Home Seni Budaya PPN XIV Aceh Jadi Saksi Perjalanan Sastra Sutardji Calzoum Bachri,Presiden Penyair Rayakan 85 Tahun

PPN XIV Aceh Jadi Saksi Perjalanan Sastra Sutardji Calzoum Bachri,Presiden Penyair Rayakan 85 Tahun

108
0
SHARE
PPN XIV Aceh Jadi Saksi Perjalanan Sastra Sutardji Calzoum Bachri,Presiden Penyair Rayakan 85 Tahun

Keterangan Gambar : Perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 menghadirkan salah satu momen bersejarah bagi dunia sastra Indonesia. Sutardji Calzoum Bachri, tokoh yang dikenal sebagai Presiden Penyair Indonesia, tampil membacakan puisi di hadapan peserta PPN XIV dari berbagai wilayah.

JANTHO - Parahyangan Post— Perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 menghadirkan salah satu momen bersejarah bagi dunia sastra Indonesia. Sutardji Calzoum Bachri, tokoh yang dikenal sebagai Presiden Penyair Indonesia, tampil membacakan puisi di hadapan peserta PPN XIV dari berbagai wilayah.

Kegiatan yang berlangsung di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh tersebut menjadi panggung penghormatan bagi perjalanan panjang Sutardji dalam menjaga denyut perpuisian Indonesia.

Suasana haru terasa ketika sebelum pembacaan puisi dimulai, para peserta bersama musisi memberikan kejutan berupa lagu “Selamat Ulang Tahun”. Momen itu menjadi bentuk apresiasi karena tepat pada pelaksanaan kegiatan, Sutardji memasuki usia 85 tahun.

Dengan gaya pembacaan yang khas, Sutardji kembali menunjukkan kekuatan puisi sebagai media penghayatan dan refleksi. Setiap bait yang dibawakan menjadi pengingat bahwa sastra memiliki peran penting dalam merekam pengalaman manusia dan perjalanan zaman.

Sutardji Calzoum Bachri merupakan salah satu penyair berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia. Melalui konsep “Kredo Puisi”, ia menghadirkan pandangan baru tentang hubungan manusia dengan kata, bahasa, dan makna.

Kehadiran Sutardji di PPN XIV Aceh tidak hanya menjadi penampilan seorang maestro, tetapi juga menjadi pertemuan antara generasi lama dan generasi baru penyair Indonesia.

PPN XIV Aceh 2026 yang berlangsung pada 22–28 Juni menghadirkan penyair dari berbagai daerah serta sejumlah negara. Forum ini menjadi ruang kolaborasi kebudayaan untuk memperkuat hubungan antarbangsa melalui puisi.

Melalui panggung sastra di Aceh, Sutardji kembali membuktikan bahwa puisi tetap memiliki daya hidup. Ia terus hadir sebagai ruang dialog, ekspresi, dan suara kemanusiaan yang melampaui batas waktu.