Opini

C E R P E N : ISMAIL LUTAN

Timbangan Keadilan

Administrator | Jumat, 04 Agustus 2017 - 10:36:07 WIB | dibaca: 218 pembaca

Timbangan dosa-pahala Atok sama, jarum keadilannya tidak bergerak ke kiri maupun ke kanan. Malaikat bingung, kemudian melaporkan kepada Tuhan.Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana terdiam sejenak, kemudian bertitah.

“Beri Atok kesempatan kedua!”

*

Malaikat kemudian mendatangi Atok yang masih terpana tak percaya akan seimbangnya neraca amal baik dan amal buruknya. Karena sebelum mati ditabrak truk sampah di simpang Semanggi yang baru diresmikan,  ia yakin akan masuk sorga sebab ia taat ibadah dan  banyak berbuat baik. Apalagi setelah kematiannya, doa perkabungan yang  disampaikan, keluarga, masyarakat dan orang-orang yang simpati padanya di medsos seperti  facebook, twitter dan whatsapp sempat menjadi viral.

“Kembalilah ke bumi, perbaiki neraca keadilanmu. Di sini hanya ada dua jalan. Jalan neraka atau jalan sorga. Tidak ada jalan tengah!” kata Malaikat.

Kemudian malaikat menendang Atok hingga tubuhnya melayang-layang di angkasa.

*

Tubuh Atok  jatuh di Teluk Jakarta dalam wujud seekor kodok. Kembali  Atok terjengah.

“Kebaikan apa yang bisa dilakukan seekor kodok di Teluk Jakarta ini?” herannya.

Namun Atok tetap berprasangka baik kepada Tuhan. Ia yakin keputusan apa pun yang diambil Tuhan untuknya adalah yang terbaik.

Maka dengan wujud seekor kodok itu Atok menyisir teluk Jakarta, mulai dari  sisi belahan Timur, yakni dari rumah Sipitung Marunda sampai ke ujung Barat di Pantai Indah Kapuk. Ia lewati pelabuhan Tanjung Priok yang sibuk dengan kegiatan ekspor-impor, ia loncati makam Mbah Priok yang riuh oleh solawat dan zikir, ia pun berselancar di Pantai Ancol bersama orang-orang berbikini, kemudian ikut lelang ikan tangkapan nelayan di Muara Angke , sampai akhirnya kelelahan di Pantai Indah Kapuk.

Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu dan berbulan-bulan,  Atok menyisiri Teluk Jakarta mencari perbuatan baik yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki timbangan amalnya.

Atok akhirnya kelelahan, dan ketiduran.

“Sepertinya semua perbuatan baik sudah diambil orang Jakarta. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki timbangan amalku,” keluhnya seakan putus asa.

*

Di saat  sedang putus asa itu Atok melihat puluhan, bahkan mungkin ratusan orang bergerombol, berwajah sangar, atau disangar-sangarkan, sambil marah-marah, bahkan sangat marah. Mereka adalah orang-orang akar rumput dan nelayan. Dengan tubuh bermadikan keringat, dan rahang mengerang, dan  kepalan membaja, dan mata merah…,  mereka berteriak-teriak.

“Stop reklamasi, hentikan perusakan lingkungan, kembalikan teluk Jakarta kepada nelayan, jangan jual Jakarta kepada aseng…”

Juga mereka mengusung spanduk-spanduk bertuliskan “Adili  gubernur,  Uji materi  keputusan gubernur ke Mahkamah Konstitusi…”

Para  ‘serdadu demo’ itu tak kenal lelah menyuarakan aspirasi usungannya. Panas terik yang menyengat tak mereka hiraukan.  Malah semakin panas suhu teluk Jakarta, semakin lantang pula orasinya.

Atok yang melihat semangat rakyat tertindas yang tak kenal lelah ini langsung bersimpati.

“Jika ini kebaikan yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki timbangan amalku,  maka aku akan berjuang untuk mereka. Aku akan memenangkan mereka di Mahkamah Konstitusi. Ya, MK, di situ adalah wakil keadilan Tuhan di bumi, aku akan menangkan mereka di situ,  ” putus Atok.

Kemudain Atok menemui Ketua demo yang sedang berlindung di balik kapal rongsokan milik nelayan.

“Pak, saya bisa membantu perjuangan Bapak yang luhur dan sangat terpuji ini,” ujarnya.

Sang Ketua demo itu terpana dan kaget. Dia terdiam sejenak, memandang dengan sinis, kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Apa sih yang bisa dilakukan kodok untuk membantu perjuangan rakyat ini? Dasar kodok,” seringainya sinis dan merendahkan.

Namun asisten ketua ketua demo yang berdiri di sampingnya, tampak sedikit arif.

“Ssstt… Bos,”  dia menyikut bosnya,  “dalam perjuangan,  suara darimana saja harus dimanfaatkan. Dengarkan dulu apa yang  ia tawarkan!”

Sang ketua terpengaruh oleh asistennya, kemudian  menurunkan tensi.

“Ya,ya… apa yang kamu tawarkan untuk membantu perjuangan rakyat melawan kesemena-menaan penguasa ini?” ia berbalik ke arah kodok.

“Aku bisa menjadi pengacara Bapak di pengadilan Mahkamah Konstitusi,”  jawab Atok.

Kali ini ketua demo itu tak bisa lagi menahan tawanya, maka ia pun tertawa sekeras-kerasnya.  Dan tawanya itu menjadi pemandangan yang lucu di tengah suara amuk serdadu-serdadu demo yang marah bermandikan keringat asin dibakar terik ini.

Asisten demo segera menghentikan tawa bosnya itu agar tidak menjadi pemandangan yang mencolok dan kontraproduktif.

“Bos…,” ia menginjak kaki bosnya, “tahan tawanya, Bos. Anak-anak tuh melihat!” ia menunjuk ke arah serdadu-serdadu demo yang terusik oleh suara tawa yang tak lazim itu.

Sang ketua demo cepat sadar dan menghentikan tawanya. Kemudian asisten ketua demo melanjutkan, 

“Bos. Ini tawaran menarik. Yakinlah ini sangat menarik. Karena kalau kita mau  gila jangan tanggung-tanggung Bos. Kita harus gila benaran. Ini kegilaan yang sesunguhnya dari perjuangan kita. Ini akan mengemparkan dunia, akan menjadi sejarah dunia, akan masuk guinness book of the record.  Kita menghadirkan pengacara kodok di persidangan Mahkamah Konstitusi! Ingat bos… kita menghadirkan kodok sebagai pengacara di pengadilan paling beradab di seluruh dunia. Ini pertama kali terjadi dan akan menggemparkan dunia!” asisten ketua demo itu memborbardir sang ketua.

Otak sengkarut ketua demo cepat encer, dan melihat peluang yang lebih besar di depan mata. Lebih besar dari sekadar fee  dan uang lelah mengumpulkan masyarakat akar rumput untuk marah-marah di bibir pantai Jakarta ini.

“Ya,… ya,…, ya… Ini akan menggemparkan dunia, ya. Dunia pasti gempar!” sambutnya tegas, gembira dan penuh dengan imajinasi kemenangan.  Kemudian di mengelus-elus kepala kodok.

“Baik, saya terima bantuanmu. Ayo mari berjuang untuk kepentingan masyarakat yang teraniaya,” ujarnya, bak sabda.

*

Pengadilan itu penuh sesak, terutama oleh simpatisan, dan  perwakilan penggugat yang akan  melakukan uji materi undang-undang reklamasi teluk Jakarta.

Sementara  wakil pihak tergugat juga tampak berwibawa, dan terkesan jumawa. Mereka yakin kemenangan akan berada di tangannya, karena ia mewakili pihak yang berkuasa.

Saat ketua demo menghadirkan kodok sebagai kepala tim pengacaranya, ruangan sidang gempar, heboh dan bergemuruh. Ketua tim pengacara tergugat langsung protes.

Contempt of court… contempt of court… contempt of court…!” teriaknya berulang-ulang.

Ketua hakim yang mulia pun mengetuk palu berulang-ulang untuk  menenangkan pengunjung dan para pihak yang berperkara.

“Di sini aku yang berkuasa, aku yang memegang palu, aku yang menentukan boleh-tidaknya seseorang bersaksi atau menghadirkan pengacara dan barang bukti,” teriaknya berwibawa.

Wibawa ketua hakim itu sangat kuat pengaruhnya sehingga dalam sekejap saja ruang sidang tenang, bahkan sunyi, seakan-akan malaikat sedang lewat.

Ketua hakim yang mulia itu memandangi lekat-lekat sang kodok yang jongkok di kursi pengacara. Pandangan ketua hakim itu sangat tajam, seolah-olah menembus jantung sang kodok.

Dalam pandangan mata ketua hakim yang tajam  itu, ia seakan melihat kecebong. Sang hakim memang penyayang kecebong. Di rumahnya ada aquarimum kecebong yang dipeihara anaknya.

Setelah sekian lama memandang kodok yang jongkok di meja pengacara itu hakim berkata.

“Kebenaran bisa datang dari mana-mana. Tidak mesti dari penguasa atau dari orang yang dikuasai. Keadilan adalah titah Tuhan, dan kami para hakim adalah wakil Tuhan di bumi. Kami adalah orang yang sudah lepas dengan diri kami, tak mempan lagi disuap dengan uang, apalagi dengan perempuan. Tidaklah mungkin kami memanipulasi keadilan itu.  Maka atas nama keadilan itu saya memperbolehkan kodok itu sebagai pengacara pihak penggungat!”

Ruangan kembali bergemuruh, namun ketua hakim kembali menenangkan dengan ketokan palunya. Dan persidangan pun bisa dimulai

*

Atok yang berwujud kodok ini memulai pembelaan.

“Bapak hakim yang mulia,”  suara Atok berwibawa,  “Saya sangat, terkesan dan terpesona dengan argumentasi Bapak hakim yang telah mengizinkan saya sebagai pengacara masyarakat yang menggugat reklamasi teluk Jakarta ini, karena saya yakin kelompok masyarakat yang menggugat itu adalah pejuang.” Atok berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.

“Benar  pak hakim, keadilan bisa datang dari mana-mana. Juga dari seekor kodok.”  Atok menahan nafas, memberi ruang kepada pengunjung dan para hakim untuk memberi penilaian.

“Dengan argumentasi itu Bapak hakim yang mulia telah menunjukkan kwalitasnya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Wakil Tuhan yang bekerja berdasarkan hati nurani yang tidak bisa diintervensi oleh pihak mana pun. Bapak hakim  bekerja untuk keadilan dan atas  nama keadilan itu sendiri. Saya yakin Tuhan di Atas sana akan  tersenyum dengan keputusan bapak ini.” Atok berhenti cukup lama mengumpul-ngumpulkan memori pembelaan lain.

Ketua hakim yang sudah sepuh dan sebenarnya tidak mempan sanjungan itu, berbunga-bunga juga hatinya. Tapi tetap menjaga wibawa sehingga tak kelihatan dari mimiknya bahwa dia senang. Atok kembali melanjutkan.

“Saya akan melakukan pembelaan kepada kawan-kawan ini tidak berangkat dari substansi, melainkan dari argmentasi, sebab saya yakin substansi keadilan tidak ada di ruang sidang ini. Substansi keadilan ada  disaat kejadian berlangsung. Jadi tidak bisa diusung ke ruang pengadilan yang mulia ini.”

Ketua hakim kembali terpesona oleh cara kodok itu melakukan pembelaan. Namun sebenarnya bukan pembelaan itulah yang membuat ia bersimpati, melainkan kepada wujudnya. Pada wujud kodok  itu ia melihat kecebong, karena kodok berasal dari kecebong.  Sementara bapak hakim adalah penggemar berat kecebong.

Dan memang begitulah… dengan pembelaan yang tidak substansial, hanya mengandalkan retorika dan argumentasi, Atok berhasil memikat hati sang hakim. Hakim kemudian memenangkan tuntutan pada penggugat.

Ketua demo bersorak riang, karena tuntutannya menang. Di matanya sudah terpampang puluhan kasus lagi yang akan ia usung dengan demo-demo yang lebih keras. Ia semakin percaya diri dan yakin jasanya akan semakin banyak dipakai, terutama oleh orang-orang partai.

Sementara Atok jauh lebih senang, harapannya berjumpa Tuhan dengan timbangan keadilan  amal baik yang lebih banyak akan terwujud, dan jika amal baiknya lebih banyak tentu malaikat akan membimbingnya ke surge.

*

Waktu untuk Atok memperbaiki timbangan amalnya sampai sudah. Malaikat kembali menjemputnya ke bumi. Dan Atok telah siap dipanggil.  Berbekal kemenangan di persiangan MK itu ia yakin timbangan amalnya akan lebih berat dan malaikat akan membuka pintu sorga untuknya.

Malaikat yang menjemput  tidak melakukan timbangan ulang, melainkan langsung membawanya menghadap Tuhan.  Dan Tuhan yang Maha Adil dan Maha Bijaksana tak berkata apa-apa. Airmata-Nya menetes. Tuhan menangis .

***

 

Jakarta, 29 Juli 2017










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)