Opini

Menjaga Lidah, Menjaga Tutur Kata

Administrator | Minggu, 05 Mei 2019 - 22:31:01 WIB | dibaca: 100 pembaca

Ratman Aspari, Anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI)

Oleh : Ratman Aspari *)

 
Alhamdulillah, segala puji senantiasa kami panjatkan kehadirat Alloh azza wa jalla yang telah membiaskan sebagian ilmu-Nya kepada kita untuk mempelajari ciptaan-Nya, sebagai wujud syukur atas kebesaran dan keagungan-Nya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasululloh SAW, manusia termulia yang diciptakan Alloh sebagai pembawa risalah Islam, suri tauladan seluruh umat di dunia.

LIDAH - Dalam hidup ini merupakan sesuatu yang penting sekali, merupakan organ manusia yang berfungsi sebagai alat komunikasi yang pokok, manusia harus berkata, berbicara untuk berbagai kepentingan hidupnya dan kepentingan manusia semuanya.

Manusia sejak zaman primitif maupun manusia zaman moderen saat ini, sama perlu menggunakan lidahnya untuk berbicara, berkomunikasi dalam memenuhi kepentingan dan tugas hidupnya.

Namun demikian tidak sedikit pula hal-hal negatif, yang timbul akibat lidah dalam berkata dan berbicara, karena ia dapat menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Ajaran Islam mengenai hal ini banyak sekali, baik firman Alloh maupun sabda Rasul dalam haditsnya.

Iman Ghozali dalam bukunya  Ihya Ulumuddin  membicarakan masalah ini, secara mendalam, dalam kajianya faedah dan bahaya lidah, dalam berbagai sektor kehidupan manusia.

Lidah,  kata Ghozali sebagaian nikmat Alloh yang besar dan kehalusan ciptaan-Nya yang aneh. Dengan rumusan yang singkat ini Ghozali memasuki masalah lidah secara menyeluruh, dan menyimpulkan bahwa berbicara itu ada empat macam : Pertama ; yang menimbulkan bahaya, Kedua ; yang membawa manfaat, dan Ketiga ; yang menimbulkan bahaya dan manfaat, serta Keempat ; yang tidak ada bahaya dan tidak pula ada faedah sedikit pun.

Dalam kondisi apapun dan dimanapun, seorang mukmin senantiasa menjaga tutur katanya, karena dia selalu menyadari bahwa setiap kata-kata yang diucapkannya itu, ada malaikat Alloh yang mencatatanya, seperti disebutkan dalam  Al Qur’an Surat Qof (18), yang artinya ;

‘Tidak satu kata yang diucapkan (manusia, melainkan ada) yang mencatatnya’ (QS, Qof:18)

Dan Alloh SWT memperingatkan lagi lebih jauh bahwa tutur kata yang baik, berisi, tepat, benar dan manfaat, merupakan cerminan dan pokok adanya hidayah Alloh untuk seseorang dapat melahirkan amal-amal yang bermanfaat, sebagaimana Firman Alloh dalam Al Qur’an, surat Al Ahzab : 70 – 71, sbb :

“YAA AYYUHAL LADZIINA AAMANUU LLAAHA WAQUULU QOULAN SADIIDAN YUSHLIH LAKUM A’MAALAKUM WAYAGHFIR LAKUM DZUNUUBAKUM”

Artinya :

“Wahai orang yang beriman; bertaqwalah kamu kepada Alloh, ucapkan kata yang benar, niscaya Alloh akan memimpin kamu (untuk melahirkan) amal-amal yang bermanfaat dan mengampuni dosa dosamu” (QS, Al Ahzab : 70 – 71).

Kita sekarang hidup dalam zaman moderen dan ditengah-tengah berbagai tipe manusia, pertumbuhan alam demokrasi, penjunjungan hak asasi manusia, perkembangan teknologi informasi yang luar biasa. Semua itu, tidak dapat menghindarkan kita harus bertutur kata, berkomunikasi dalam peragulan sehari-harinya, bagaimana mempertahankan ‘Qaulan sadidan’.  Dunia moderen juga melahirkan istilah taktik strategi kata bersayap, isu, dan lain sebagainya, maka kita jangan terjerumus termasuk orang yang tidak ada garis dalam berkata-kata, apa pula kunci Rahmat Alloh terletak dalam memelihara tutur kata itu.

Hafidlo lisaanahu, berarti bahwa sesorang akan berhitung benar-benar kapan dia mesti bicara dan kapan ia harus diam, agar tampak  ‘Qaulan sadidan,  di dalamnya. Mana yang harus untuk umum dan mana yang harus untuk diri sendiri (rahasia - red), demikian pula tempat dan waktunya harus diperhutungkan :

Kata Ahli Hikmah :

“Tiap tiap perkataan itu ada tempat yang layak (mengucapkannya) dan tiap-tiap tempat itu ada kata-kata (yang layak diucapkannya)” (Ahli Hikmah).

Tempat seperti rumah, kantor, masjid dan sebagainya, tentu ada kata-kata yang sesuai dengan suasananya, seperti ditempat orang kematian tentu lain yang harus dikatakan ketika berada di tempat pesta perkawinan, misalnya.

Sejarah menceritakan bahwa satu kalimat yang di ucapkan tidak wajar, dapat membakar dunia yang mengerikan. Demikianlah dalam abad ke VII  (Hijriah. Jengkiz Khan dari Mongolia menghantam kaum muslimin Asia Tengah, hanya akibat mulut besar yang diperlihatkan oleh Sultan Ala’uddin Khawarimsyah. Padahal sebelumnya, Jenghkhiz Khan masih merasa gentar melihat kekuasaan Sultan ini.

Keterangan-keterangan kecil sebelumnya menyebabkan Sultan mengeluarkan ucapan yang sepele, akhirnya persoalan tersebut diselesaikan dengan pedang (perang) yang mebuat darah Jengkhiz Khan mendidih, lalu ia mempersiapkan perang.

Walaupun mulanya pasukannya mundur, tetapi akhirnya dia maju yang tidak tertahan oleh pasukan sultan, sehingga kehancuran umat Islam terjadi, dengan kezaliman-kezaliman yang di lakukan pasukan Jengkhiz Khan membunuh sultan dan manusia, meruntuhkan rumah dan masjid, membakar, merampok dan merampas yang mengerikan sekali.

Begitu juga dalam kontek salah seorang gubernur di DKI Jakarta beberapa waktu lalu, yang menurut banyak orang, begitu arogan, dengan perkataannya dan tutur kata yang kurang santun, akhirnya tergelincir oleh ucapanya sendiri, sampai berusuran dengan pengadilan.

Kasus teranyar, artis yang juga komedian, Andre Taulny,  melalui tutur kata lawakanya, dalam suatu acara yang ditayangkan salah satu televisi, juga  yang berbuntut panjang, walaupun akhirnya ia meminta maaf melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI), namun rupanya proses hukum tetap akan berlanjut, ini semua hanya karena kekurang hati-hatianya dalam bertutur kata.

Semua ini harus menjadi bahan pelajaran bagi kita semua, untuk lebih bijak dalam menyampaikan pernyataan, melalui perkataan, tutur kata yang lebih arif lagi bijak. Suatu malapetaka besar bisa menimpa kita semua hanya akibat kekeliruan tutur kata/komunikasi seseorang.

Semoga Rahmat Alloh selalu tercurahkan kepada kita semua, kita selalu dapat menjaga komunikasi dan tutur kata yang baik, ‘Qaulan sadidan. (*)


* (Penulis, adalah Anggota Persaudaraan Jurnalist Muslim Indonesia / PJMI, tinggal di Jakarta Timur)

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)