Ekbis

Ekonomi Masjid

Umat Islam Pasti Jadi Pemimpin Ekonomi di Tanah Air

Administrator | Minggu, 25 Februari 2018 - 07:46:14 WIB | dibaca: 637 pembaca

Ketua Umum DEMI Ustad Valentino Dinsi (duduk) dan Ketua DKM Masjid Darul Ittihad, Ahmad Musodiq. (foto lutan)

Jakarta, parahyangan-post.com Umat Islam Indonesia mempunyai energi besar untuk menggerakkan ekonomi bangsa sehingga mampu menjadi pemain utama di tanah air. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Dewan Ekonomi Masjid Indonesia (DEMI) Ustad Valentino Dinsi pada Kajian Ekonomi Ummat  yang diselenggarakan DKM dan Majlis Taklim Masjid Darul Ittihad, Komplek Perumahan Jatisari Permai, Jatisari, Jatiasih,  Kota Bekasi, Sabtu 24/2.

“Kita harus optimistis bahwa kita mampu, “ tegas pendiri waralaba KitaMart 212 ini.

Dinsi menceritakan bagaimana dia menginisiasi lahirnya KitaMark yang kini jumlah otletnya mulai menjamur di seluruh tanah air.

“Setelah peristiwa bersejarah 2 Desember 2016, atau yang dikenal 212, saya berpikir keras. Setelah berkumpul apalagi? Apakah kekuatan besar itu hanya sekadar berkumpul saja? Sangat rugi kalau cuma sampai di situ. Maka saya menggagas untuk melahirkan waralaba KitMart 212,” kenang Dinsi.

Namun Dinsi mengingatkan,  jangan membandingkan KitaMart dengan waralaba sejenis yang sudah berumur puluhan tahun dan mempunyai otlet puluhan ribu dengan omzet triliunan rupiah, saat ini. Kalau untuk membandingkan harus obyektif dengan parameter yang setara.

“Tetapi kita sudah mulai, dan kita memulainya dengan momentum yang baik. Respon umat cukup bagus. Tinggal bagaimana kita mengelolanya,” tandas Dinsi.

Dinsi meyakinkan masyarakat,  dengan design ekonomi yang dirancangnya, KitaMark 212 akan  menjadi motor penggerak eknomi umat Islam sehingga mampu menjadi pemain utama. Untuk itu ia berharap majlis-majlis taklim di seluruh Indonesia tidak ragu menjadi pemodal dan mendirikan KitaMart 212 di wilayahnya, karena kekuatan ekonomi umat itu ada di Masjid.

“Design ekonomi KitaMart 212 dirancang dari umat, untuk umat. Yang punya umat, yang belanja umat, barang-barang yang dijual sebagian besar adalah produksi umat. Dengan sendirinya yang memperoleh keuntungan juga umat,”  tegasnya,

Jika umat Muslim konsisten,  lanjut Dinsi, sepuluh atau dua puluh tahun lagi barulah bisa membandingkan KitaMart dengan waralaba sejenis.

“Dan saya yakin kita akan menang,” yakin Dinsi.

Di bagian lain tausiahnya Dinsi juga mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia saat ini  dikuasi oleh segelintir pemain dari etnis tertentu. Sementara umat Islam yang jumlahnya sangat besar hanya menjadi pasar dan penonton. Bahkan ada konlomerat yang menguasai lahan 5 juta hektar.

Fakta ini menyedihkan, tetapi kita tidak hanya bisa marah-marah, ngamuk dan demo. Umat Islam Indonesia harus berbuat dan merebut dengan cara-cara yang elegan.

“Yakinlah kita mampu. Kita mempunyai energy yang cukup besar. Saya mempunyai referensi pemerintahan Turki dibawah kepemimpinan PM Erdogan. Erdogan mampu membalikkan situasi ekonomi Turki dalam tempo singkat, dan kini Turki menjadi salah satu pemimpin ekonomi dunia.

Jadi, daripada marah-marah,  lebih baik mulai membangun bangsa dengan membangun ekonomi. Belanja di warung sendi, beli produksi buatan sendiri, bikin koperasi majlis taklim dan dirikan waralaba sendiri. Pasti yang untuk adalah umat Islam sendiri,” pungkasnya.*** (lutan)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)