Home Opini 23 Tahun Reformasi: Ke Mana Arah Juang Mahasiswa?

23 Tahun Reformasi: Ke Mana Arah Juang Mahasiswa?

96
0
SHARE
23 Tahun Reformasi: Ke Mana Arah Juang Mahasiswa?

Oleh: Nabilah S.,
Alumnus Universitas Indonesia 


SETELAH 23 TAHUN - Pasca reformasi, apakah keadilan telah dimiliki? Nyatanya masih terdapat banyak ketidakadilan serta tuntutan reformasi yang belum terpenuhi. Saat ini keadaan kita tengah dirundung berbagai permasalahan yang belum terdapat solusinya dengan kondisi krisis multi dimensi yang sudah mengakar. Mulai dari iuran BPJS yang naik, karhutlah yang tak kunjung selesai, KKN (dengan ambyarnya berbagai kebijakan), penanganan pandemi yang tidak jelas, termasuk masalah pendidikan mulai dari biaya kuliah yang terus naik padahal para pelajar masih melakukan PJJ sampai ke penetapan kurikulumnya pun tidak jelas. Dan hal ini tentu menjadi concern mahasiswa juga.

Para mahasiswa lantang turun ke jalan untuk menyuarakan suara rakyat, bahkan didukung para dosen dan orang tua, yang juga sudah muak dengan semua kezaliman. Mereka bahkan mengatakan, biarlah para mahasiswa ini kuliah di jalanan untuk suarakan kebenaran. Banyak korban berjatuhan, karena beberapa demo berakhir rusuh. Bahkan ada yang meninggal dunia dan luka-luka. Berbagai upaya telah dilakukan para penguasa untuk meredam aksi mahasiswa, mulai dari perubahan atau revisi UU, perubahan pemimpin bahkan presiden. Rezim penguasa pun tampak panik karena aksi terus bergelombang hingga aparat keamanannya, merespon aksi-aksi ini dengan cara-cara yang represif.

Tapi mengapa solusi yang telah dijalankan tersebut tidak merubah kondisi apa pun? Jika kita lihat, sungguh begitu dahsyat, potensi yang dimiliki oleh pemuda untuk perubahan dunia sehingga wajar ketika melihat permasalahan yang begitu pelik di negeri ini, pemuda mencoba mencari solusi untuk mengatasinya, seperti persoalan korupsi, kriminalitas, krisis identitas, kemiskinan, pendidikan tak layak, dan lain-lain, mendorong kaum pemuda untuk melakukan sebuah perubahan.

Namun sayang, pergerakan mahasiswa hari ini telah gagal memahami akar masalah yang sebenarnya, hingga akhirnya mereka meraba-raba solusi yang tepat untuk mengatasi masalah dalam negeri ini, yaitu mengambil solusi secara demokrasi. Akhirnya persoalan negeri tidak kunjung usai, justru semakin pelik dan menggunung.

Arah pergerakan mahasiswa pun menjadi tidak jelas. Seperti halnya ketika demo revisi UU KPK pada 2019, nyatanya tuntutan yang disampaikan makin beragam. Tak hanya sekadar penolakan terhadap revisi UU KPK, namun sebagian mahasiswa menyuarakan penolakan RUU KUHP, UU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan tapi justru menyuarakan dukungan agar UU PKS segera disahkan. Hal ini terlihat dari munculnya spanduk-spanduk atau poster yang kontennya aneh, dan bisa jadi bertentangan dengan spirit aksi yang muncul diawal, termasuk munculnya simbol-simbol LGBT di dalam area aksi.

Maka wajar jika banyak yang menengarai aksi ini sudah ditunggangi penumpang gelap, di antaranya mereka yang ingin menyuarakan paham liberal dengan cara-cara kotor, bahkan banyak pula yang menengarai bahwa gelombang aksi ini memang didalangi oleh pihak tertentu demi tujuan politik tertentu. Memang sulit dibuktikan, namun nyatanya saat ini tuntutan aksi kian kehilangan fokus. Inilah yang semestinya diwaspadai para mahasiswa yang masih lurus bahwa posisi mereka dianggap strategis untuk menjadi pelopor perubahan hingga banyak pihak yang tak bertanggung jawab ingin memanfaatkan.

Mahasiswa memang sudah seharusnya bergerak sebagai motor perubahan. Mengingat selama ini mereka terus disibukkan oleh beban studi yang kian berat akibat kebijakan pendidikan zalim yang berparadigma kapitalisme. Sebagiannya lagi malah dilalaikan oleh kehingarbirangan di panggung-panggung hiburan. Hal ini membuat mahasiswa pun kini seolah kehilangan idealismenya sebagai agent of change, sekarang justru dialihkan pada masalah-masalah individu yang membuat minimnya jiwa perjuangan mahasiswa saat ini.

Jika hari ini mereka mulai bangun dari tidur panjangnya, maka sesungguhnya ini merupakan pertanda baik bagi masa depan masyarakat. Hanya saja pergerakan mahasiswa ini tak boleh lagi berhenti pada isu-isu yang bersifat pragmatis, melainkan harus dilandasi pemikiran strategis ideologis. Terlebih jika dicermati semua masalah yang muncul di tengah-tengah masyarakat hanya merupakan dampak dari penerapan sistem yang rusak dan telah terbukti kerusakannya, yakni sistem demokrasi sekularisme yang akan terus menghasilkan berbagai aturan yang tak memanusiakan manusia, tapi justru mengamankan para kapital dan melanggengkan kepentingan penguasa.

Banyaknya kondisi masalah yang dihadapai negeri ini, tentu ada masyarakat yang menghendaki perubahan rezim, ada pula yang ingin perubahan sistem. Namun, tentu setiap pihak yang ingin perubahan tersebut tak ingin perubahan itu hanya bersifat temporal dan tidak mampu mencabut semua masalah. Ibarat dokter, sebelum menentukan penanganan dan obatnya, jelas dia harus mampu mendiagnosis secara tepat penyakit yang diderita pasiennya. Demikian pula bagi pelaku perubahan. Perubahan akan membawa pada kondisi yang lebih baik bila terpenuhi filosofinya, yaitu: Pertama, harus tahu apa masalah yang dihadapi dan penyebab masalah tersebut. Dengan kajian mendalam atas semua realitas yang terjadi, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia, akar masalah mendasar yang dihadapi seluruh negara adalah karena diterapkannya sistem kapitalisme. Penjajahan fisik memang terhenti, namun begitu selesai terjadilah penjajahan ipoleksosbudhankam (ideologi, politik, sosial, budaya, dan hankam). AS memaksakan pasar bebas demokrasi dan paham sekularis liberalis. Akibatnya terjadi krisis multi dimensial.

Kedua, bagi pelaku perubahan harus memahami perubahan itu harus mengarah pada kondisi ideal. Kondisi yang mampu menghilangkan segala masalah itu. Dengan tuntunan wahyu Allah SWT, Sang Pencipta dan Sang Pemilik alam semesta, kondisi ideal akan terjadi bila diterapkan Islam secara menyeluruh. Hal ini karena realitasnya telah membuktikan di dalam sejarah ketika Islam diterapkan secara menyeluruh di tengah muka bumi ini, masalah-masalah mendasar manusia relatif terkendali karena penerapan aturan-aturan syariat Islam secara kaffah.

Ketiga, untuk mencapai perubahan tersebut, pelaku perubahan harus memiliki peta jalan yang benar. Peta tersebut harus merujuk pada satu-satunya tauladan yang kita miliki, yaitu metode perubahan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. InsyaAllah, petunjuk wahyu akan memandu kita pada jalan perubahan hakiki, bukan sekedar ganti orang dan rezim saja.

Jika mahasiswa mengatakan saat ini terjadi sakaratul maut pada demokrasi atau demokrasi diujung tanduk, maka sudah saatnya mahasiswa mencampakkan demokrasi dan mengakhirinya. Reformasi digulirkan hanya sebatas bagaimana menumbangkan rezim. Reformasi tidak memperjuangkan siapa orang yang ideal yang menjadi pengganti pemimpin pada saat itu dan sistem apa yang paling ideal untuk bisa membawa Indonesia menuju kesejahteraan yang hakiki.

Maka dari itu, mengganti dengan Islam yang dijamin oleh Allah dapat menyelamatkan kondisi negeri ini dari kehancuran. Oleh karena itu mahasiswa wajib memperjuangkan ideologi yang benar, yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Sungguh perubahan hakiki tak akan diwujudkan hanya dengan seruan tuntaskan reformasi dan membiarkan sistem sekuler demokrasi berjalan. Terlebih demokrasi jelas-jelas telah membuat suara mahasiswa terbelah, tak punya visi jelas. Akan tetapi perubahan hakiki akan terwujud dengan ideologi Islam. Inilah jalan revolusi pemikiran dan perjuangan tanpa kekerasan ke arah penerapan Islam affah.

Maka sebagai mahasiswa untuk mewujudkan perubahan yang hakiki tersebut harus berani untuk speak up. Mengkaji Islam secara menyeluruh, mengikuti pembinaan Islam dengan serius dan menyampaikan kebenaran ke tengah-tengah umat. Para pemuda terutama mahasiswa harus berjuang bersama-sama dalam menyadarkan umat betapa penting dan butuhnya kita terhadap aturan Islam. Jangan malu untuk menunjukan identitas kita sebagai Muslim kaffah dan jangan malu untuk menjadi pengemban dakwah Islam. Bersama-sama menjadi penyelamat umat. Jadikan tujuan hidup kita mulia untuk meraih surga-Nya.

“Karena itu berdakwahlah dan beristiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepada kamu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (TQS asy-Syura [42]: 15)