Home Opini Indonesia di Antara Api Perang dan Kemarau Panjang

Indonesia di Antara Api Perang dan Kemarau Panjang

445
0
SHARE
Indonesia di Antara Api Perang dan Kemarau Panjang

Oleh: Suko Wahyudi.
Pegiat Literasi, tinggal di Yogyakarta 

DUNIA - Sedang bergerak dalam ketidakpastian yang sulit dibaca dengan peta lama. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat, sementara ancaman fenomena El Niño ekstrem yang dijuluki “Godzilla” mulai membayangi kawasan tropis, termasuk Indonesia. Dua gejala ini tampak berbeda, tetapi sesungguhnya bertemu dalam satu titik: menguji daya tahan sebuah bangsa di tengah krisis global yang berlapis. 

Selama ini, perang sering dipahami sebagai peristiwa jauh, seolah hanya milik kawasan tertentu. Namun, globalisasi telah menghapus jarak itu. Konflik di Timur Tengah segera menjalar ke berbagai belahan dunia melalui jalur energi dan perdagangan. Kenaikan harga minyak, terganggunya rantai pasok, dan tekanan inflasi menjadi konsekuensi yang tidak bisa dihindari. 

Indonesia tidak berada di luar pusaran tersebut. Ketergantungan pada energi impor membuat ekonomi nasional sensitif terhadap gejolak global. Kenaikan harga energi akan merambat pada biaya produksi dan distribusi, yang pada akhirnya membebani masyarakat. Dalam situasi seperti ini, kelompok berpendapatan rendah menjadi pihak yang paling rentan. 

Teror Iklim Global 

Di saat yang sama, ancaman datang dari arah yang berbeda: alam. Fenomena El Niño yang semakin intens tidak lagi bisa dipandang sebagai siklus biasa. Julukan “Godzilla” yang dilekatkan pada fenomena ini mencerminkan besarnya potensi dampak yang akan ditimbulkan. 

Fenomena iklim ekstrem yang dijuluki “Godzilla” El Nino diperkirakan akan memicu peningkatan suhu dan kemarau panjang di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat. 

Badan Riset dan Inovasi Nasional bahkan memperingatkan kemungkinan terjadinya kombinasi El Nino kuat dengan Indian Ocean Dipole positif pada 2026. Perpaduan ini berpotensi memperpanjang musim kemarau dan mengurangi curah hujan secara signifikan. 

Dampaknya segera terasa pada sektor pertanian. Tanah yang mengering, berkurangnya pasokan air, dan meningkatnya suhu akan menurunkan produktivitas. Dalam kondisi ekstrem, gagal panen menjadi ancaman nyata yang sulit dihindari. 

Bagi Indonesia, yang masih menjadikan pertanian sebagai salah satu penopang kehidupan, situasi ini sangat krusial. Penurunan produksi pangan akan berimplikasi pada kenaikan harga dan potensi terganggunya stabilitas sosial. 

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika krisis iklim bertemu dengan krisis geopolitik. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi, sementara penurunan hasil pertanian mempersempit pasokan pangan. Kombinasi ini menciptakan tekanan berlapis yang dapat memperlemah daya tahan ekonomi nasional. 

Dalam konteks ini, pendekatan pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi perlu ditinjau ulang. Pertumbuhan tanpa ketahanan justru akan memperbesar kerentanan ketika krisis datang. 

Arah Ketahanan Nasional 

Indonesia perlu menata ulang prioritasnya dengan menempatkan ketahanan sebagai fondasi utama. Ketahanan energi harus diperkuat melalui diversifikasi dan percepatan pengembangan energi terbarukan. Ketahanan pangan perlu didorong melalui inovasi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim. 

Selain itu, kebijakan sosial harus diarahkan untuk melindungi kelompok rentan. Dalam setiap krisis, kesenjangan sosial cenderung melebar jika tidak diantisipasi dengan tepat. Negara dituntut hadir secara nyata untuk menjaga keseimbangan tersebut. 

Namun, krisis ini tidak semata-mata persoalan teknis. Ia juga menyentuh dimensi yang lebih dalam, yakni moralitas. Konflik yang terus berulang dan eksploitasi alam yang berlebihan menunjukkan bahwa manusia sering kali gagal menahan hasratnya sendiri. 

Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat dalam bentuk nilai gotong royong dan keadilan sosial. Nilai-nilai ini dapat menjadi landasan untuk membangun solidaritas dalam menghadapi krisis, asalkan tidak berhenti pada slogan. 

Perang di Timur Tengah dan ancaman “Godzilla” El Nino pada akhirnya memperlihatkan bahwa dunia modern berada dalam kondisi yang rapuh. Ketergantungan yang tinggi dan ketidaksiapan menghadapi perubahan membuat setiap krisis mudah menjalar menjadi masalah yang lebih besar. 

Di tengah situasi ini, Indonesia tidak cukup hanya bertahan. Ia harus mampu beradaptasi dan melakukan transformasi. Sebab, masa depan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh ketiadaan krisis, melainkan oleh kemampuannya membaca tanda-tanda zaman dan meresponsnya dengan kebijaksanaan. (*)