Home Opini Bentuk Adilnya Allah Ta alla

Bentuk Adilnya Allah Ta alla

96
0
SHARE
Bentuk Adilnya Allah Ta alla

Oleh: H. J. Faisal *)

Suatu ketika, ada seorang musafir yang merasa sangat lelah di dalam perjalanannya. Akhirnya, dia pun beristirahat di bawah sebuah pohon yang sangat besar dan rindang. Tidak berapa lama setelah dia duduk beristirahat, dia  menengadahkan kepalanya ke atas, untuk melihat-melihat pohon rindang dan besar tersebut, dan mencoba mencari-cari, siapa tahu ada buah yang bisa dia makan dari pohon itu.

Setelah selesai melihat dan mencari buah apa yang dihasilkan dari pohon tersebut, ternyata dia hanya melihat buah yang kecil-kecil, dan sepertinya tidak bisa dimakan. Karena merasa kecewa, dia pun bergumam di dalam hatinya, “seandainya Allah menciptakan buah yang besar dan bisa dimakan, yang sesuai dengan ukuran pohon ini, pasti pohon ini tidak akan menjadi sia-sia seperti ini.”

Tidak lama setelah ‘protes’ kepada Allah Ta’alla, dan karena rasa lelahnya juga, akhirnya sang musafir itu pun tertidur dengan nyenyaknya, bersandar di batang bawah pohon rindang tersebut.

Tidak berapa lama setelah dia terlelap, tiba-tiba berhembuslah angin yang sangat kencang di sekitar pohon tempat sang musafir beristirahat, sehingga pohon besar dan rindang tersebut bergoyang dan berjatuhanlah buah-buahnya yang ukurannya kecil-kecil tersebut. Bahkan banyak yang menimpa kepala sang musafir yang sedang tertidur di bawahnya.

Karena merasa ada yang menimpanya secara bertubi-tubi, akhirnya sang musafir itupun terbangun dengan terkejutnya. Dia mendapati banyak buah-buah kecil yang masih saja jatuh dan menimpa kepalanya.

Menyadari itu semua, maka menangislah sang musafir, memohon ampun kepada Allah Ta’alla atas segala prasangkanya dan ‘protes’nya yang tidak baik kepada Allah Ta’lla. “Ya Allah, seandainya saja Engkau ciptakan buah-buahan yang besar di pohon ini, maka aku pasti sudah mati tertimpa buah-buahan ini…ampunilah aku ya Allah” ratap sang musafir.

Setelah selesai menyadari kesalahannya, dan memohon ampun kepada Allah, secara tiba-tiba pula angin besar itu berhenti, dan buah-buah pohon tersebut pun berhenti berjatuhan.

Jika kita pikirkan kembali hikmah cerita di atas, mungkin kita akan berpikir, mengapakah Allah Ta’alla meciptakan segala sesuatunya dalam keadaan yang berbeda-beda, atau bahkan di dalam penciptaan yang menurut pikiran manusia tidak adil?

Ada manusia yang diciptakan dalam keadaan baik, sehat, cerdas, kaya, tampan, cantik. Di sisi lain, Allah Ta’lla juga menciptakan manusia di dalam keadaan yang selalu sakit, jahat, bodoh, miskin, tidak tampan, kurang cantik, dan sebagainya.

Atau mengapa Allah Ta’alla menciptakan keadaan alam yang berbeda-beda. Padang pasir yang panas, hutan yang sejuk, kutub es yang sangat beku, ada gunung, sungai, lembah, dan lain sebagainya.

Ya benar, Allah Ta’alla menciptakan semuanya tersebut adalah dengan maksud dan tujuan yang sangat mulia menurut Allah Ta’alla.

Di dalam ajaran Islam, kita hidup hanya sekali, dan hidup ini sebenarnya adalah ujian untuk kehidupan akhirat. Artinya, bagaimanapun keadaan yang diterima oleh hamba-Nya di dunia ini, semuanya merupakan bentuk ujian.

Seperti yang telah Allah Ta’alla firmankan di dalam Al Qur’an, surat Al Mulk, ayat 2, yang artinya:

“ Allah yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk :2).

Dan jika proses  di dalam menjalani segala macam bentuk ujian tersebut, kita jalani dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan usaha nyata untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik, serta kesesuaian dengan syariat yang Allah Ta’alla perintahkan maka itulah yang dinamakan dengan ibadah.

Karena itulah tujuan penciptaan manusia yang paling utama, adalah untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah Ta’alla. Hal ini sesuai dengan ayat Al Qur’an, surat Adz Dzariyat: 56 yang berbunyi:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Al-Dzariyat: 56).

Jadi, bagaimanapun keadaan kita sekarang, sehat menjadi sakit, sakit menjadi sehat, miskin menjadi kaya, atau kaya menjadi miskin, muda menjadi tua, sudah tua tetapi masih terlihat muda, lapang menjadi sempit, sempit menjadi lapang, bodoh menjadi cerdas, sudah cerdas kembali menjadi bodoh, dan lain sebagainya, sesungguhnya adalah merupakan ujian untuk menyempurnakan ibadah kita kepada Allah Ta’alla.

Semoga semua ujian yang kita terima diluluskan oleh Allah Ta’alla. Aamiin ya Allah ya Robbal’alamiin.

Wallahu’allam bisshowab

Jakarta,   21 Agustus 2021

*) Penulis adalah Pemerhati Pendidikan/ Mahasiswa Doktoral Pascasarjana UIKA, Bogor/ Anggota Majelis Pendidikan Pusat Al Washliyah.