
Keterangan Gambar : Puisi Sapardi Djoko Damono, "Tiga Sajak Pendek" yang digubah menjadi tembang puitik oleh Ananda Sukarlan akan berkumandang di Carnegie Hall (Weill Recital Hall) Selasa 10 Maret 2026, disusul dengan resital (benefit recital) di PianoPiano Theater, 37 West 65th Street, New York, Jumat 13 Maret. (sumber foto : ist/pp)
Sebuah kolaborasi antar bidang seni dapat menembus batas-batas bahasa, budaya dan bangsa.
NEW YORK II Parahyangan Post - Contohnya adalah puisi Sapardi Djoko Damono, "Tiga Sajak Pendek" yang digubah menjadi tembang puitik oleh Ananda Sukarlan akan berkumandang di Carnegie Hall (Weill Recital Hall) Selasa 10 Maret 2026, disusul dengan resital (benefit recital) di PianoPiano Theater, 37 West 65th Street, New York, Jumat 13 Maret. Yang mengumandangkannya adalah seorang remaja putri Indonesia, Beatrice Jean Consolata Gobang, didampingi oleh pianis Indonesia yang sedang meraih gelar Doktor dalam bidang musik di University of Michigan, Ayunia Indri Saputro.
Carnegie Hall merupakan gedung konser kelas dunia yang menjadi tempat pentas berbagai musisi dari berbagai negara. Gedung yang dibangun tahun 1891 telah menjadi situs bersejarah dan salah satu landmark New York City sejak 1967.
Konser di Carnegie Hall ini merupakan buah dari keberhasilan Beatrice menyabet penghargaan pertama kategori vokal klasik, Golden Classical Music Awards International Competition.
Kompetisi musik internasional tersebut diikuti oleh Beatrice bersama peserta internasional dari berbagai negara. Selain menerima plakat penghargaan, para pemenang pertama dan kedua memperoleh kesempatan pentas apreasiasi di Weill Recital Hall, Carnegie Hall NYC.
Ananda Sukarlan dikenal sebagai tokoh tembang puitik Indonesia, dan hingga kini telah menggubah lebih dari 600 nomor dari puisi berbahasa Indonesia, Inggris dan Spanyol. Penyair yang paling banyak digubah olehnya antara lain adalah Emily Dickinson, Walt Whitman, Sapardi Djoko Damono, Nanang Suryadi dan Eka Budianta.
Selain dianugerahi penghargaan sipil tertinggi dari Kerajaan Spanyol “Real Orden de Isabel la Católica”, Ananda Sukarlan juga pernah dianugerahi gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” oleh Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020.
Ia juga seniman Indonesia pertama yang diundang Portugal tepat setelah hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal pada tahun 2000 dan menjadi salah satu dari 32 tokoh dalam buku “Heroes Amongst Us (Pahlawan di Antara Kita)”, tulisan Dr. Amit Nagpal yang diterbitkan Oakbridge Publishing di India. Ananda juga masuk sebagai salah satu dari 100 “Asia’s Most Influential” atau “Orang Asia Paling Berpengaruh” di dunia seni tahun 2020 oleh Majalah Tatler Asia.
Beatrice Jean Consolata Gobang baru saja champion Solo Vocal Competition Age Under 19 category di St Angela International Choir Festival Bandung 14 Februari lalu.
Perjalanan bermusik pelajar SMP Binus Bekasi ini telah dimulai sejak usia dini di bawah lima tahun. Ia pertama kali belajar biola dengan metode Suzuki, yaitu belajar bermusik dengan bahasa ibu. Ia telah menjadi finalis Ananda Sukarlan Award (ASA) 2025, kompetisi musik klasik paling bergengsi di Indonesia. Selain puisi Sapardi Djoko Damono, ia juga telah menyanyikan tembang puitik Ananda Sukarlan dari puisi dari Heru Mugiarso, Muhammad Subhan, Eka Budianta dan Sofyan RH Zaid di berbagai konser dan kompetisi. Di New York City ia juga membawakan lagu Mochtar & Sjafii Embut, serta karya klasik antara lain Alessandro Scarlatti, Hugo Wolff dan Franz Schubert. Ia menimba ilmu vokal dengan Valentina Nova dan sekarang Aning Katamsi, yang juga menjadi pengarah artistik programnya di NYC ini.
Selain vokal, ia belajar instrumen biola dibimbing oleh Giovani Biga, dan piano dibimbing oleh Harimada Kusuma.
Berikut penampilannya di Ananda Sukarlan Award 2025, di mana videonya meraih gelar "Musisi Favorit ASA dengan jumlah view terbanyak
https://youtu.be/CfRi-ObO9GI?si=_QVqdGTbj9DMjXvi
Sang pianis pendamping kelahiran Surabaya, Ayunia Indri Saputro telah menerima Robert Rogers Prize dalam bidang Piano dan Beasiswa Musik Marnie Carter di Universitas British Columbia (UBC), Kanada, tempat ia meraih gelar Sarjana Musik dalam bidang pertunjukan piano, di bawah bimbingan Mark Anderson dan Rena Sharon.
Ayunia telah berpartisipasi dalam berbagai konser dan festival musik seperti Dulwich International Music Academy Festival in 2014 in Beijing dan the Rebecca Penneys Piano Festival in 2022.
Setelah memenangkan juara pertama (berbagi juara dengan Gabriella Prisca Handoko, juga dari Surabaya) di kategori Junior di Ananda Sukarlan Award tahun 2016 mereka diundang mendampingi Ananda untuk tampil di kediaman Presiden ketiga Indonesia, Prof. Dr. H. B.J. Habibie. Pada tahun 2018, Ayunia tampil sebagai solis bersama Orkestra Simfoni UBC di Chan Centre for the Performing Arts. Ia juga diundang untuk tampil di 'Batik for World Peace' di New York pada tahun 2019. Saat pandemi, Ayunia Indri dan Gabriella Prisca tampil di video konser di situs bersejarah pusat kerajaan Majapahit di Trowulan atas produksi Kemenbud (Kementrian Kebudayaan) :
https://youtu.be/FARK3h6yqaw?si=Hu-a8zMTS9-Zq1Ko
Ia juga meraih juara ketiga di Silverman Piano Concerto Competition dan telah mengikuti masterclasses dengan musisi ternama seperti Angela Hewitt, Ananda Sukarlan, Ann Schein, Bruce Brubaker, Sara Davis Buechner dan Aviram Reichert.
Ayunia telah menjadi anggota aktif dari berbagai organisasi guru musik, termasuk menjabat sebagai ketua Simposium Nasional MTNA (Music Teachers National Association) tahun 2025 di Ohio dan sebagai koresponden asing untuk WPTA (World Piano Teachers Association) Indonesia. Ia juga aktif sebagai juri, penguji, dan presenter di Indonesia dan Amerika Serikat.
Ayunia menerima Penghargaan Joanne Smith untuk pedagogi di Universitas Michigan, tempat ia menyelesaikan gelar Master di bawah bimbingan Christopher Harding, John Ellis, dan Aya Hagelthorn. - (rd/pp)






LEAVE A REPLY