Seni Budaya

Oleh Helmi Haska

Pameran “Kartun Ber(b)isik”: Menyentil Publik, Mengeritik Republik

Administrator | Rabu, 03 April 2019 - 17:35:47 WIB | dibaca: 279 pembaca

suasana pameran Kartun Ber(b)isik GM Sudarta di Bentara Budaya Bali. (foto Hel)

Rapat akbar partai politik, histeria massa, demonstran, politikus, fanatikus, pemimpin, pengikut, politisi korup, oligarki…, adalah pokok soal yang dimamah-biak media massa hari-hari ini.

Dinamika berita yang diramu wartawan di newsroom, atau yang tertunda diberitakan, bakal mendapatkan komentar setiap pekan lewat figur kartun yang mewakili perspektif editorial.

Kita mengenal Oom Pasikom yang bertengger di halaman Opini suratkabar Kompas. Ia hadir dalam setiap pusat peristiwa yang ditangkap para kuli-tinta.

 

Sosok tambun, berjas dengan siku bertambal dan topi baret, itu menumbuhkan rasa akrab diantara warganegara, ketika kita terpaksa menerima “rakyat” hanya sebagai barang yang hilang makna, kecuali sebagai alat bagi muslihat politik.

Selama 50 tahun Oom Pasikom memberi kritik atas Republik. Sebagian publik hingga kini masih menunggu kehadirannya, walau pencipta kartun ini, GM Sudarta telah berpulang ke alam baka (al fatihah untuk beliau).

Melalui pameran bertajuk “Kartun Ber(b)isik”, yang digelar di Bentara Budaya Bali, sedari 30 Maret hingga 9 April 2019, publik dapat membaca legacy GM Sudarta melalui karya kartunis Beng Rahadian, Didie SW, Ika W. Burhan, Mice Cartoon, Rahardi Handining dan Thomdean. Pameran itu memang sebagai bentuk penghormatan kepada GM Sudarta.

Pameran ini membuhul yang ambigu. Bagaimana kartun menyampaikan pesan kritik, bisa dengan cara berbisik atau berisik. Ditengah kehidupan kiwari yang mengedepankan political correctness, kartunis berusaha melihat pokok soal yang akan disampaikan melalui visual dan teks, secara penuh seluruh.

Para kartunis berusaha menyelami beragam masalah, tidak hanya yang berpusar dalam ruang-lingkup negara, seperti karya Rahardi Handining secara simbolik menggambarkan orang-orang penarik gerobak perisai burung garuda, ideology Pancasila. Kartunis berusaha masuk dalam lingkaran apa saja – lingkaran politisi jalanan, yang hidup dari upah ikut demonstrasi (kartun Didie SW).

Muhammad Misrad yang sohor sebagai Mice menggambarkan kuatnya budaya konsumerisme dan snobisme kelas menengah dan atas. Bahkan, ia yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Seni Rupa IKJ, itu dengan tajam menyindir lingkar kesenian yang acapkali didapatkan, “Seniman Nggak Jelas”.

Atau kartun Ika W. Burhan yang menyentil perilkaku publik pengguna jasa transportasi keretaapi Jabotabek, yang menjadi ciri khas hubungan Jakarta dengan kota-kota satelitnya. Atas nama political correctness, masyarakat mendapatkan layanan gerbong khusus wanita dan gerbong campur. Kebijakan yang melindungi perempuan itu, belum menjadi suatu kebiasaan. Sehingga tak sedikit laki-laki yang berada di gerbong khusus perempuan. Ini bagian dari keacauan perkembangan kota, yang membuahkan kehidupan yang konyol.

Pada jamaknya kartun menangkap hal ikhwal yang remeh-temeh dan yang serius, sifat kampungan dan intelektualisme, yang permukaan dan yang dalem, yang rendah dan yang tinggi.

Pameran “Kartun Ber(b)isik” pada satu sisi masih sarat dibebani gagasan-gagasan besar untuk menampilkan kartun berkelas “laporan sosiologi”.

Hasilnya, karya yang masih hangat bila dibaca hingga sekarang tetapi terasa sarat akan pesan moral, kalau tidak mau disebut menggurui.

Pada sisi yang lain, kartunis berusaha mereguk perkembangan arus seni rupa. Kartunis secara personal ingin lepas dari peristiwa hangat yang dimamah-biak media massa. Kita melihat beberapa karya yang dikerjakan di atas kanvas, layaknya lukisan pop art. Bahkan kartunis tak sekadar bergelut dengan gambar dua dimensi, namun juga beralih-cipta, menjelajah patung tiga dimensi.

Dari pameran ini kita mengetahui bahwa kartun sebagai media terus bertumbuh. Seiring dengan perkembangan pesat teknologi informasi digital, kartun berkompetisi dengan meme dan bentuk visual lainnya, di medan komunikasi.

Oom Pasikom memerlukan waktu 50 tahun untuk dinilai sebagai cermin zaman. Jangka waktu nan panjang. Si Oom memberi cukup bahan untuk mengikuti perubahan politik, sosial, dan budaya yang terjadi di Indonesia. Tetapi berani sumpah, enam kartunis ini telah berhasil meramu keindonesiaan dalam kartun, di tengah pergaulan berwatak kosmopolit yang semu.

Di dalam kartun kita menemukan semacam cagar kebebasan. Kita merasakan hidup sedikit bertambah cerah di tengah kehidupan di tahun politik, yang penuh purbasangka, rasa frustrasi dan stress. Itu kunci.***










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)