Edukasi

Peran Adab dalam Kehidupan

Administrator | Rabu, 21 Agustus 2019 - 14:49:57 WIB | dibaca: 225 pembaca

Ilustrasi Adab & Ilmu (sumber foto : net/tebuirengonline/pp)

Oleh: J. Faisal (Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor )


BANYAK - Tulisan para ahli pendidikan yang berbicara tentang adab, Hal ini disebabkan karena adab erat sekali  hubungannya dengan pendidikan. Bahkan dalam dasar Negara kita, yaitu Pancasila dalam sila ke-2 terdapat kalimat ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’. Apakah sebenarnya adab itu? Dan mengapa sila ke-2 Pancasila memakai kalimat ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’? mengapa bukan ‘kemanusiaan yang adil dan berkarakter’? atau ‘kemanusiaan yang adil dan berbudaya’? seperti yang pernah diungkapkan oleh DR. Adian Husaini dalam bukunya Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab. 

Bahkan baru-baru ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan dalam sebuah acara Talk Show di salahsatu stasiun TV swasta, bahwa selama masa jabatannya sebagai Gubernur, beliau akan berusaha untuk menjadikan Provinsi DKI Jakarta sebagai sebuah provinsi atau kota yang beradab dalam segala sendi kehidupannya. Lantas apa yang mendasari seorang Gubernur seperti Anies Baswedan untuk membentuk sebuah adab dalam kehidupan masyarakat? 


Pada dasarnya konsep adab bersifat universal. Artinya semua agama di dunia ini mengajarkan adab yang baik bagi para pemeluknya. Hanya saja standar pelaksanaannya yang berbeda-beda, dan tidak dapat disamakan antara satu agama dengan agama lainnya. Dalam tulisan singkat ini, penulis akan membahas tentang adab dalam konteks agama penulis, yaitu Islam. 

Dalam pengertian dan pemahaman bahasa, secara etimologi adab berasal dari bahasa Arab yaitu a
ddaba-Yuaddibu-ta’dib, yang artinya mendidik  atau pendidikan. Dalam kamus Al-Munjid dan Al Kautsar, adab dikaitkan dengan akhlak yang memilki arti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat sesuai dengan nilai-nilai agama Islam. Artinya, bagaimana adab atau tingkahlaku terhadap orangtua, adab terhadap guru, adab terhadap anak, adab terhadap sesama usia, bahkan adab kita sebagai manusia terhadap alam telah diatur di dalam Islam. Sedangkan dalam bahasa Yunani, adab disamakan dengan kata ethicos atau ethos, yang artinya kebiasaan, perasaan batin, kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Ethicos kemudian berubah menjadi etika

Secara epistimologi, seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa banyak ahli-ahli hikmah dan ahli pendidikan yang memberikan pengertian tentang adab, salahsatunya adalah Prof. Syed Naquib Al-Attas Adab m
enurut Al-Attas adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanam kedalam manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga hal ini membimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keperiadaan

Dalam hal ini A
l-Attas menekankan bahwa pentingnya adab sebagai suatu perilaku untuk mengenal Allah sebagai Tuhan dan mengakui tentang apa saja yang ada di dunia ini sebagai ciptaan yang Allah yang sudah atur sedemikian rupa untuk dijaga oleh manusia sesuai dengan aturan-aturan Allah SWT. Jika manusia sudah mampu menjaga dan mengikuti aturan dan ketetapan Allah SWT, maka barulah manusia itu dikatakan beradab. Tetapi jika manusia tidak mau menjaga apa yang sudah diatur oleh Allah di dunia ini, dan tidak mau menjalankannya maka manusia itu dapat dikatakan manusia yang biadab.

K
emudian pertanyaan yang muncul adalah apa sebenarnya fungsi atau peran adab dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang sangat penuh intrik seperti ini? 

M
asih menurut al-Attas, terserapnya adab dalam diri akan melahirkan manusia beradab. Seterusnya akan melahirkan kepemimpinan yang adil dalam menempatkan segala sesuatu pada tempat yang benar, selanjutnya ia akan senantiasa berusaha memperbaiki setiap aspek dirinya, masyarakatnya, negaranya ke tahap yang lebih baik sesuai dengan tuntunan dari Allah SWT. Terserapnya adab dalam diri, bukan sekedar menghasilkan manusia sebagai warga negara yang baik.   Namun juga melahirkan manusia  yang baik secara individu. 

M
anusia  yang baik yang dimaksud di sini adalah: Manusia yang sadar insaf akan tangung jawabnya kepada Allah SWT sebagai Tuhan yang senantiasa disembah; yang memahami dan melaksanakan tangungjawabnya kepada diri sendiri. Dan kepada masyarakat dengan adil dan yang senantiasa berusaha memperbaikI setiap aspek dirinya ke tahap yang lebih sempurna. 

Bahkan menurut KH. Hasyim Asy’ari dalam kitabnya yang berjudul
Aadabul ‘Aalim wal Muta’allim, “siapa saja manusia yang tidak mempunyai adab, sejatinya dia tidak bersyariat, tidak beriman, dan tidak bertauhid.” Begitulah pentingnya kedudukan adab dalam Islam, sehingga aspek keimanan dan syariatpun harus menyertakan adab. 

Adab tidak akan pernah dapat dipisahkan dari proses pendidikan. Sebelum
 seorang manusia mencari ilmu pengetahuan yang lain, maka dia wajib untuk mempelajari tentang adab terlebih dahulu. Ketika adabnya sudah terbentuk dengan baik, maka proses dalam mencari ilmu akan dilakukan dengan adab yang baik, sehingga setelah berilmu akan menjadi manusia yang lebih beradab. 

Ibnul Mubarok berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.” 

Banyak manusia yang mencari ilmu tanpa mempelajari atau memahami adab terlebih dahulu, sehingga setelah manusia tersebut berilmu, dia akan menjadi manusia yang tidak beradab dan menggunakan ilmunya secara biadab. Sehingga yang timbul adalah segala macam kerusakan yang ada di bumi maupun di langit, dari manusia-manusia berilmu tetapi tidak beradab. 

Mengapa? Sungguh, tak akan bermanfaat ilmu setinggi apapun jika tiada adab di dalamnya. Terlebih bila ilmu setitik nila, plus kehilangan adab. Allah telah menyindir keras para ahli ilmu (Rabi) Bani Israil yang tiada adab dalam dirinya dengan perumpamaan seekor keledai yang memikul kitab-kitab dipunggungnya (QS. 62: 5). Keledai tentulah tiada paham untuk apa kitab-kitab yang dipikulnya itu. 

Demikianlah, Allah menyindir keras para ahli ilmu yang berjilid-jilid kitab dalam kepalanya, namun tiada adab tertanam dalam diri dan lisannya. Sia-sia ilmunya. Bahkan, malah menyeretnya pada kehinaan. 

Menurut Adian Husaini, untuk membentuk insan mulia-manusia Indonesia yang adil dan beradab- (baca: manusia yang bertaqwa) seperti yang diamanahkan oleh sila ke- 2 Pancasila, itu adalah tugas pendidikan di Indonesia. Tujuan itu tidak mungkin diraih tanpa bimbingan wahyu Allah SWT. Pendidikan adab dan akhlak juga punya suri tauladan (
uswah hasanah) yang jelas, yaitu Nabi Muhammad SAW. 

Maka sesuai dengan istilah penting dalam Pancasila, UUD 1945, dan UU Pedidikan Nasional, seharusnya yang dikembangkan dan diaplikasikan adalah konsep adab dan akhlak, bukan konsep pendidikan karakter. Pendidikan adab dan akhlak mengacu kepada Al Qur’an, sunnah, dan tradisi pendidikan para ulama Islam, tanpa mengabaikan nilai-nilai positif pada budaya lokal atau dengan kata lain tercipta pengintegrasian ilmu dalam peradaban yang baik. Jadi, kapan kita akan memulai diri kita sebagai manusia yang beradab? 

Wallahu’alam bissowab.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)