Opini

Pancasila

Perlukah Jargon Menanamkan Ideologi? Oleh Ismail Lutan*

Administrator | Kamis, 08 Juni 2017 - 08:46:38 WIB | dibaca: 396 pembaca

IsmailLutan

Hari-hari belakangan, sejak Pancasila dinyatakan lahir secara resmi tanggal 1 Juni, bergema jargon di seantero pelosok negeri. “Aku Indonesia, Aku Pancasila”. Beberapa tokoh penting menggaungkannya dalam berbagai pertemuan akbar, dan beberapa tokoh populer memasang tags itu di laman pribadi medsosnya.

Apakah menyatakan rasa ke-pancasilaan perlu jargon?

Rasanya iya. Dan itu dibutuhkan, terutama oleh pemerintah untuk membangun image. Kita ingat misalnya di masa-masa perang kemerdekaan, teriakan “Merdeka atau Mati” mampu menumbuhkan semangat juang pahlawan.

Namun kalau ada orang, atau kelompok orang tidak membutuhkan jargon untuk menyatakan rasa ke-pancasilaannya, bahkan lebih suka diam, apakah salah? Tentu pula tidak. Karena tidak ada keharusan memakai jargon untuk menyatakan rasa ke-pancasilaan.

Jadi tidak ada yang salah ketika seseorang menyatakan ke-pancasilaannya dengan menggunakan jargon dan yang tidak menggunakan jargon.

Yang akan menjadi masalah ialah ketika penggunaannya dipaksakan dan menjustifikasi orang-orang yang tidak sepaham sebagai pihak yang anti pancasila.

Misalnya orang yang tidak mau menggunakan jargon “Aku Indonesia, Aku Pancasila”  dinyatakan sebagai pihak yang tidak pancasilais. Begitu juga sebaliknya, kelompok orang yang menyatakan rasa ke-pancasilaannya dengan diam menjustifikasi  orang-orang yang suka jargon sebagai pancasilais karbitan.

Kedua sikap ini tentu kontra produktif.

*

Ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi ketika rasa ke-pancasilaan disuarakan dengan jargon. Misalnya begini, seorang tokoh, katakanlah penyanyi terkenal, dengan berapi-api menyatakan di berbagai konsernya “Aku Indonesia, Aku Pancasila”.

Beberapa hari kemudian dia tersangkut kasus narkoba dan masuk penjara.

Maka orang akan dengan mudah membuat analogi matang. “Aku Pancasila, Aku masuk penjara. Maka “Pancasila Masuk Penjara.” 

Hahhh… Pancasila masuk penjara? Apa kata dunia!

*

Hari ini (7/6) Presiden Jokowi  melantik Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Terdiri dari 9 tokoh yang ke-pancasilaannya tidak diragukan. Ada Ibu Megawati sebagai ketua.  Baik secara historis maupun pengabdian perjuangannya, Beliau adalah Pancasila sejati. Darah dan dagingnya (kalau dibedah) boleh dikatakan isinya adalah Pancasila. Ada Bapak Mahfud MD yang integritas dan kredibilitasnya tidak diragukan. Ada Pak Try Sutrisno yang mantan Wapres, Buya Syafi’i Ma’arif, KH Ma’ruf Amin dan yang lain.

Mereka adalah “Sembilan Wali Negara” yang akan mengawal Pancasila. Kita yakin akankeikhlasan dan ketulusan perjuangan mereka untuk mengawal Pancasila agar selalu berada di jalur yang benar, karena kita sebagai bangsa sudah sepakat hanya Pancasila lah dasar dan falsafah Negara kita. Tidak boleh diganti dengan yang lain. Ini adalah harga mati!

Kepada mereka kita berharap, bagaimana pun cara masyarakat Indonesia menyatakan rasa ke-pancasilaannya, apakah yang memerlukan jargon atau  yang tidak memerlukan jargon, hendaknya mendapat tempat yang sama.

Janganlah sekali-sekali menganggap orang yang menyatakan rasa  ke-pancasilaannya  dengan diam dan tanpa jargon sebagai musuh, dan langsung menggaruknya ke bui!***

 

*Pemimpin Redaksi Tabloid Parahyangan Post










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)