Home Opini Jangan Pernah Mendebat, Jangan Pernah Mengatakan Tidak

Jangan Pernah Mendebat, Jangan Pernah Mengatakan Tidak

99
0
SHARE
Jangan Pernah Mendebat, Jangan Pernah Mengatakan Tidak

Oleh: H. J. Faisal *)

Suatu waktu di pedalaman sebuah negeri, hiduplah seorang peternak sapi dan istrinya, dengan jumlah ternak sapi mereka yang tidak seberapa jumlahnya. 

Usia mereka berada di kisaran 60 tahunan. Mereka hidup dalam keadaan yang  sederhana, tetapi penuh dengan kedamaian. Mereka memang tidak memiliki harta yang berlimpah, tetapi mereka  merasa cukup, karena mereka merasa semua kebutuhan mereka telah terpenuhi.

Sang suami dikenal sebagai sang peternak yang lugu, baik hati, dan dermawan.

Sedangkan sang istri dikenal sebagai istri yang setia, tidak pernah mengatakan 'tidak' kepada suaminya, selama yang dilakukan suaminya adalah kebaikan, dan dia juga seorang istri yang dermawan.

Suatu hari, sang suami ingin menjual seekor sapi mereka ke pasar. Seperti biasa, ketika sang suami mengatakan rencana ini kepada istrinya, istrinya pun langsung setuju tanpa beradu argumen dengan suaminya. Ya, tanpa beradu argumen terlebih dahulu.

Akhirnya, dibawalah seekor sapi mereka ke pasar pada hari itu juga. Berangkatlah sang suami ke pasar, sementara sang istri menunggu hasil penjualan sapi itu di rumah.

Di tengah perjalanan, ada seorang musafir yang membawa dua ekor domba. Melihat sapi yang dibawa oleh sang peternak, musafir itu pun berkeinginan untuk memiliki sapi itu. Hal ini dikarenakan dia sedang membutuhkan uang yang banyak untuk biaya probatan istrinya yang sedang sakit. 

Sang musafir pun akhirnya memberanikan diri untuk menukar dua ekor dombanya dengan sapi tersebut. Dia pun mengutarakan maksudnya tersebut karena ingin mendapatkan uang yang lebih banyak untuk mengobati istrinya yang sedang sakit di rumah mereka. Dan tanpa disangka sang musafir, ternyata sang peternak itu mau menukarkan sapi miliknya dengan dua ekor dombanya. 

Sang musafir pun bertanya kepada sang peternak.."Apakah istrimu tidak akan marah, jika kau menukarkan sapimu dengan domba-dombaku, wahai tuan?"

"Tentu saja tidak. Istriku adalah istri yang tidak pernah mendebat diriku, dia pasti setuju dengan tindakanku ini. Juallah sapiku itu untuk biaya berobat istrimu" jawab sang peternak tersebut.

Setelah pertukaran itu terjadi, sang musafir itu sangat berterimakasih atas kebaikan hati sang peternak, dan sang peternak pun kembali melanjutkan perjalanan ke pasar. 

Sesaat sebelum  tiba di pasar, dia bertemu kembali dengan seseorang yang menginginkan domba-dombanya itu ditukar dengan ayam jantan milik orang tersebut. 

Orang tersebut ingin memberi makan keluarganya yang kelaparan, tetapi tidak akan cukup jika hanya dengan seekor ayam saja. Tetapi jika dengan dua ekor domba, dia berkeyakinan akan mencukupi kebutuhan makan keluarganya.

Tanpa pikir panjang, akhirnya sang peternak memberikan dua ekor dombanya untuk ditukar dengan seekor ayam jantan tersebut. 

Si pemilik ayam jantan awalnya merasa ragu dengan kebaikan hati sang peternak, dia pun bertanya..."Maaf tuan, apakah nanti istri tuan tidak akan marah jika tuan menukarkan dua domba milik tuan dengan hanya seekor ayam jantan milik saya ini?"

"Tenang saja, saudaraku. Sesungguhnya engkau lebih memerlukan domba-domba ini untuk keluargamu. Istriku pasti akan setuju dengan tindakanku ini. Bawalah kedua dombaku itu, dan berilah makan keluargamu.”

Akhirnya, setelah mengucapkan terimakasih, orang tersebut pun pergi, dan sang peternak kembali melanjutkan perjalanannya dengan membawa seekor ayam jantan tersebut.

Akhirnya, setelah berhasil menjual ayam tersebut, sang peternak pun berniat untuk langsung kembali ke rumahnya. Namun di tengah jalan, dia merasa haus, dan dia pun mampir ke sebuah kedai untuk membeli minum dan beristirahat sejenak. 

Ketika sedang menikmati minumannya, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya. Seorang laki-laki yang terlihat sangat kaya raya.  “Maaf, tuan…tuan terlihat lelah sekali, sepertinya tuan sedang melakukan sebuah perjalanan yang jauh…” sapa si orang kaya tersebut.

Si peternak pun menjawab dengan tenangnya “Benar, tuan. Saya sudah berjalan sejak pagi tadi untuk menjual sapi saya ke pasar. Namun di tengah jalan saya bertemu seorang musafir yang ingin menukarkan dua ekor domba miliknya dengan sapi saya, akhirnya saya pun berikan sapi saya untuk ditukarkan dengan dua ekor domba miliknya.”

“Dan sesaat sebelum saya sampai ke pasar, saya bertemu seorang musafir yang kedua. Dia ingin menukarkan dua ekor domba saya dengan seekor ayam jantan miliknya. Dan saya pun menyetujuinya. Dan akhirnya saya jual ayam jantan tersebut. Dan sekarang saya sedang menuju jalan pulang, tuan.”

Mendengar cerita sang peternak, orang kaya inipun tertegun sebentar. Dia hampir tidak percaya dengan kebaikan sang peternak ini. Akhirnya orang kaya ini pun bertanya kembali.

“Lalu bagaimana dengan istri tuan? Apakah dia tidak akan marah jika dari rumah tuan membawa seekor sapi, tetapi pulang dengan membawa sejumlah uang senilai seekor ayam jantan?”

“Tidak, tuan. Istri saya tidak akan marah. Dia adalah istri yang tidak pernah mendebat saya sekalipun, selama yang saya lakukan adalah sebuah kebaikan. Bertanya alasannya pun tidak pernah.” Jawab sang peternak dengan tenangnya.

“Benarkah demikian, tuan?” Tanya si orang kaya setengah tidak percaya.

“Benar, tuan. Itulah adanya.” Jawab sang peternak, yang kemudian menghabiskan minumannya.

“Baiklah, begini saja. Aku akan ikut ke rumahmu. Aku ingin tahu kejujuranmu dan kepatuhan istrimu kepadamu, tuan…”

“Jika engkau benar dan berkata jujur tentang kepatuhan istrimu itu, maka aku akan memberikan uang sebanyak tiga kali lipat harga sapimu. Tetapi jika engkau berbohong, aku akan menceritakan hal ini kepada khalayak ramai, dan mereka akan melihat bahwa engkau adalah seorang pembohong besar. Bagaimana, tuan, engkau setuju?” orang kaya itu memberikan penawaran kepada sang peternak.

“Baiklah, tuan. Mari kita pergi ke rumahku..” ajak sang peternak.  Maka berangkatlah mereka berdua menuju rumah sang peternak.   

Sesampainya mereka di rumah sang peternak, sang istri peternak tersebut mempersilahkan mereka berdua masuk. Dan tidak lama kemudian, sang peternak pun menceritakan semua yang dialaminya selama perjalanannya menuju ke pasar, tetapi tidak memberitahukan apa yang akan dilakukan oleh orang kaya yang turut ikut ke rumahnya tersebut. 

Dia hanya mengatakan kepada istrinya, bahwa orang yang ikut pulang bersamanya tersebut adalah seorang yang ingin kenal lebih dekat dengan mereka berdua.

Setelah mendengar cerita suaminya, sang istri pun akhirnya berkata bahwa dia dengan senang hati akan menerima uang hasil penjualan ayam jantan tersebut. Dia tidak mempermasalahkan apa yang telah dilakukan oleh suaminya, selama itu dilakukan untuk kebaikan. 

Baginya, meskipun suaminya tadi pagi pergi membawa seekor sapi, tetapi ternyata yang diterimanya adalah rejeki seekor ayam jantan, maka berarti itulah rejeki mereka berdua yang sesungguhnya.

Melihat dan mendengar ketabahan, kesabaran, dan kepatuhan sang istri peternak tersebut kepada suaminya secara langsung, si orang kaya inipun akhirnya merasa terharu dan merasa yakin, bahwa sang peternak ini adalah orang yang memang jujur. 

Tanpa banyak berkata, akhirnya dia pun mengeluarkan sejumlah uang senilai tiga ekor sapi ditambah dengan berkeping-keping emas untuk diberikan kepada suami istri peternak tersebut.

Dari hikmah cerita tersebut di atas, apakah kita semakin yakin bahwa kepatuhan akan kebaikan, tidak mendebat atau tidak selalu beradu argumen dengan orang yang menjadi imam hidup kita, justru sebenarnya akan membawa keberuntungan bagi kehidupan rumahtangga kita, wahai para istri yang solihah? 

Wallahu’allam bisshowab

Jakarta,   13 Agustus 2021

*) Penulis adalah Pemerhati Pendidikan/ Mahasiswa Doktoral Pascasarjana UIKA, Bogor/ Anggota Majelis Pendidikan Pusat Al Washliyah.