Polkam

Jelang Pilpres 2019

Lintas Aktifis Islam Indonesia Siap Menjaga Keutuhan NKRI

Administrator | Jumat, 02 November 2018 - 08:13:36 WIB | dibaca: 165 pembaca

Jakarta, parahyangan-post.com-Sejumlah aktifis pemuda islam berkumpul untuk jumpa pers di Menteng 58 Jakarta Pusat, Kamis Sore, (01/11/2018), terkait Aksi Bela Tauhid dari sejumlah ormas Islam terhadap Pembakaran Bendera Tauhid oleh Oknum Banser ketika peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2018 di Garut dan Aksi Bela Tauhid ini akan dimulai ba'da sholat jum'at di Mesjid Istiqlal 2 November siang dengan menuju ke depan Istana Negara.

Adapun pernyataan sikap aktifis pemuda islam tersebut adalah ;

Forum Indonesia Satu melalui Ketuanya Arief Ihsan menyatakan bahwa : "Mengenai kasus pembakaran bendera di Garut biarkan pihak Kepolisian bekerja. Umat Islam jangan terpengaruh dengan isu-isu yang menyesatkan dan provokatif yang bisa mengadudomba sesama anak bangsa." ujarnya.

Kemudian Rahmat Himran Ketua Umum Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) menyatakan :

"Perkembangan kasus pembakaran bendera di Garut sudah mengarah kepada kepentingan politik tertentu. Para elit politik mulai bermain menunggangi isu ini menjadi isu politik.

Kasus ini sebenarnya kriminalitas murni, seharusnya larinya ke proses hukum. Sudah benar kemarin dilaporkan ke Kepolisian. Ormas yang tergabung dalam aksi Bela Tauhid harusnya fokus pada pengawalan kasus hukumnya."

"Ada oknum partai politik yang ingin menunggangi isu ini menjadi isu politik. Pilpres sudah didepan mata, berbagai isu yang bermunculan itu akan dijadikan bahan bagaimana para partai politik yang mengaku partai Tuhan sehingga isu agama sekecil apapun akan digulirkan menjadi besar. Ini adalah kasus kriminal murni dan kami mengutuk oknum parpol yang menunggangi isu ini," tuturnya.

"FUIB tidak bergabung dalam Aksi ini, FUIB mempertanyakan ada urusan apa sampai kemarin harus aksi di Kantor Kemenkopolhukam. Seharusnya ini adalah proses hukum, jangan kemudian dibawa ke arah kepentingan politik," Tegas Rahmat.

Sementara Rahmat Pakaya dari Jaringan Aliansi Nasional menyatakan : "Kami secara tegas menyatakan kasus pembakaran bendera itu adalah ranah Kepolisian. Biarkan proses hukum berjalan dan tidak dipolitisir oleh kepentingan politik Pilpres 2019,".

"Jangan masalah ini dijadikan alat adu domba sesama anak bangsa terutama umat Islam. Kami tidak ingin Indonesia menjadi seperti Timur Tengah. Jangan jadikan masalah ini menjadi isu untuk memecahbelah," imbuhnya.

"Pihak Kepolisian harus bersikap tegas menyikapi masalah ini. Tangkap pihak yang memang bersalah. Kami mendorong Kepolisian untuk tidak segan-segan dalam melakukan penegakan hukum," ungkap Pakaya.

Raja Agung Nusantara Ketua Umum Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia menyatakan :

"GMPRI menegaskan dan menghimbau seluruh elemen masyarakat khususnya umat Islam mari kita bersikap bijak. Perkara ini kita serahkan kepada hukum.

Soal aksi besok jangan sampai ditunggangi oleh kepentingan politik. Kalau ada propaganda politik maka itu kami sayangkan,".

Sementara Choirul Amin Ketua Gerakan Perubahan Indonesia juga menyatakan :

"Sebenarnya kami meyakini hampir semua umat Islam tersentuh hatinya melihat kasus ini. Persoalan ini kemudian bergulir dan sampai hari ini Polisi sudah menetapkan tersangka pelaku pembakaran bendera dan si pembawa bendera. Artinya polisi sudah bekerja sebagaimana yang diharapkan oleh umat Islam untuk mengusut tuntas persoalan ini. Semoga masalah ini tidak terulang lagi," harapnya.

"Sikap kami bahwa jelas mengutuk orang yang melakukan pembakaran tersebut dan polisi harus segera memproses hukum. Kami menghimbau

Umat Islam untuk menjaga perkara ini dengan cara yang benar tapi jangan pernah mempolitisir urusan hukum. Apalagi ini tahun politik sehingga sangat rentan untuk ditunggangi. Kasus ini kemudian dimanfaatkan oleh ormas-ormas yang tidak punya kerjaan kemudian baru ada kerjaan jika ada isu-isu persoalan agama dan memperbesar nama organisasinya," tuturnya.

"Politisi juga memanfaatkan kasus ini menjadi isu politik. Mari kita tolak bersama politisasi keikhlasan umat, politisasi pembakaran bendera, kita serahkan pada penegak hukum," tegas Amin.

 Terakhir Zulham dari Gerakan Pemuda Islam (GPI) menyatakan :

"Mengutuk keras pembakaran bertuliskan kalimat Tauhid di Garut. Terkait akan adanya agenda Aksi Bela Tauhid, itu ekspresi alamiah sepanjang itu dilakukan dalam koridor hukum yang ada. Kami berharap Kepolisian menyelesaikan kasus ini secara tuntas. Apa yang dilakukan polisi seyogyanya umat Islam mengawal proses hukum apakah sudah memenuhi rasa keadilan ?," ujarnya.

"Kita tidak ingin Aksi Bela Tauhid bergeser pada ranah yang berbau politik. Kita tahu bahwa ini tahun politik. Kita tidak ingin Aksi Bela Tauhid ini jadi tunggangan sekelompok orang untuk mendapat keuntungan politik dan Kami menghimbau kepada mereka yang akan ikut aksi besok agar saling menghargai dan saling menghormati. Kita ingin bangsa ini tetap damai tanpa ada perpecahan," pungkas Zulham.*** (fri).










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)