Home Opini Fokus Pendidikan Indonesia yang Hilang Arah

Fokus Pendidikan Indonesia yang Hilang Arah

141
0
SHARE
Fokus Pendidikan Indonesia yang Hilang Arah

Oleh: Halimatu Sadiah
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta 


Di era persaingan global ini, memaksa negara untuk melahirkan generasi-generasi yang berkualitas dan mudah diterima di industri baik dalam negeri maupun luar negeri. Hal itu mengharuskan pemerintah untuk terus mengembangkan kurikulum yang ada dan disesuaikan dengan kebutuhan industri saat ini. Presiden Indonesia Ir. Joko Widodo pun menegaskan agar perguruan tinggi bisa bekerja sama dengan industri dalam mendidik para mahasiswa agar memiliki pengalaman yang berbeda dari pengalaman akademis semata. 

Mengutip kalimat di medcom.id dalam artikel yang berjudul Berbasis Industri di Kampus Jadi Sebuah Kebutuhan. Brand Communications Manager Kalbis Institute, Raymond Christantyo mengatakan, saat ini perguruan tinggi harus menjadi rumah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik dan nonakademik. Sementara itu, kurikulum menjadi landasan untuk mahasiswa belajar. Sehingga saat mereka lulus, mahasiswa mampu diterima secara cepat di dunia industri dan dunia usaha.” 

Tujuan dari perguruan tinggi sendiri terdapat pada tridharma perguruan tinggi. Terdapat 3 poin yang menjadi isi dari tridharma tersebut, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan serta pengabdian kepada masyarakat. Tiga poin tersebut diharapkan perguruan tinggi dapat melahirkan generasi yang berorientasi, intelektual dan inovatif. 

Jika generasi penerus diarahkan kepada lulusan yang berpotensial diterima di industri, maka mental mahasiswa akan membentuk mental materi. Hal ini sangat berbahaya, apa bahayanya? Yakni mampu mengalihkan mahasiswa dari pendalaman ilmu, menjadi pintu korporasi membajak potensi intelektual generasi, ancaman jangka panjang bagi bangsa karena kehilangan SDM pakar ilmu yang menjadi sumber lahirnya inovasi maslahat bagi rakyat, karen hanya didapati SDM operator mesin industri. 

Akibat dari penerapan sistem kapitalis yang berasaskan manfaat, hal ini membuat masyarakatnya berlomba-lomba dalam mendapat keuntungan tanpa memperdulikan kesesuaian yang seharusnya (fitrahnya manusia). Mahasiswa yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa yang mampu melahirkan inovasi-inovasi untuk perkembangan negeri justru diarahkan menjadi budak industri, maksudnya fokus generasi penerus justru hanya sebatas diterima menjadi karyawan di sebuah perusahaan saja. 

Pendidikan ada untuk mendidik masyarakat agar mempertahankan keseimbangan negara dalam kehidupan. Manusia yang sifatnya lemah mudah berguguran ketika waktunya tiba, membutuhkan penerus yang mampu menata kembali negerinya setelah bergugurannya generasa terdahulu. 

Pendidikan dalam Islam tidak hanya melahirkan generasi intelektual semata namun juga melahirkan generasi  yang berakidah dan memiliki pola pikir Islam, yang siap melayani urusan-urusan umat yang ahli di berbagai bidang. 

Pendidikan dimasa keemasan Islam  telah terbukti melahirkan intelektual yang membawa pengaruh terhadap kemajuan negeri dunia dalam pendidikan hingga saat ini. Para generasi yang lahir dari didikan Islam memiliki kontribusi penuh terhadap urusan-urusan umat.[]