanistan menghindari perang dan ketidakjelasan masa depan. 

Sudah sekitar 2 sampai 3 juta orang Afghan mengungsi keluar akibat Perang 20 tahun, termasuk mereka yang mengungsi dan lari sekarang. Mereka menerobos perbatasan untuk masuk ke Pakistan , Turki dan Iran, dan bahkan melanjutkan perjalanan ke Eropa. Banyak di antara orang Afghan yang meminta suaka menjadi Warga Negara AS. Tentu tidak semua dari mereka pengkhianat ataupun tidak cinta kepada Tanah Air Afghanistan, bahkan mereka adalah Duta-duta Allah Swt untuk menyebarkan Islam ke tanah Kafir.

Ribuan penduduk sipil berkumpul di Pelabuhan Udara di Kabul untuk ikut dievakuasi dengan pesawat terbang keluar Afghanistan. Situasi itu dimanfaatkan oleh kelompok partisan Anti Asing, seperti ISIS-K (dari Provinsi Khorasan) dengan meledakkan Bom Bunuh Diri. Ada 175 warga sipil ikut tewas terbunuh bersama 13 tentara AS yang menjadi sasaran kemarin ini. Situasi sungguh kacau di sekitar Bandara Kabul. Kelihatannya Pasukan Keamanan hasil kerjasama AS dan Taliban yang  bertugas dalam operasi evakuasi terbesar dalam sejarah Dunia ini kelihatannya sulit terlaksana tepat waktu, sekalipun Qatar banyak membantu dengan pesawat-pesawat terbang.

Ada 300 ribu tentara AS yang harus dievakuasi dari Afghanistan pulang ke negerinys sebelum batas waktu 31 Agustus 2021 yang ditetapkan sendiri oleh Presiden Joe Biden. Belum terhitung para Anggota Staf Kedutaan-kedutaan Besar. Belum terhitung pula Tentara NATO yang lain, termasuk Inggris, Itali, Jerman, Swis, Swedia, Australia dan lain-lain. Mereka sedang meminta-minta agar diberi waktu lebih lama, karena sulit menepati batas waktu. Sebegitu jauh, baru 100 ribuan tentara AS yang berhasil diterbangkan pulang. 

Soal pendudukan Asing, tentara Asing, khususnya Eropa dan Amerika Serikat tidak hanya terjadi di Afghanistan saja, tapi terjadi di banyak negara, baik secara tetang-terangan seperti di Irak, Suriah dan Libya serta beberapa Negara di Afrika, maupun secara terselubung seperti di Indonesia. Hasil kebijakan Pemerintah Hindia Belanda yang menetapkan orang Belanda dan Bule menjadi penduduk kelas satu, Orang Timur Asing dan Aseng di kelas dua, serta Orang Indonesia Asli sebagai penduduk kelas Kambing, kiranya tetap berlangsung sampai sekarang. Situasi ini sewaktu-waktu bisa meledak menjadi persoalan terkait perubahan kekuasaan.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam rentang waktu 76 tahun kemerdekan, pada hakekatnya Indonesia telah dipimpin oleh beberapa Presiden Boneka yang lebih percaya dan berpihak kepada kebijakan Asing dan Aseng daripada kepada Bangsa dan Rakyatnya sendiri. Rakyat Indonesia, orang Indonesia Asli, atau Pribumi, atau sebutlah Taliban Indonesia, lambat atau cepat akan mengambil alih kekuasaan untuk menjadi Tuan di Negeri Sendiri. Lihatlah gubug-gubug dan rumah-rumah kardus mereka di kolong-kolong jembatan dibanding dengan Istana-istana mereka di Pantai Indah Kapuk...

Tidak bisa lepas dari kenyataan yang kita hadapi sehari-hari, bahwa 90% dari mayoritas Orang Indonesia Asli masih hidup dalam situasi kemiskinan, sedang 90% dari sisa warganegara Indonesia yang minoritas hidup kaya-raya. Dengan kasat mata para Aseng sudah menguasai jutaan hektar tanah dan menjadi tuan-tuan tanah di Negeri ini... Sementara satu keluarga Pribumi untuk bisa hidup layak dalam rumah 100 m2 saja sulit direalisasikan.

Kami para Pribumi Orang Indonesia Asli tidak bisa menerima kenyataan ini. Memang Belanda sudah terusir, tapi cara hidup kapitalistik dan individualistik para Bule yang jauh berbeda dari Falsafah Hidup Pancasila dan Asas Kekeluargaan ini masih membayangi Kedaulatan Republik Indonesia. Bahkan para pemimpin seperti Soehatto dan sesudahnya berpikir seolah-olah kapitalisme dan liberalisme akan membawa kepada Republik Ibdonesia yang Adil dan Makmur.

Orang Indonesia Asli pun tidak menginginkan Kepeminpjnan Nasional dipegang oleh Timur Asing dan Aseng dan siapa pun mereka. Kami akan menjadi Taliban untuk membalikkan keadaan yang tidak merdeka dan tidak adil ini, atau mengusir mereka samasekali. Para Taliban memang Cinta Damai, tapi tentu lebih Cinta Kemerdekasn dan Keadilan. Sebagian dari para Salim, Assegaf, Sinivasan dan lain-lain pasti tahu ini... tapi sebagian dari mereka masih keras kepala....khususnya para Widjaya, Pangestu, Ongko, Salim, Tanoe dan lain-lain. Tentu tidak semua dari mereka punya perasaan sinistik, tidak bersahabat, atau bahkan benci dan merendahkan martabat Pribumi Indonesia Asli, tapi tentu seorang Kwik Kian Gie punya nama harum dan hati Orang Indonesia Asli daripada kebanyakan dari mereka.

Kekalahan AS di Afghanistan harus menjadi pelajaran bagi Rezim Jokowi serta Rezim-rezim sebelum dan sesudahnya, untuk tidak nekat khianat dengan percaya kepada dominasi Cina Komunis, Aseng dan Asing lainnya. Kalau tidak, hal yg sama akan terjadi padanya: Jatuh, Terbunuh atau Lari...

Akhir Agustus 2021
Masih dalam Suasana Kemerdekaan
@SBP