Home Profil Edrida Pulungan, Sang Srikandi Penggerak Perdamaian Lewat Sastra

Edrida Pulungan, Sang Srikandi Penggerak Perdamaian Lewat Sastra

324
0
SHARE
Edrida Pulungan, Sang Srikandi Penggerak Perdamaian Lewat Sastra

Keterangan Gambar : Edrida Pulungan, "Pesan Damai Bumi, Seribu Puisi Perdamaian untuk Dunia" (Foto : ist/pp)

Parahyangan Post - Rasa bangga mungkin itu yang harus dirasakan masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, buku puisi seorang perempuan Indonesia Edrida Pulungan berhasil dipajang di perpustakaan perdamaian dunia di Grand Halle Lavilatte, Paris, Prancis pada 2019 silam.

The Messanger Of Peace: The Thousand Massage For Peace To The World " yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia " Pesan Damai Bumi, Seribu Puisi Perdamaian untuk Dunia" juga ada terjemahan bahasa Prancis, Inggris, Rusia dalam cover belakangnya merupakan karya perempuan kelahiran Padang Sidempuan April 1982 silam menjadi salah satu buku yang dipajang bersama buku dari tokoh negara lainnya sebagai buku perwakilan negaranya di bangunan globe masterpiece peace library yang ada di tengah-tengah Hall.

Untuk diketahui, Beberapa tokoh dunia yang diberikan kesempatan memberikan buku dalam perpustakaan perdamaian adalah Kanselir Jerman Angela Markel, Sekjen PBB Antonio Guttares, dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Ini jadi pengalaman yang indah sedetik yang berharga. Ini juga menjadi sejarah perjuangan sederhana mengharumkan nama bangsa dengan karya, akan jadi cerita klasik yang indah di masa depan pada anak cucu," kata Edrida, sebagaimana dolansir dari MoeslimChoice Magazine.

Menurut Edrida banyak perjuangan yang harus dilakukan agar buku puisi karyanya bisa masuk dalam globe masterpiece peace library dalam acara Paris Peace Forum 2019. Dia menjelaskan proses mulai dari bulan Mei 2019 untuk mengajukan proposal melalui sastra dan budaya dan memmpromosikannya pada duta perdamaian pemuda dari 34 provinsi di seluruh Indonesia.

"Saya akhirnya menerima undangan bulan September dari Paris Peace Forum setelah melalui proses selama lima bulan. Undangan ini merupakan suatu penghargaan dan penghormatan bagi saya karena ide saya semangat saya dalam memperjuangkan perdamaian," ungkapnya.

Staf Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI ini mengaku keinginannya mengikuti forum ini adalah demi menuangkan ide perdamaian yang masih belum terlaksana secara menyeluruh di dunia. Edrida juga mengaku ide-ide sastranya untuk perdamaian muncul usia dipicu potensi konflik serta ketegangan dalam masyarakat Jakarta lantaran pilihan politik beberapa waktu lalu.

Selain itu, Edrida mengaku jika essay dirinya terpilih dari ratusan essay dari para perhimpunan Pelajar Indonesia yang berasal dari mahasiswa Indonesia dari beberapa provinsi dan berbagai negera seperti Wellington, Rusia, Jepang, dan sebagainya untuk mengikuti forum perdamaian ini. "Sehingga dalam forum saya bisa menuangkan ide dan membangun kerjasama serta lebih bergiat dalam membuat karya-karya tulisan serta mempresentasikan ide perdamaian," jelasnya.

"Saya ingin berkontribusi mempromosikan perdamaian melalui sastra, budaya dan kemanusian yakni dengan puisi untuk perdamaian dan motivasi jiwa serta Puisi Perjalanan, yakni mempromosikan kota-kota dan daerah di Indonesia melalui penulisan puisi tentang kota/daerah yang dikunjungi melaui karya puisi," paparnya.

Akibat keberhasilannya di Paris Peace Forum, Edrida juga berhasil mendapat rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai seorang sastrawati Indonesia pertama yang karya bukunya dipajang di Perpustakaan Paris Peace Forum, demikian sebagaimana dilansir Moeslim Choice Magazine.

Edrida pun merasa sangat bangga atas prestasinya itu. Apalagi dia mengaku mendapat banyak dukungan dari pimpinan MURI Jaya Suprana agar tak berhenti berkarya dalam dunia sastra. Tak cuma itu, Edrida pun merasa keresahannnya lantaran sampai saat ini karya sastra Indonesia yang belum pernah dapat nobel dibidang sastra. Selain itu, juga dirinya mengaku banyak melihat sastrawan yang tak merasa bangga dengan karyanya. Meski banyak karya sastra indonesia yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

"Jadi semoga anugerah ini bisa menjadi pembuka jalan bagi sastrawan dan sastrawati Indonesia untuk tak menyerah berkarya dan terus membuat perubahan untuk dunia sastra kita," ungkapnya.

Lebih lanjut, Edrida berharap jika kedepannya sastrawan Indonesia dapat apresiasi lebih dari negara. Pasalnya, banyak negara-negara yang mengabadikan dan menjadikan sastrawan menjadi bagian penting ketimbang politisinya. Padahal menurut Edrida banyak negara yang menyatakan Indonesia sebagai negara yang inspiratif, namun masih kurang dalam menghargai karya sastra. Dia mencontohkan jika di Singapura lebih menghargai karya sastranya ketimbang indonesia.

"Di sana (Singapura) buku menjadi hal menarik untuk masyarakat dan pemerintah. Misalnya kalau buku kita bisa tampil di Internasional Book Fair maka penulis sangat dihargai dan sangat mahal tapi diminati. Biasanya orang dari asing dihargai bukunya dengan harga tinggi, nah kapan Indonesia bisa seperti itu," jelasnya.

Edrida mengaku jika karya sastra seperti puisi atau buku bisa lebih dihargai maka bisa membuat masalah-masalah hoaks yang sudah merajarela di Indonesia bisa berkurang. "Jadi orang yang membuat hoaks itu bisa membuat tulisan yang lebih bermanfaat," tegasnya.

(mcm/rd/pp)