Home Opini MASIH MERAGU? SAMPAI KAPAN?

MASIH MERAGU? SAMPAI KAPAN?

111
0
SHARE
MASIH MERAGU? SAMPAI KAPAN?

Oleh: H. J. Faisal *)

Apakah yang akan terjadi, jika seandainya nabi Nuh Alaihissalam tidak yakin atau meragukan perintah Allah Ta’alla, untuk membuat sebuah perahu yang sangat besar di tengah gurun pasir yang tandus dan kering kerontang? 

Mungkin saja nabi Nuh Alaihissalam dan para pengikutnya akan musnah dibantai oleh kaumnya sendiri yang durhaka kepada Allah Ta’alla, yaitu Bani Rasib, dan mungkin juga akan ikut tenggelam bersamaan dengan datangnya banjir bandang yang dikirim oleh Allah Ta’alla untuk memusnahkan kaum Bani Rasib tersebut. 

Apakah yang akan terjadi, jika seandainya nabi Musa Alaihissalam tidak yakin atau meragukan perintah Allah Ta’alla untuk memukulkan tongkatnya ke lautan agar laut menjadi terbelah dua, dan nabi Musa beserta pengikutnya dapat lolos dari kejaran bala tentara Fir’aun? 

Mungkin saja nabi Musa dan para pengikutnya yang beriman kepada Allah Ta’alla akan musnah di tangan Fir’aun, dan sejarah pun akan menuliskan kemenangan Fir’aun sebagai bukti bahwa kedzaliman dan kemusyrikan akan menang terhadap kebenaran. Naudzubillah…

 Apakah yang akan terjadi, jika seandainya nabi Ibrahim Alaihissalam tidak yakin dengan perintah Allah Ta’alla untuk tetap tenang di dalam api yang sangat membara, agar Allah Ta’alla dapat menunjukkan kekuasaannya kepada manusia sombong yang bernama Namrud, dengan membuat api tersebut menjadi dingin?

Mungkin saja risalah tauhid terhadap keesaan Allah Ta’alla  akan terputus, dan selamanya  manusia tetap akan berada pada kemusyrikan dan kegelapan.

Apakah yang akan terjadi seandainya nabi Muhammad Rasulullah Salallahu alaihiwassalam tidak yakin atau meragukan perintah Allah Ta’alla untuk menerima wahyu Allah yang pertama, yaitu membaca, sedangkan Rasulullah sendiri adalah seorang yang tidak mengerti huruf?

Mungkin saja risalah Islam sebagai agama yang menjadikan tauhid dan ilmu sebagai landasan perkembangannya, tidak akan pernah menjadi besar dan langgeng seperti sekarang ini. 

Tetapi justru disinilah penalaran dan logika kita  menjadi terang benderang. Karena ketidakmampuan Rasulullah Salallahu alaihiwassalam untuk membaca pada waktu itulah, menjadi bukti yang kuat bahwa wahyu yang diterima oleh Rasulullah Salallahu alaihiwassalam bukanlah kata-kata atau syair buatan Rasulullah Salallahu alaihiwassalam sendiri, apalagi buatan manusia biasa lainnya. 

Untuk mereka para sahabat Rasulullah yang memang selalu percaya dengan perkataan Rasulullah Salallahu alaihiwassalam sejak kecil, dan mampu berpikir dengan logika yang jernih dan lurus, mereka akan langsung percaya bahwa ayat-ayat Allah Ta’alla yang turun pertama kali kepada Rasulullah Salallahu alaihiwassalam itu adalah memang berasal langsung dari suatu dzat yang maha besar dan maha dahsyat, yaitu Allah Ta’alla, Tuhan manusia. 

Begitupun dengan keyakinan tanpa syarat, seperti yang telah ditunjukkan oleh para nabi-nabi yang telah dikisahkan di atas. Mereka sangat yakin bahwa perintah-perintah Allah Ta’alla kepada mereka  merupakan sebuah jaminan yang diberikan oleh Allah Ta’alla untuk keselamatan diri mereka sendiri, dan keselamatan kaum mereka yang beriman kepada Allah Ta’alla. 

Sebagai manusia biasa yang mempunyai pemikiran yang biasa pula, maka sebagian manusia bahkan sebagian besar muslim mungkin akan menyanggah hal itu semua dengan mengatakan…”ya mereka kan para nabi yang sudah dijamin untuk mengikuti perintah Allah, dan sudah dijamin masuk syurga, sedangkan kita kan hanya manusia biasa yang masih banyak dosa, sepertinya masih sulit untuk memiliki keyakinan yang kuat seperti itu …”

Sekilas memang argumen seperti ini merupakan argumen kepasrahan manusia biasa yang terdengar benar dan bijak. Tetapi pada dasarnya argumen seperti ini adalah sebuah argumen yang lahir dari manusia-manusia yang memang malas untuk beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan sangat berat hati  untuk mengikuti perintah-perintah Allah Ta’alla, apalagi mencari ilmu untuk mengenal Allah Ta’alla, tuhan mereka sendiri. 

Sehingga tidaklah mengherankan jika hati mereka akan selalu dipenuhi dengan keraguan bahkan ketidakpercayaan terhadap petunjuk, hukum, dan panduan kehidupan lainnya, yang berasal dari Allah Ta’alla, yang kesemua petunjuk tersebut telah terangkum di dalam kitabullah Al Qur’an, dan agama yang diridhoi-Nya, yaitu Islam. 

Maka dari ketidakyakinan dan ketidakpercayaan terhadap hukum, petunjuk dan semua panduan-panduan yang berasal dari Allah Ta’alla tersebut, akhirnya mereka membuat hukum, dan panduan-panduan kehidupan lainnya berdasarkan akal pikiran mereka sendiri.

Maka yang terjadi adalah sebuah kekacauan kehidupan, seperti yang sedang kita alami sekarang ini, baik kekacauan kehidupan di negara kita sendiri, maupun kekacauan kehidupan secara internasional. 

Hal inipun telah disindir oleh Allah Ta’alla di dalam surat Al-Baqarah ayat 23, yang artinya:

“……..dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kalian memang orang-orang yang merasa benar,”

Dilanjutkan di dalam surat Ali Imran ayat 54, Allah Ta’alla berfirman: 

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Haruskah kita terus meragu, sampai kapan? Sampai masa kita habis? Karena sejatinya, keraguan hanya akan menghasilkan kelemahan, dan kelemahan akibat keraguan merupakan pintu masuk yang sangat terbuka lebar dan merupakan kemudahan bagi mereka yang ingin terus menaklukkan kita.

Wallahu’allam bisshowab

Jakarta,   26 Agustus 2021

*) Penulis adalah Pemerhati Pendidikan/ Mahasiswa Doktoral Pascasarjana UIKA, Bogor/ Anggota Majelis Pendidikan Pusat Al Washliyah.