Home Nusantara Kerja sama PERINMA dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt

Kerja sama PERINMA dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt

778
0
SHARE
Kerja sama PERINMA dan Konsulat Jenderal Republik  Indonesia (KJRI) Frankfurt

FRANKRFURT - www.parahyangan-post.com - Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni, Perhimpunan Eropa untuk Indonesia Maju (PERINMA) bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt, Jerman, menyelenggarakan webinar dengan Tema "Save Our Planet: Pembangunan Indonesia dengan Semangat Pelestarian". Webinar ini menitikberatkan pada upaya dan langkah yang harus diperhatikan dan diterapkan, baik oleh pemerintah maupun organisasi non-profit dan para pengusaha, untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup di Indonesia, khususnya pada masa pembangunan, dalam upaya eksplorasi, eksploitasi dan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, termasuk juga pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial.

Webinar ini dibuka oleh Bapak Acep Somantri selaku Konsul Jenderal Republik Indonesia di Frankfurt, Ketua Umum PERINMA Rizal Tirta, Wakil Ketua Umum PERINMA Sakaria Wielgosz, dan berbagai perwakilan dari organisasi non-profit di Indonesia dan masyarakat diaspora Indonesia diberbagai negara di Eropa. Pada sambutannya, Bapak Acep Somantri menyampaikan bahwa agenda prioritas pembangunan Indonesia menitikberatkan pada akselerasi peningkatan kapasitas ekonomi Indonesia dengan nilai tambah yang tinggi melalui program hilirisasi, baik di sektor manufaktur maupun pertanian, yang dimana sejalan dengan perkembangannya, aspek pelestarian lingkungan hidup mau tidak mau harus berjalan beriringan dengan agenda pembangunan di sektor ekonomi. Bapak Acep Somantri juga menyampaikan, bahwa Pemerintah RI memastikan prioritas agenda pembangunan nasional tersinkronisasi dan berjalan beriringan dengan komitmen pelestarian lingkungan. Salah satu bentuk komitmen Indonesia yakni dengan menaikkan target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) pengurangan emisi karbon dari 21% menjadi 31,98% atau setara dengan 912 juta ton CO2 pada tahun 2030 secara mandiri. Target ENDC Indonesia ini akan lebih tinggi hingga 43,20% di tahun 2030 dengan dukungan internasional.  

Komitmen pelestarian lingkungan yang tinggi dan diikuti oleh potensi energi terbaharukan yang dapat dioptimalisasi dalam pengembangan kapasitas pembangunan nasional telah mendapatkan pengakuan dan dukungan oleh pihak internasional. Salah satu contohnya adalah Indonesia dan Jerman memiliki kerja sama Green Infrastructure Initiative (GII) senilai EUR 2,5 miliar untuk periode 2021 – 2026. Contoh lainnya Dimana Indonesia mendapat kepercayaan menjadi bagian dari Just Energy ransition Plan (JET-P) yang merupakan dukungan negara G7 untuk program phase-out PLTU dengan nilai mencapai USD 20 miliar untuk periode 3 – 5 tahun 

Dalam pelaksanaannya, telah banyak langkah konkret yang telah dijalankan, yakni Indonesia mampu menekan laju deforestasi secara signifikan, antara lain melalui rehabilitasi 3 juta hektar lahan kritis dan penurunan 82% kebakaran hutan, terendah dalam 20 tahun terakhir. Selain itu, program rehabilitasi 600 ribu hektar hutan mangorve akan selesai di tahun 2024 dan merupakan yang terluas di dunia.  

Webinar ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Bapak Husni Suwandhi, selaku Ketua Departemen Lingkungan Hidup dan Energi Baru Terbarukan, dan Ibu Imee Oktiara Tjoeng M. Eng, Konsultan Independen yang bergerak dibidang lingkungan hidup. Di dalam presentasinya, kedua narasumber memberikan sorotan pada aturan dan harapan dalam upaya pelestarian lingkungan hidup, termasuk kendala-kendala yang dihadapi Indonesia untuk melaksanakan ketentuanketentuan tersebut. 3R (reduce, reuse, recyle) yakni mengurangi, menggunakan ulang, atau mendaur ulang, terkait penggunaan plastik masih terus menjadi fokus penting dalam urusan pelestarian lingkungan. Selain itu, penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan juga menjadi poin penting dalam diskusi webinar ini, seperti pemanfaatan energi solar, angin dan energi terbarukan lainnya. Narasumber juga menyampaikan suatu gagasan agar tersedianya Environmental Audit yang berperan mengevaluasi kepatuhan dan keberhasilan pengelolaan lingkungan berdasarkan standar yang diacu 

Selain itu, narasumber juga mengutarakan masalah-masalah yang kerap dihadapi dalam upaya pemenuhan peraturan terkait lingkungan hidup, seperti mengenai standar yang digunakan sebagai ukuran hijau untuk industri sering kali menjadi ambigu. Masalah utama lainnya adalah keterbatasan biaya dan sumber daya manusia yang sering kali menjadi dasar persoalan lingkungan. Pelaksanaan aturan yang sering kali kurang dipaksakan dan tidak memiliki efek jera yang membuat banyak pihak mengabaikan ketaatan terkait aturan pelestarian lingkungan hidup. Ini adalah masalah berat yang menjadi kendala, tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia, oleh karena teknologi hijau padat teknologi membutuhkan biaya yang besar 

Dalam program tanya jawab, salah satu peserta yang hadir adalah perwakilan organisasi nonprofit Masyarakat Peduli Ciliwung (Mat Peci) yang menyampaikan bahwa Sungai Ciliwung dan sungai-sungai lainnya di Jakarta sudah lebih bersih, tetapi masih memiliki kendala terkait keberlanjutannya mengingat hal ini membutuhkan kerja sama dari semua pihak, termasuk dari kota-kota di sekitar yang menjadi hulu dari sungai tersebut, untuk memastikan agar sampah tidak dibuang di sungai dan akhirnya mengalir ke Jakarta. Perserta lainnya, misalnya dr. Michael Leksodimulyo, yang dikenal sebagai dokter spesialis gelandangan, menuturkan bahwa di beberapa daerah di Indonesia, kesadaran akan lingkungan hidup sudah cukup tinggi sehingga beberapa rumah tangga mulai memisahkan sampah plastik dari sampah organik rumah tangga. Hanya disayangkan, pemisahan sampah ini tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai, seperti penyediaan truk pengangkut sampah yang belum membedakan jenis sampah ketika pengangkutan, sehingga pemisahan sampah rumah tangga tersebut menjadi sia-sia. 

Webinar yang direncanakan berlangsung hanya dua jam ini selesai melebihi waktu oleh karena diskusi menarik yang berkesinambungan, dan ini merupakan suatu hal positif bagi PERINMA bahwasanya semangat untuk melestarikan lingkungan hidup di Indonesia dimiliki oleh banyak pihak. Webinar ini menghasilkan suatu harapan agar dapat terbangun suatu sistem pengawasan lingkungan yang terintegrasi sesuai dengan standar yang disepakati dan hasilnya dapat dipublikasikan secara umum kepada masyarakat luas, sehingga evaluasi pelaksanaan pelestarian lingkungan hidup dapat diketahui oleh banyak pihak dan pelaksanaannya memiliki dampak tuntutan sosial yang lebih tinggi bagi para pengusaha dan pelaksana industri. Disamping itu, kolaborasi dan sinergi dengan mitra internasional di bidang pelestarian lingkungan secara inklusif dengan pembangunan harus terus berlanjut dan semakin intensif, untuk tercapainya Indonesia Emas 2045.

(rl/rd/pp)