Home Opini Nikmati Hidupmu Dengan Fleksibilitas Diri

Nikmati Hidupmu Dengan Fleksibilitas Diri

101
0
SHARE
Nikmati Hidupmu Dengan Fleksibilitas Diri

Oleh: H. J. Faisal *)

Nikmati Hidupmu

MEMBACA - Buku karangan Syeikh Dr. Muhammad Al Arifi yang berjudul asli ‘Enjoy Your Life’ memang tidak pernah membosankan. Dengan gaya tulisan yang sangat ringan, namun sarat dengan nasihat yang didasarkan dari kehidupan sehari-hari Rasulullah Salallahu alaihi wassalam, memang sangat menarik untuk dibaca sampai berulang-ulang kali bahkan.

Karena menjadi buku Best Seller di seluruh dunia, maka tidak terkecuali, akhirnya kita bisa membaca buku ini juga dengan terjemahan bahasa Indonesia, yang berjudul ‘Nikmati Hidupmu’. 

Syeikh Dr. Muhammad Al Arifi adalah seorang motivator, da’i, sekaligus juga seorang dosen dari Saudi Arabia. Beliau sendiri adalah alumnus dari King Saud University, Saudi Arabia. Syeikh Al Arifi lahir di kota Riyadh, ibu kota Saudi Arabia, 51 tahun yang lalu.

Beliau sendiri sebenarnya adalah seorang penggemar dari seorang penulis buku tentang psikologi kejiwaan yang terkenal dari Amerika, Dale Carnegie. Syeikh Al-Arifi berpendapat bahwa tips-tips ilmu kejiwaan manusia yang telah dituliskan oleh Carniege sangatlah tepat untuk diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja semua tips tersebut hanya berlaku untuk kehidupan di dunia semata, tanpa membawa nilai-nilai kehidupan akhirat. 

Maka tidaklah mengherankan jika pada akhirnya Carniege tewas dengan cara membunuh dirinya sendiri. Syeikh Al Arifi pun mengambil kesimpulan bahwa Carniege telah ‘tebelit’ kebingungan dengan apa yang telah ditulisnya sendiri. Itulah tanda dari ilmu yang tidak bermanfaat, menurut Syeikh Al Arifi.

Di dalam baris akhir kata pengantar beliau dalam buku ini, Syeikh Al Arifi berharap para pembaca bukunya ini kelak bisa mengambil manfaat dan mempunyai keterampilan berinteraksi atau fleksibilitas diri di dalam kehidupan sosial, dengan membawa nilai-nilai kebaikan hidup dunia dan akhirat, seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah  Salallahu ‘alaihi wassalam tentunya. Inilah bentuk kecerdasan manusia yang sesungguhnya. 

Ya, banyak sekali memang ilmu-ilmu yang berhubungan dengan fleksibilitas diri yang dituliskan oleh Syeikh Al Arifi di dalam bukunya ini. Contoh-contoh fleksibilitas diri dari kehidupan sehari-hari Rasulullah Salallahu alaihi wassalam, digambarkan dengan sangat baik oleh Syeikh Al Arifi. 

Diantaranya adalah b  agaimana cara bersyukur kepada Allah Ta’lla,  bersikap, bertutur kata, saling menghargai sesama, melihat perbedaan sesama, menjaga lidah, menghadapi godaan, menjaga ketenangan diri, berpikir positif, akibat berbohong, aksi playing victim, dan masih banyak lagi yang lainnya. 

Singkatnya, setelah kita membaca buku yang sangat mencerahkan ini, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya manusia dibekali kemampuan oleh Allah Ta’alla untuk membuat pikiran dan sikapnya menjadi sangat fleksibel, agar dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungannya. Dan juga dapat beradaptasi dengan baik terhadap segala kesulitan yang didalaminya, sehingga dapat menemukan solusi atau jalan keluar yang kreatif dan inovatif dari segala kesulitannya tersebut. 

Tentu saja fleksibilitas di sini adalah fleksibilitas diri yang tetap berdasarkan kepada adab, ilmu, dan petunjuk dari Allah Ta’alla dan Rasul-Nya. 

Fleksibilitas Diri dan Fleksibilitas Kognitif

Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan fleksibilitas diri itu? Di dalam sebuah artikel yang dimuat di laman www.wright.edu, Scott Williams menuliskan bahwa fleksibilitas diri adalah sebuah proses pengembangan kepribadian yang dapat mengatasi rasa takut yang tidak rasional terhadap sesuatu yang baru,  mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, ingin selalu terlibat di dalam segala bentuk perubahan, dan dapat menimbang antara keuntungan dan resiko yang akan diterima. 

Seorang fisikawan, Leonard Mlodinow menyampaikan penjelasan tentang fleksibilitas diri ini kepada Scientific American, yang mana ia juga menyampaikan bahwa individu-individu yang berhasil beradaptasi adalah mereka yang dapat disebut elastis, atau dalam ranah pendidikan dikenal sebagai keterbukaan/fleksibilitas diri, pikiran, bahkan keterbukaan/fleksibilitas kognitif.

Fleksibilitas diri dan  kognitif penting dimiliki oleh setiap individu, karena dengan fleksibilitas diri yang tinggi, seorang  individu akan mampu menyesuaikan diri dan memiliki sifat-sifat khas yang mampu dengan cepat mengubah cara-cara berpikirnya. 

Seorang individu juga akan mampu melihat suatu masalah dari sudut pandang berbeda, mencari dan menggunakan bermacam- macam pendekatan dan cara pemikiran dalam menghadapi suatu masalah, serta memproduksi sejumlah ide untuk memecahkan masalah tersebut. 

Fleksibilitas diri dan kognitif yang tinggi pada seorang individu akan dapat merubah cara pandangnya dan akan mampu beradaptasi dengan hal-hal yang baru, dengan lebih mudah. Hal ini didukung oleh pernyataan M. Syah di dalam bukunya yang berjudul ‘Psikologi Pendidikan Dengan Suatu Pendekatan Baru’ (2013),  yaitu fleksibilitas diri kognitif merupakan kemampuan individu dalam berpikir yang diikuti dengan tindakan yang sesuai dengan tuntunan atau pedoman yang sebenarnya untuk menghadapi situasi yang sedang berada di hadapannya. 

Kemampuan berpikir dan bertindak fleksibel dapat mendukung kinerja individu dalam aktivitas pemecahan masalah. Di dalam bukunya yang berjudul ‘Psikologi Perkembangan Dewasa Muda’ (2008), Dariyo menyatakan bahwa fleksibilitas diri dan kognitif merupakan kemampuan individu dalam menyesuaikan diri dari pemikiran yang satu ke pemikiran yang lain. Individu dengan fleksibilitas kognitif memiliki ciri dalam kemampuan proses berpikir yang meliputi kelancaran, kelenturan (fleksibilitas) dan orisinilitas dalam berpikir dan elaboration (mengembangkan, memperkaya, dan memperinci) suatu gagasan untuk memecahkan suatu masalah. 

Ciri-Ciri Fleksibelitas Diri dan Kognitif 

Seorang individu yang memiliki fleksibilitas diri dan kognitif yang tinggi,  akan mampu untuk melakukan hal-hal di bawah ini:

1. Berpandangan Holistik
Seorang individu yang fleksibel akan memandang segala hal secara holistik atau mengakomodasi semua kutub dan sikap. Individu macam ini mampu melihat perspektif positif dan negatif dalam proses pengambilan keputusan, menyimak dan mempertimbangkan baik dorongan kepribadian atau situasional dalam menelaah suatu isu, dan lebih lanjut memisahkan opini dan mitos dari fakta dan penilaian ilmiah.

2. Peka Bias
Seorang individu yang fleksibel akan mampu memilah bias-bias pribadi, seperti perspektif-perspektif yang cenderung merendahkan atau meninggikan diri.

3. Tegar
Seorang individu yang fleksibel tidak akan menganggap bahwa apa yang mereka rasakan sekarang bersifat tetap. Sebagai contoh, seseorang kerap merasa terintimidasi untuk mengetahui dan memahami segala hal dalam tempo sesingkat-singkatnya, tetapi pemikir terbuka/fleksibel mampu melangkah melampaui perasaan takut dan cemas tersebut dan melihat bahwa perasaan itu tidak berfaedah apa-apa.

Hal ini juga berlaku dalam mengambil keputusan terkait hal yang belum pasti. Merasa tidak yakin tentang sesuatu bukanlah pertanda buruk. Merasa yakin tentang sesuatu bukan berarti kita benar. Pemikir yang terbuka/fleksibel mengenali ini.

4. Menyeimbangkan Program Jangka Panjang-Menengah-Pendek
Dalam segala situasi, Seorang individu yang fleksibel akan dapat berpikir dan menalar tujuan jangka panjang, menengah, dan pendek mereka.

Wallahu’allam bisshowab

Jakarta,   9 Agustus 2021

*) Penulis adalah Pemerhati Pendidikan/ Mahasiswa Doktoral Pascasarjana UIKA, Bogor/ Anggota Majelis Pendidikan Pusat Al Washliyah.