Disaster

STAF KHUSUS PRESIDEN TERIMA KUNJUNGAN PENGURUS KP2C

Administrator | Rabu, 21 Februari 2018 - 09:39:43 WIB | dibaca: 355 pembaca

30.000 jiwa dari 24 perumahan terancam banjir

KP2C diminta kembangkan kemitraan

Jakarta, Parahyangan Post -- Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) diminta untuk segera mengembangkan kemitraan dan koordinasi dengan pemerintah dan pihak terkait agar potensi banjir yang kerap melanda perumahan di sepanjang aliran sungai Cileungsi dan Cikeas dapat ditangani.

Pasalnya, ada sekitar 30.000 jiwa dari 24 perumahan di sekitar kedua sungai tersebut  kerap terancam banjir saat hujan deras mengguyur  hulu sungai.

Permintaan itu dikemukakan Diaz Hendropriyono, Staf Khusus Presiden Joko Widodo, saat menerima kunjungan perwakilan KP2C di kompleks Sekretariat Negara, Jakarta, Senin (19/02/2018)

Menurut Diaz, pemerintah harus hadir dalam setiap bencana atau upaya-upaya penanggulangan bencana. Untuk itu  KP2C diminta   bermitra dan berkoordinasi  dengan pemerintah pusat maupun daerah. 
"Saya  mengingatkan di mana seharusnya peran pemerintah itu hadir," ujar Diaz yang saat itu didampingi sejumlah stafnya.
 
Dalam pertemuan tersebut, KP2C mendesak pemerintah agar segera melakukan empat tindakan untuk menyelamatkan puluhan ribu warga  di puluhan perumahan dari ancaman banjir sungai Cileungsi dan Cikeas. Kedua sungai ini melintasi wilayah Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi, yang terletak di Provinsi Jawa Barat. 

"Empat tindakan itu  adalah normalisasi kali Cileungsi, penguatan tanggul sungai, pembangunan waduk di hulu sungai, dan pembangunan pengendali air," ujar Puarman, Penasihat KP2C dalam pemaparannya.

Hadir dalam pertemuan 1,5 jam itu sembilan Pengurus KP2C yang dipimpin Ketuanya Verry Hendrawan. Pengurus yang hadir: Angling Jaya (Penasihat), Fairiko (Bendahara), Partomo & Yulianto (Divisi Perencanaan & Kegiatan), Sancoyo Raharjo & Sri Pudjiastuti (Divisi Kemitraan & Hubungan Antar  Lembaga), dan Sigit (Divisi Data).

Menurut Puarman, normalisasi sungai Cileungsi perlu dilakukan karena sudah mengalami pendangkalan. "Dulu perjalanan air sungai   dari pos pantau KP2C  di hulu Cileungsi ke  pos pantau di P2C  (berlokasi di dekat Perum Pondok Gede Permai, Jatiasih, Bekasi) sekitar 4-5 jam, sekarang 3-4 jam. Air juga cepat meninggi sehingga potensi banjir semakin mengancam 24 perumahan terdampak yang ada di sekitar  sungai Cileungsi maupun Cikeas," ujar Puarman.

Puarman juga mengatakan bahwa saat ini sejumlah tanggul yang berada di perumahan tidak kokoh. "Tanggulnya nangkring sehingga rawan jebol," terangnya. 

Pembangunan waduk juga diharapkan dilakukan pemerintah di  kedua hulu sungai. "Seperti yang dilakukan pemerintah atas instruksi Presiden Jokowi di hulu sungai Ciliwung," ujar Puarman.

Tak hanya itu. KP2C juga mendorong pemerintah untuk membangun pengendali air. Lokasinya di antara Curug Parigi dan Kota Wisata, Kabupaten Bogor. "Dengan adanya pengendali air semacam pintu air, volume air yg datang dari hulu Cileungsi bisa dikendalikan," jelas Puarman.

Sebagaimana diketahui, area hulu sungai Cileungsi memiliki hamparan seluas 26 ribu hektare dan hulu Cikeas  sekitar 11 ribu hektare. Dengan demikian, dampak potensi banjir terbesar akan datang dari hulu Cileungsi.

"Selama 12 tahun saya mengamati kedua sungai, sebesar apapun debit air dari Cikeas tidak akan menyebabkan banjir di hilir jika Cileungsi normal. Tidak begitu dengan Cileungsi, ketika debit air meningkat, potensi banjir mengancam," tutur Puarman.

Itu sebab penanganan potensi banjir, menurut Puarman, harus dilakukan di sungai Cileungsi, yang juga kerap menjadi lokasi pembuangan limbah yang diduga dilakukan sejumlah pabrik dan rumah tangga.

Banjir beberapa kali melanda permukiman yang berada di sepanjang Cileungsi dan Cikeas. Dua tahun lalu, tepatnya 21 April 2016, banjir terparah terjadi yang mengakibatkan seluruh perumahan di sepanjang sungai terendam. Dilaporkan, banjir merendam diantaranya perumahan Pondok Gede Permai (PGP) di Jatiasih, Kota Bekasi, setinggi 5 m; Vila Jatirasa juga di Kota Bekasi; hingga  Perumahan Vila Nusa Indah, Bojongkulur, Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Saat itu telemetri (alat pantau) di P2C (berlokasi di PGP, titik bertemunya limpahan air Cileungsi dan Cikeas) menunjukkan elevasi di atas 660 cm. Saat itu lokasi titik pantau di hulu Cileungsi terdata di level 500 cm dan hulu Cikeas 300 cm.

Peringatan Dini

Akibat dampak banjir yang begitu hebat di tahun-tahun sebelumnya, pada 5 Maret 2016 beberapa warga membentuk Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C). Komunitas independen beranggotakan 17 orang pengurus ini memiliki tujuan utama, di antaranya menyebar-luaskan informasi berupa data tentang peringatan dini Tinggi Muka Air (TMA) di kedua hulu sungai dan P2C, selain juga edukasi potensi ancaman banjir. 

Dengan informasi ini, warga terdampak bisa mempersiapkan segala hal 4-6 jam sebelum air sungai dari hulu sampai di lokasi perumahan. Ketika air meluap memenuhi perumahan mereka, warga sudah lebih dulu menyelamatkan  harta benda dan diri. 

"Sebelumnya kami selalu gelisah kalau hujan deras, karena tidak ada informasi apapun yang kami terima jauh-jauh sebelumnya. Dengan ada KP2C kami tenang sekalipun berada di luar rumah," ujar seorang warga dalam testimoninya di salah satu  grup WA KP2C. Testimoni senada juga banyak berdatangan dari members KP2C lainnya.

Informasi TMA dibagikan ke sedikitnya 7.000 members KP2C melalui 12 grup WA dan satu Telegram, serta FB dan twitter dengan 1000 followers. Diperkirakan ada sekitar 60.000 lebih warga masyarakat yang secara tidak langsung menerima informasi TMA dari KP2C melalui members KP2C.

Dalam kondisi normal, info TMA dikirim petugas KP2C dua kali -- pagi dan sore --  setiap hari sepanjang tahun, baik di musim hujan maupun kemarau. Namun bila ketinggian air di hulu, khususnya Cileungsi, naik signifikan, info TMA diberikan setiap setengah jam, bahkan real time saat TMA naik dramatis.

"Tugas kami menenangkan masyarakat melalui info TMA dan menginfokan potensi terjadi tidaknya  banjir. Warga memang sangat  berharap dengan info TMA, sekarang bertambah lagi dengan berharap bagaimana agar potensi banjir di permukiman mereka bisa diminimalkan, di antaranya dengan merealisasikan empat rekomendasi KP2C itu," ujar Puarman.

"Kami juga ingin agar penanganannya dilakukan secara permanen dan komprehensif, tidak sepenggal sepenggal," jelas Puarman yang diamini Verry dan pengurus lainnya. 

Dengan dukungan donasi members, KP2C saat ini mampu memberikan honorarium bulanan kepada petugas pantau di Cileungsi,  Cikeas dan Cibongas (titik pantau terbaru yang masih dalam analisa KP2C), dan tali asih kepada beberapa relawan lainnya, termasuk perangkat kerja seperti sepatu booth, senter, hingga jas hujan. 

"Belum sekalipun kami menerima bantuan dari pihak manapun kecuali members. Namun kemitraan sudah kami kembangkan dengan 24 mitra kerja, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Perum Jasa Tirta (PJT) II, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Bina Marga dan Tata Air Kota Bekasi, Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT), Polri, Koramil, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), pejabat pemerintah lokal dan beberapa lainnya, termasuk berkoordinasi dengan petugas Bendung Bekasi," ujar Ketua KP2C Verry Hendrawan menambahkan.

Sekolah Sungai

Dalam pertemuan penuh keakraban itu,  Diaz Hendropriyono yang begitu detil mencari tahu duduk soal potensi banjir yg diakibatkan meluapnya kedua sungai tersebut menyatakan akan meneruskan rekomendasi KP2C kepada pihak terkait. "Untuk yang skala nasional, kami akan bantu," tandas Diaz.

Diaz juga nenyambut baik undangan KP2C untuk membuka "Sekolah Sungai" yang segera digelar dalam rangka peringatan HUT KP2C  kedua yang jatuh pada 5 Maret 2018.

"Saya berencana juga untuk meninjau langsung lokasi sungai seperti di P2C agar lebih jelas memahami persoalan yang dihadapi warga di sana," ujar Diaz. - SR










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)