Seni Budaya

Tiga Tokoh Perempuan Indonesia Raih Penghargaan

International Women Of Change di Hari Perempuan Internasional

Administrator | Selasa, 08 Maret 2016 - 07:39:17 WIB | dibaca: 862 pembaca

Acara ini sendiri dihardiri langsung oleh Menteri Sosial, Dra. Khofifah Indar Parawansa, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr.Ir.Siti Nurbaya Bakar, M.Sc, Direktur LPP RRI, Dra. Rosarita Niken Widiastuti M.Si. Penasehat DKR Lily Wahid, Artis Erna Santoso, Roro Fitria, Abah Ukam, para sineas dari mancanegara, Dr.Sajan George Kavinkalath, Dr.Shahida Akhter, Derrick Lui, Alfie Law, Alan Nguyen, Ahmed Atef, SUmanthy Balaram, dll.

JAKARTA, Parahyangan Post – Dalam rangka menyambut Hari Perempuan International (08-Maret) dan Hari Anti Diskriminasi Internasional (01 Maret) yang peringatanya diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB), Dewan Kreatif Rakyat (DKR) kembali menghadirkan International Festival For Women, Social Issues, and Zero Discrimination (IFFWSZ) di Jakarta. IFFWSZ juga memberikan penghargaan International Women of Change kepada para wanita yang dianggap memberikan konstribusi yang besar untuk perubahan. Para wanita yang dipilih dan dianggap memenuhi criteria tersebut adalah Menteri Sosial Indonesia, Dra. Khofifah Indar Parawansa, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr.Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc dan Direktur Utama LPP RRI, Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si (Presiden AIBD 0 Asia Pasific Intitute for Voradcasting Development). Diharapkan dengan adanya penghargaan ini akan banyak lagi perempuan-perempuan yang dapat membuat perubahan ke arah yang lebih baik.

Festival versakala internasional ini mengadakan Malam Penganugerahannya pada hari Senin, 07 Maret 2016 di Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI). Festival ini telah memilih 75 film pemenang dari 425 film yang berasal dari lima benua. Tujuan festival ini sendiri dikarenakan masih minimnya kepedulian masyarakat internasional dan nasional akan isu-isu kesetaraan gender, isu sosial dan anti diskriminasi. Festival ini berharap dengan banyaknya film-film bertema inspiratif tersebut dapat membuat dunia menjadi lebih baik. Festival ini sendiri bekerjasama dengan dua festival internasional lainnya yaitu International Movie Awards dan Filmakers World Festival.

Selain memberikan penghargaan kepada para Tokoh Perempuan tersebut, di acara ini diumumkan Film Terbaik dari IFFSZ. Film Forgieveness karya Rima Irani daei Lebanon terpilih sebagai yang terbaik untuk tahun ini. Film ini berkisah tentang seorang wanita yang pergi ke psikiater untuk menyembuhkan luka batinya. Film ini berpusat pada pikiran sang wanita dalam berperang dengan masa lalunya yang berat untuk dapat menang dan memulai hidup baru. Dipilihnya film ini sebagai Film Terbaik dikarenakan film pendek ini merupakan sebuah film eksperimental yang menggabungkan seni lukis di setiap adegan dan menjadikannya representasi pikiran sang wanita. Film ini diharapkan dapat menjadi ‘terapi seni’ bagi para penontonya untuk menjalani hidup dengan penuh damai dan cinta. Pendekatan artistic yang unik ini membuat Film Foregiveness menonjol diantara fim-film lainnya.

Sedangkan predikat Film terbaik untuk International Movie Awards jatuh kepada The Buterfly, The Harp, and The Timepiece. Film ini berkisah tentang sebuah tokoh sihir yang dapat mengubah jalan hidup ketiga tokoh utama untuk percaya akan harapan dan cinta di film pendek ini. Film ini dibintangi oleh aktris peraih Oscar, Melissa Leo dan peraih Goolden Globe, Alex Ebert dan music oleh peraih Grammy Award, Alex Geringas. Film ini disutradarai oleh Rodney Vance.

“Dengan adanya festival berksala internasional seperti ini saya harap nama Indonesia makin diharumkan dan juga sieneas-sineas dunia dapat terinspirasi untuk membuat film – film yang dapat menginspirasi semu generasi. Karena dengan menonton film yang tepat, saya yakin manusia dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Damien Dematra selaku founder dan director dari International Film Festival ini.

Di acara ini juga diluncurkan Album Musik Video ‘Karena Aku Perempuan; karya Duta Perempuan, Natasha Dematra. “Dengan adanya album ini saya harap para generasi muda, tanpa melihat gender mereka, dapat berbuat sesuatu yang dapat menginspirasi dunia. Semoga album ini dapat menjadi inspirasi bagi dunia bahwa kesetaraan gender masih harus diperjuangkan selama diskriminasi  dan kekerasan terhadap perempuan masih berlangsung,”ujar Sutradara Perempuan Termuda di dunia ini.

Musik Video “I Will Survive’ dipilih sebagai lagu utama dari Album Musik Video ini. Lagu ini dipilih karena mengangkat isu-isu anti kekerasan kepada sleuruh perempuan di dunia. “I Will Survive” menceritakan tentang kehidupan seorang pemulung perempuan cacat yang diperankan oleh aktris peraih banyak penghargaan internasional Virda Anggraini, yang menerima hidup dengan senyuman walaupun penuh keterbatasan sampai suatu hari kehormatan satu-satunya yang ia miliki direnggut oleh sopir angkot. Dia harus memilih antara mengugurkan kandungannya atau memperjuangkan nasib kehidupan bagi sang janin. Di samping itu, panggilan batinya untuk dapat mendidik anak-anak putus sekolah memaksa dia untuk belajar menulis dan membaca secara otodidak. Perjuanganya menjadi symbol perjuangan perempuan yang terpinggirkan diberbagai pelosok dunia namun memiliki semangat pantang menyerah. Dalam album ini 10 lagu dinyanyikan oleh Nathasa dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Lagu-lagu tersebut telah memenangkan lebih dari 40 penghargaan internasional diberbagai kompetisi tingkat dunia diantaranya Penyanyi Tervaforit untuk Nathasa Dematra diajang Global Music Awards dan Humanitarian Awards dari GIFF yang berpusat di Las Vegas.

Acara ini sendiri dihardiri langsung oleh Menteri Sosial, Dra. Khofifah Indar Parawansa, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr.Ir.Siti Nurbaya Bakar, M.Sc, Direktur LPP RRI, Dra. Rosarita Niken Widiastuti M.Si. Penasehat DKR Lily Wahid, Artis Erna Santoso, Roro Fitria, Abah Ukam, para sineas dari mancanegara, Dr.Sajan George Kavinkalath, Dr.Shahida Akhter, Derrick Lui, Alfie Law, Alan Nguyen, Ahmed Atef, SUmanthy Balaram, dll.

Film-film pemenang akan ditayangkan dari tanggal 7 Maret 2016 dan ditutup pada Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret di Pusat Kebudayaan Rusia, Teras Cibulan, Bioskop Rakyat Keliling, beberapa SMA dan berbagai tempat lainnya tanpa dipungut biaya.

Menurut Sekjen DKR, Dedeh Kurniasih, acara ini didukung penuh oleh Kementrian Pemuda dan Olah Raga, i-Hebat Internaional Volunteers, Teras Cibulan Café, Yayasan Peduli Anak Indonesia (PENA), Russian Culture Center, World Film Council dan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media partner dan penyelenggara.

 

(ratman/pp)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)