Edukasi

Kuliah Umum Mahasiswa Thawalib

Administrator | Selasa, 10 Oktober 2017 - 02:28:09 WIB | dibaca: 47 pembaca

JAKARTA, Parahyangan-post.com - Sekolah Tinggi Islam Publisistik Thawalib Jakarta menggelar kuliah umum alias kuliah perdana. Sekretaris MUI Pusat Dr. K.H. Amirsyah Tambunan, MA didaulat sebagai pembicara pada kuliah umum. Perkuliahan diselenggarakan dihotel Cordela Kwitang, Senen Jakarta Pusat, Sabtu (30/09).
 
“Kampus Thawalib mempunyai sejarah yang gemilang di masa lampau, Thawalib didirikan oleh para ulama yang sangat bergaruh di zamannya. Nama-nama seperti Buya Hamka, Dr. M. Natsir, Adam Malik, Hial Datuk Nan Sati,  KH. Yunan Nasuition, H. Djamal Djamil, KH. Prof. Zainal Abidin Achmad, KH. Oemar Bakri Datuk Tan Besar, H. AA Husein, dan Prof. Dr. Sidi Ibrahim Buchori, SH, MSc adalah sebagian alumni Thawalib Padang Sumatera Barat. Banyak diantara mereka yang memilih hijrah ke Jakarta dan mendirikan kursus dan menjadikannya sekolah tinggi setelah beberapa lama,” jelas Dedi Oktarinto.
 
Ketua Yayasan Thawalib Dedi Oktarinto juga menjelaskan lima pilar darma yang harus melekat dan dicintai dalam diri setiap mahasiswa Thawalib, lima hal itu ialah cinta ilmu, cinta pembaruan, cinta kesungguhan, cinta kemandirian, dan cinta keikhlasan.
 
“Generasi muda Islam kini sudah dirusak kini kita sering mendengarkan istilah molimo alias mojok, main, madon, madat, dan maling. Narkoba, minum sudah biasa terjadi dikalangan generasi muda. Dampak positif global tidak dimaksimalkan dandimanfaatkan generasi muda,” jelas Amirsyah.
 
“Kekuatan  kapitalis tidak terbendung membuat aset kaum menengah kebawah kritis. Invansi bangkitnya ideologi komunistelah nyata dan masih ada termasuk gerakan Zionis internasional yang terus bergerak bersama organisasi underbownnya begitupun dengan Syiah” tambahnya.
 
“Munculnya penyakit pendangkalan aqidah, seperti sekuler liberalis dan pluralis. Berfikir dan berpendapat secara bebas dan meluas. Pelan dan pasti peran seorang kiai sirna. Jadi ya wajar saja ketika kiai berbicara tidak lagi didengar, malah banyakdikomen dan di adudomba,” ungkapnya.
 
“Dakwah menjadi pekerjaan kita bersama untuk melawan ideologi pemikiran jahat komunis, sepilis, zionis, Syiah dan lain sebagainya. Dakwah dalam memahamkan masyarakat terhadap Islam, memberi dakwah pendidikan kepada anak, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar juga dakwah untuk menegakan kehidupan Islam.”
 
Amir juga mengatakan seorang kiai jangan seperti buih di tengah laut, tapi kiai harus bangkit menjadi contoh dan teladan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
 
"Dakwah itu dirangkul jangan dipukul, dakwah itu mengajak, bukan mengejek," pesan beliau di akhir perkuliahan.
 
“Thawalib harus memberikan kontribusi yang konkrit terhadap peningkatan dakwah dikalangan mahasiswa, jadilah pelopor dikalangan akademik, dan semoga Thawalib menjadi kekuatan ditengah masyarakat. Baik kualitas maupun kuantitasnya aamin,” tutupnya.  

Seluruh jajaran pimpinan yayasan dan juga ketua dan wakil STAI Publisistik Thawalib Jakarta juga tampak hadir dalam perkuliahan umum kemarin Sabtu. Di Thawalib kuliah umum memang sudah menjadi ciri khas. Kuliah umum biasanya dilakukan pada saat kembali perkuliahan secara normal, begitupun ketika berakhir perkuliahan formal juga ada kuliah umum.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)