Oel : Dr.Lalu Zulkifli
(Ketua Umum Lingkar Al-Islam Moderat Indonesia / LAMI)
Bismillah
Ilmu tafsir dan kitab tafsir mengalami perkembangan sejalan dinamika yang terjadi. Berbeda- beda pulalah penafsiran dan gaya tafsir para ulama.
Ulama Tafsir mengakui bahwa tidak ada yang ahli secara mendalam dalam segala macam segi ilmu Islam yang masyhu.
Ada sementara ulama yang yang takhassus dalam hadits, lemahlah ia dalam ijtihad dan fiqih. Ada sementara ulama yang dapat meng istimbath kan hukum dari Al-Qur'an dan Hadits, kerap kali tidak kuat menghafal. Ada sementara ulama yang kuat menghafal, seringkali tidak kuat memikir.
Abu Hamid al Ghazali ra indah uraian dan kupasannya, tapi bliau sangat lemah dalam soal menyaring hadits-hadits. Demikianlah bukti keagungan dan keadilan Allah SWT.
Ketika Nabi Saw menerima ayat tentang Riba, (QS. 2: 275-281), beliau belum sempat merincikan mana dia yang riba, bliau pun meninggal dunia.
Al Baihaqi ra dan al Hakim ra pernah meriwayatkan sebuah hadits Nabi Saw, dari riwayat Ibnu Mas'ud ra:
"Bagi riba itu adalah 73 pintu. Yang sekecil-kecil pintu sama dengan berzina dengan ibu kandung sendiri. Dan riba yang paling riba adalah mengganggu kehormatan seorang Muslim."
Yang sempat Nabi Saw terangkan menurut wahyu ialah riba nasi'ah dan riba fadhl, padahal menurut hadits Ibnu Mas'ud diatas, pintu riba tidak kurang banyaknya dari 73.
Itulah sebabnya ketika menjadi khalifah, Umar bin Khaththab ra pernah berkata:
inna min aakhiril Qur'an nuzulan ayaturriba wa innahu qad maata Rasulullah Saw, walam yubayyinannahu lanaa. Fada'uu maa yuriibukum ilaa maa laa yuriibukum.
"Sesungguhnya, Al Qur'an yang terakhir sekali turunnya ialah ayat riba. Dan Nabi Saw telah wafat, padahal belum seluruhnya bliau terangkan kepada kita. Oleh sebab itu, tinggalkanlah mana yang menimbulkan keraguan didalam hatimu, dan pilihlah apa-apa yang tidak menimbulkan keraguan."
Ulama-ulama tidak ragu membahas tentang penafsiran yang timbul dari pendapat (ra'yi) para sahabat Nabi Saw. Imam Hanafi ra tegas mengatakan bahwa ia tidak mau pindah-pindah saja dari satu pendapat sahabat ke pendapat sahabat yang lain. Imam Syafi'i ra juga menulis demikian pada karangannya ar Risalah. Imam Malik ra pun bersikap demikian. Imam Ahmad bin Hambal ra biasa menguraikan pendapat-pendapat sahabat yang berlain-lainan itu dalam menjelaskan pendapatnya sendiri.
Ibnu Abbas ra berkata:
Al Qur'an diturunkan mengandung 4 macam:
1. Halal dan haram, tidak akan dimaafkan orang yang tidak mengetahuinya;
2. Bagian yang dapat ditafsirkan oleh semua orang yang mengerti bahasa Arab;
3. Bagian yang hanya bisa ditafsirkan oleh para ulama;
4. Yang mustasyabih, yakni tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah SWT.
Al Qur'an adalah kitab yang oleh Nabi Saw dinyatakan sebagai Ma'dubatullaah (hidangan ilahi).
Al Qur'an menjelaskan bahwa di hari kiamat nanti Nabi Saw akan mengadu kepada Allah SWT, bliau berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku/umatku telah menjadikan Al Qur'an ini sebagai sesuatu yang mahjuura." (QS. 25: 30).
Menurut Ibnu al-Qayyim ra, banyak hal yang dicakup oleh kata mahjuura, antara lain:
1. Tidak tekun mendengarnya.
2. Tidak mengindahkan halal dan haramnya walau dipercaya dan membacanya.
3. Tidak menjadikannya rujukan dalam menetapkan hukum menyangkut ushuuluddin (prinsip-prinsip ajaran agama) dan perinciannya.
4. Tidak berupaya memikirkan dan memahami apa yang dikehendaki oleh Allah yang menurunkannya.
5. Tidak menjadikannya sebagai obat bagi semua penyakit-penyakit kejiwaan.
_______
Tafsir yang utama dan pertama dalam Al Qur'an, tidak lain ialah sunnah yaitu perkataan (aqwal) dan perbuatan (af'aal) Nabi Saw, serta perbuatan orang lain yaitu sahabat-sahabatnya yang dibiarkan dan tidak dicegah (taqrir).
Ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam surah an-Nahl: 44 (ujung ayat).
Dalam menjelaskan (QS. 2: 187), Nabi Saw bersabda:
laa yamna'ukum min sahuurikum azaanu Bilaalin walaa al fahrulmustathiil. Walakinnahu al fajrulmustathiiru fil ufuq
"jangan menghentikan sahurmu dengan adanya azan Bilal dan fajar yang memanjang, tetapi yang mencegah sahurmu ialah fajar yang mengembang (melintang) diufuk."
Oleh karena itu, jika ada sementara orang yang mengatakan bahwa segala ilmu sudah cukup dalam Al Qur'an, perkataan seperti itu tidaklah tepat. Yang sesungguhnya adalah anjuran Al Qur'an untuk menyelidiki segala cabang ilmu.
Inilah senikmat-nikmatnya hidangan Ramadhan.
wa Allahu a'lam bishshawab
Jakarta, 7 Ramadhan 1447 H (Edisi minggu pertama Ramadhan).
-----------------------------------
Ref. Utama:
Tafsir Al-Azhar, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir At-Tanwir dan Tafsir Al-Misbah.






LEAVE A REPLY