Home Opini KEKHAWATIRAN YANG BERULANG

KEKHAWATIRAN YANG BERULANG

107
0
SHARE
KEKHAWATIRAN YANG BERULANG

Keterangan Gambar : Foto : Socrates Ilustrasi/PP

Oleh: H. J. Faisal *)

KETIKA - Seorang filsuf Yunani terkenal, yaitu Socrates dan muridnya Plato, pernah merasa khawatir tentang adanya teknologi menulis di atas media penulisan, seperti batu dan kulit pada waktu itu, tepatnya di tahun 400-an Sebelum Masehi. 

Apakah yang dikhawatirkan kedua filsuf besar tersebut (besar menurut versi barat) terhadap teknologi penulisan di atas sebuah media, yang notabene merupakan sebuah teknologi terbaru pada waktu itu? 

Mereka khawatir bahwa manusia akan kehilangan eksistensi keilmuannya, jika ilmu hanya dituliskan di atas sebuah media, dan bukan disimpan di dalam otak manusia itu sendiri. 

Menurut Socrates, ingatan dan memori manusia merupakan perwujudan dari kepahaman manusia tentang sesuatu yang nyata dan tidak nyata. Dengan kata lain, jika ilmu atau pengetahuan sudah dituliskan ke dalam media pencatatan, maka akan hilang pula esensi dari ilmu tersebut, karena dari proses pencatatan tersebut, Socrates menganggap linear dengan  hilangnya kemampuan pemahaman dan penalaran manusia. 

Namun apakah yang terjadi? Justru ketika proses pencatatan ilmu di atas media sudah berkembang teknologinya, justru keilmuan itu sendiri semakin berkembang dan semakin bertahan lama. Manusia dapat menuliskan semua ilmu yang dimilikinya dengan leluasa, dan manusia lainnya pun dapat membacanya dan kemudian menerima ilmu-ilmu yang telah dituliskan tersebut dengan mudah. Proses transfer ilmu pengetahuan pun dengan mudah bisa terjadi. 

Dan sejak adanya teknologi penulisan atau pencatatan ilmu di atas media tulis, peradaban semakin mudah dicapai, sehingga kehidupan manusia pun menjadi lebih baik. Jadi alangkah disayangkannya, jika sampai saat ini, masih banyak manusia yang tidak ingin menuliskan sesuatu yang diketahuinya sebagai sebuah ilmu dan kebenaran untuk dibagikan lagi kepada manusia lainnya, sehingga seharusnya apa yang diketahuinya meskipun itu sedikit, tetapi tetap bisa bermanfaat bagi sesama manusia lainnya.   

Contoh kekhawatiran yang sama juga pernah terjadi ketika teknologi informasi melalui media televisi (audio visual) mulai berkembang secara massif di awal tahun 1950-an di dunia Barat dan tahun 1970-an di Indonesia. Banyak orangtua yang khawatir bahwa anak-anak mereka akan menjadi generasi yang pemalas, karena dikhawatirkan mereka akan selalu duduk di depan televisi, dan tidak ingin melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. 

Ternyata, banyak kenyataan dari rasa kekahwatiran itu pun tidak terjadi. Justru semakin banyak kreatifitas kesenian, pemindahan informasi secara cepat dan massif,  serta imajinasi positif yang muncul dengan keberadaan teknologi televisi tersebut. 

Maka wajar saja, jika di masa teknologi yang sangat canggih sekarang ini, rasa kekahawatiran yang pernah dimiliki oleh Socrates dan Plato, kembali terulang. Banyak pihak, terutama yang berasal dari golongan yang lebih tua, yang merasa khawatir dengan kehadiran teknologi virtual yang sedang mengambil fungsinya sebagai pengganti teknologi cetak.  

Salahsatu bentuk kekhawatiran tersebut semakin tercermin dari proses belajar-mengajar yang sedang terjadi di masa pandemik ini.  Proses belajar-mengajar yang sebelumnya biasa dilakukan di sekolah dengan cara tatap muka secara nyata, kini berubah menjadi proses belajar dengan tatap muka secara virtual. 

Banyak pihak yang menyatakan dan menilai bahwa sistem belajar seperti ini menjadi tidak sehat, karena banyak hak-hak asasi anak-anak atau peserta didik untuk bersosialisasi menjadi hilang. Sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi kondisi kejiwaan mereka, akan adanya generasi yang hilang, dan keburukan-keburukan lainnya yang akan muncul. 

Kekhawatiran tersebut memang wajar-wajar saja. Tetapi yang perlu kita ingat adalah, bahwa keadaan ini disebabkan bukan karena kemauan sistem pendidikan kita secara formal atau disengaja. Hal ini disebabkan karena keadaan yang sebenarnya ‘memaksa’ seluruh sistem pendidikan di dunia untuk melakukan pembelajaran secara  daring seperti ini, dikarenakan saat ini dunia sedang dilanda oleh kondisi pandemik penyebaran virus Covid 19.  

Jadi sesungguhnya, proses pembelajaran peserta didik secara daring yang sedang terjadi ini, merupakan sebuah proses adaptif manusia yang otomatis harus dilakukan dikarenakan keadaan yang tidak memungkinkan untuk melakukan proses pembelajaran secara normal, agar tidak membahayakan kondisi kesehatan semuanya. Karena proses pembelajaran atau pencarian ilmu tidak boleh dihentikan dalam keadaan bagaimanapun. Termasuk dalam keadaan pandemik seperti saat ini.   

Setelah keadaan pandemik ini selesai, maka proses pembelajaran tatap muka secara normal dapat dilakukan kembali. Artinya, situasi ini sesungguhnya hanya bersifat sementara saja. 

Bahkan seperti yang amati oleh banyak ahli pendidikan baik nasional maupun internasional, pasca keadaan pandemik ini pun, sistem pembelajaran secara daring ini  akan terus berlanjut untuk semua jenjang pendidikan, tetapi tentu akan tetap digabungkan dengan proses tatap muka antara siswa dengan gurunya, melalui proses pembelajaran Blended Learning atau Hybrid Learning.  Hal ini dikarenakan banyak efektifitas yang sebenarnya bisa didapatkan dari kegiatan pembelajaran secara daring yang kemudian dikombinasikan dengan pembelajaran pertemuan tatap muka (Blended Learning). Artinya, dua proses utama pendidikan, yaitu proses transfer ilmu pengetahuan, dan proses transformasi akhlak dan moral dapat tetap berlangsung. 

Sampai kapanpun, manusia memang akan selalu dituntut untuk selalu beradaptasi dengan keadaan zamannya. Meskipun memang tidak dapat dipungkiri, teknologi yang berkembang dari waktu ke waktu pastinya selalu mempunyai dua sisi yang berjalan bersamaan. Yaitu sisi positif dan sisi negatif. 

Tetapi sebagai makhluk Allah Ta’alla yang diciptakan secara sempurna, manusia pastinya memiliki tuntunan wahyu, akal, rasa, dan panca indera untuk selalu menerima sesuatu yang baik dan menolak sesuatu yang tidak baik. Terkecuali manusia tersebut tidak mengikuti tuntunan wahyu yang Allah Ta’alla berikan sebagai hudan atau petunjuk. Mencerdaskan diri, berdo’a dan mendekatkan diri kepada sang Khalik, berpikir positif, dan selalu menerima kebaikan dan menolak keburukan menjadi cara sederhana bagi manusia untuk selalu bisa beradaptasi dengan keadaan zaman yang selalu berubah. 


Wallahu’allam bisshowab

Jakarta,   3 Agustus 2021

*) Penulis adalah Pemerhati Pendidikan/ Mahasiswa Doktoral Pascasarjana UIKA, Bogor/ Anggota Majelis Pendidikan Pusat Al Washliyah.