Home Opini Mari Bung Rebut Kembali.!!

Mari Bung Rebut Kembali.!!

Catatan Redaksi

118
0
SHARE
Mari Bung Rebut Kembali.!!

Catatan Redaksi : 
Mulai minggu ini Parahyangan Post akan menurunkan rubrik khusus 'Catatan Redaksi' yang akan diterbitkan setiap akhir pekan dengan menangkat isu-isu teranyar. Semoga dengan adanya 'Catatan Redaksi' ini akan menjadi daya tarik dan refrensi bagi para pembaca semua, ditegah menghadapi situasi pandemi ini. 

Salam,

- redaksi -  
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

KITA - Telah memasuki 76 tahun kemerdekaan, Republik Indonesia,  17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2021, suka duka perjalanan berbangsa dan bernegara telah kita lalui. 


Tidak sedikit diantara kita yang secara langsung ikut mengiringi gerak langkah perjalanan negeri ini sejak, dari masa penjajahan, masuk ke masa kemerdekaan, dan orde lama, orde baru, sampai era orde reformasi. 

Mereka ini adalah generasi sepuh yang mendapat kesempatan, melihat dan menyaksikan langsung, liku-liku perjalanan bangsa ini. Disisi lain ada juga anak-anak kita, generasi milenial yang mungkin hanya ikut menyaksikan sejak era reformasi, sementara era sebelumnya generasi milenial ini hanya mendapat keterangan dari berbagai sumber, seperti dari catatan sejarah, buku, cerita dari orang tua mereka, film dan lain sebagainya. 

Dengan membaca sejarah, kita bisa mempelajari apa sesungguhnya yang dialami oleh generasi pendahulu kita, para pejuang yang begitu gigih mempertahankan negeri ini dari para penjajah, sampai berhasil merebut kemerdekaannya. 

Dengan membaca sejarah pula kita jadi bisa belajar banyak, bagaimana pemerintahan dimasa orde lama, dan orde baru dalam menapaki perjalanan negeri ini, suka dan duka mereka yang mengalami masa orde lama dan orde baru telah tercatat dalam tinta emas catatan sejarah negeri ini. 

Gerakan Reformasi (1998) lahir, karena ada beberapa tuntutan saat itu untuk mengoreksi pemerintahan orde baru yang dianggapnya sudah menyimpang dari koridor demokrasi yang telah disepakati bersama. 

Sedikitnya ada enam tuntutan reformasi (1998) yang menjadi pijakan perjuangan kaum reformis pada saat itu. Enam tuntutan tersebut, pertama dalam perbaikan supremasi hukum, kedua pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), ketiga mengadili Soeharto dan kroni-kroninya, keempat adanya tuntutan amandemen konstitusi yang membatasi waktu jabatan presiden, kelima pencabutan dwifungsi ABRI dan yang terakhir adalah pemberian otonomi daerah seluas-luasnya. 

Perjuangan kaum pergerakan untuk menumbangkan Soeharto yang saat itu dianggap tidak mungkin akan berhasil, namun berkat bersatu padunya, rakyat dan mahasiswa pada saat itu, akhirnya rezim otoriter, bisa tumbang, dan memasuki babak baru era reformasi, dan rakyat merasakan dan menikmati ‘kemerdekaannya’,  yang selama era orde baru sulit didapatkanya. 

Hari berganti hari, perjalanan panjang negeri ini sudah memasuki 76 tahun, era reformasi sudah berjalan dua puluh tiga tahun, harapan kaum pergerakan era reformasi dan rakyat pasca reformasi, perjalanan negeri ini semakin demokratis, kesejahteraan rakyat, adil makmur akan terwujud, sesuai dengan cita-cita berbangsa dan bernegara sebagaimana tercantun dalam konstitusi kita. 

Kita tidak bisa memungkirinya, beberapa perubahan telah terjadi sejak era reformasi yang semuanya itu untuk perbaikan perjalanan bangsa kedepan, artinya beberapa point semangat reformasi telah terwujud. 

Namun kita juga tidak menutup mata, bahwa hari – hari ini kita kembali disesakan oleh berbagai persoalan, mulai dari pandemik yang melanda negeri ini dan dunia, persoalan korupsi yang tidak kunjung reda, penegakan supremasi hukum yang masih timpang, dan kesejahteraan rakyat yang masih jauh dari harapan. 

Teranyar adalah persoalan ‘mural’ yang sedang menjadi treding topic di media social, sebagian orang menanggap bahwa mural merupakan karya seni, yang tidak harus disikapi dengan berlebihan. Dan sejarah telah mencatat bahwa ‘mural’ telah digunakan juga sebagai media perlawanan, baik pada masa penjajahan mural digunakan untuk menyampaikan pesan dan slogan tentang ‘kemerdekaan’ oleh para pejuang kita. 

“Mural’ juga digunakan untuk menyampaika pesan, baik pada masa orde lama maupun orde baru, serta era reformasi. Saat rakyat dibungkam untuk bersuara, mereka bisa saja menyuarakannya dalam bentuk apa saja, termasuk menggunakan ‘mural’. 

Ditengah, hiruk pikuk menyambut kemerdekaan negeri ini ke 76, kita juga diingatkan kembali untuk membiasakan dengan panggilan ‘Bung’. 

Sejarah mencatat bahwa para pejuang kita dalam merebut dan mempertahankan ‘kemerdekaanya’ juga pernah membuat slogan ‘Mari Bung Rebut Kembali’. 

Lantas, slogan “Mari Bung Rebut Kembali”  ini juga akan digaungkan, untuk membebaskan diri dari kungkungan belenggu yang melilit rakyat, atas hak ‘kemerdekaanya’…?? 

Dirgahayu Republik Indonesia ke-76. 


Jakarta, 15 Agustus 2021