Seni Budaya

Pameran Dua Kutub Masdibyo dan Gigih Wiyono

Administrator | Rabu, 10 Januari 2018 - 17:11:33 WIB | dibaca: 29 pembaca

JAKARTA, (Parahyangan-post.com) - Kutub memiliki arti harfiah sebagai ujung poros atau sumbu bumi, ujung batang magnet yang mempunyai sifat menarik (magnetik). Dua kutub merupakan pemikiran yang berangkat dari dua kekuatan seniman (perupa) Masdibyo dari Tuban Jawa Timur dan Gigih Wiyono dari Sukoharjo Jawa Tengah. Dua perupa nasional yang memiliki latar belakang yang berbeda, Masdibyo pendidikan IKIP Surabaya, dan Gigih Wiyono STSI Surakarta dan Pasca Sarjana ISI Yogyakarta.

Secara genetika karya di dalam proses penciptaannya kedua perupa ini memiliki disiplin yang berbeda. Masdibyo yang lahir di pesisir selatan Pacitan dan tumbuh berkembang di pesisir utara, Tuban, yang dekat dengan kultur nelayan. Di kabupaten Gigih Wiyono lahir di pedalaman Jawa Tengah Bagian Selatan tepatnya Sukoharjo, yang tumbuh dan kental dengan dunia pertaniannya. Tradisi dan lingkungan masing-masing kedua seniman memengaruhi di dalam proses penciptaan dan hasil karya mereka.

Dalam pameran Dua Kutub ini Masdibyo menyajikan 30 lukisan bertarikh 2007-2017. Sedangkan Gigih Wiyono menyajikan 23 lukisan dan 9 patung bertarikh 2013-2017. Rencana akan dibuka oleh Bapak Eko Sulistyo SS, Deputi IV Bidang Komunikasi Politik Kantor Staf Presiden RI.

Keunikan pada karya-karya yang mereka ciptakan sangat berbeda dan layak dikaji secara konseptual maupun secara visual. Perbedaan latar belakang studi maupun proses penciptaan menjadikan Dua Kutub memiliki arti penting untuk dipresentasikan dalam pameran bersama sebagai pengungkap spirit yang mereka angkat dalam karya.

Kami Dua Kutub Masdibyo dan Gigih Wiyono, hadir membawa pesan tentang kekuatan cinta. Kami menghadirkan spirit yang membawa energi perdamaian dan kasih sayang. Tentang manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan. Tentang mikrokosmos dan makrokosmos, yin-yang, lingga yoni, vertikal-horizontal, positif negatif, kekuatan dan kelenturan dan lain sebagainya. Kekuatan saling berpasangan yang tak mungkin bisa tercipta tanpa saling ada dan melengkapi. Mengenai unity, harmoni dan balance dihadirkan melalui proses kreativitas yang panjang secara individu. Masdibyo berproses di daerah pesisiran sedangkan Gigih Wiyono bereksplorasi di daerah pertanian. Secara sosio kultural kami sangat berbeda tetapi hasil kreasi kami penuh energi. Seperti energi garam dan ikan laut dengan energi asem dan padi, namun kami saling melengkapi dan memperkuat. Yang satu berbicara mengenai kesendirian, kontemplatif, dan kekuatan tunggal, yang satunya berbicara tentang komunalitas, keramaian dan kebersamaan.

Kehadiran kami bersumber pada kekuatan hati yang ingin menebarkan benih cinta dengan harapan menjadi kesadaran kolektif masyarakat dalam melihat sisi kehidupan yang heterogen. Mulai adanya peradaban manusia di bumi, seni dan budaya telah terbukti ampuh menyatukan berbagai persepsi, sehingga perbedaan adalah rahmat yang patut disyukuri dengan cara saling menghargai. Maka kami sepakat hadir bersama dengan kekuatan dan kreativitas yang berbeda namun saling menebarkan energi positif. Energi dua kutub memiliki arti harfiah sebagai ujung poros atau sumbu bumi. Ujung magnet yang mempunyai sifat saling menarik. Secara genetik sumber ide penciptaan kami memang berbeda, sehingga pendalaman subyek memiliki karakter yang cenderung berlawanan. Selain hal tersebut dalam pendisplaian ditata saling berjajar sehingga memunculkan karakter saling melengkapi antara minimalis dan kompleksitas, antara warna cerah dan warna kelembutan dan lain sebagainya. Inti dari pameran Dua Kutub ini adalah penyatuan hasil olah kreatif dua perupa nasional yang memiliki perbedaan latar, baik sosio-kultural maupun eksplorasi kreatifnya. Harapan kami pameran ini menjadi sarana apresiatif bagi para pencinta seni, dan menjadi oase pencerahan artistik di tengah bisingnya kehidupan yang cenderung prakmatisme materialistik. Mengapresiasi karya seni bisa menjadi sarana menemukan keseimbangan dalam kehidupan. Dua Kutub ada, hadir dan melebur dalam kreatifitas kami yang membawa energi cinta dan kasih sayang.

Masdibyo sebagai perupa yang menggawangi kutub utara (Pantura, Tuban, dan pesisir Jawa Timur) yang cukup lama menggarap persoalan rakyat tentang kearifan lokal, cinta kasih, dan kelembutan. Sedangkan Gigih Wiyono yang tumbuh berkembang di wilayah pedesaan dan pertanian sebagai penjaga kearifan lokal Kutub Selatan (Sukoharjo, Solo). Mencitrakan mitos simbol padi dan kesuburan yang menjadi tumpuan kaum agraris. Mitos-mitos kesuburan seperti: huruf-huruf Jawa dan motif-motif tradisi yang dihadirkan secara kontemporer. Dalam pameran berdua ini kami melebur dalam satu tema Dua Kutub, sebagai harmonisasi yang tersublim dalam karya-karyanya. Kehadiran kami sebagai bentuk ekspresi estetis, cinta kasih dan bahkan tentang kegelisahan.

(rat/pp/rls)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)