Seni Budaya

Hari Toleransi Diperingati di Jakarta lewat Festival Film

Administrator | Kamis, 15 Desember 2016 - 19:55:47 WIB | dibaca: 321 pembaca

Peringatan Hari Toleransi Sedunia di Planet Hollywood KC (13/12).

Jakarta, Parahyangan-post.com - 755 film semarakkan Festival Film bertema Toleransi yang baru-baru ini digelar di Bali dan Jakarta lewat International Film Festival for Spiriuality, Religion and Visionary (IFFSRV) dan World Tolerance Awards (WTA).

Acara ini digelar untuk merayakan Hari Toleransi Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 November 2016 lalu. Hari Toleransi Sedunia sendiri pertama kali dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun1996, dengan harapan untuk memperkuat toleransi dengan meningkatkan rasa saling pengertian antar budaya dan bangsa. Peringatan Hari Toleransi Sedunia dimulai pada era ketika meningkatnya ekstremisme, kekerasan, dan pelebaran konflik yang ditandai dengan pengabaian kehidupan manusia lainnya.

Tahun ini, isu tentang Rohingya dan Trump menjadi topik utama dalam festival ini. Damien Dematra, Founder dan Director Festival juga menyampaikan bahwa toleransi sedang dalam ancaman menyusul terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Menurutnya, janji-janji kampanye Trump yang akan melarang umat muslim masuk Amerika dan akan menutup masjid-masjid di AS, merupakan sebuah ancaman bagi perdamaian dunia. “Dengan perayaan ini diharapkan para pemimpin dunia semakin menyadari pentingnya toleransi, karena tanpa toleransi dunia ini akan hancur,” ucap sutradara peraih ratusan penghargaan internasional ini.

Duta Toleransi Natasha Dematra dalam pidato kebudayaannya menyoroti isu tentang Rohingya. Peristiwa pembunuhan kaum Muslim oleh para biksu garis keras merupakan sebuah tindakan yang semakin memperburuk tragedi ini.

"Salah satu cara yang dapat menyelesaikan tragedi ini adalah persatuan sebuah bangsa itu sendiri," ujarnya. Natasha menyerukan kepada PBB dan para pemimpin dunia termasuk kepada pemerintah Indonesia untuk dapat aktif menyelesaikan tragedi ini. “Toleransi adalah cara untuk mencapai perdamaian di dunia," ujarnya.

Kaum Rohingya sendiri merupakan imigran asal Bangladesh yang menetap di Myanmar. Hingga 2013, populasi mereka telah mencapai 1,3  juta orang. Hingga kini, pembataian pada kaum Rohingya terus terjadi atas berbagai alasan, yang salah satunya karena mereka beragama Islam. Dalai Lama sendiri mengecam tindakan ini dan mengatakan bahwa jika Buddha masih ada, ia akan melindungi saudara-saudara Muslim.

Tahun ini, WTA memilih Tolerance Woman of the Year 2016, yang pilihannya jatuh pada Cheryl Halpern, seorang sutradara perempuan asal Amerika Serikat yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan toleransi lewat karya-karyanya di berbagai negara. Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Cheryl Halpern dalam malam penutupan festival film yang diadakan di Planet Hollywood Jakarta pada hari ini. Selain Cheryl, seorang sutradara perempuan asal Brazil, Lucia Barata, menerima penghargaan khusus Star of Tolerance.

Dalam malam penutupan ini diluncurkan film musik Smile karya sutradara dan penyanyi remaja Natasha Dematra. Film musik Smile ini diharapkan dapat membangun awareness tentang pendeknya waktu kita di Bumi dan saatnya untuk berbuat baik dan hidup dengan bertoleransi pada sesama. Film musik ini diproduksi oleh World Tolerance Awards dan didukung oleh aransemen apik musisi muda berbakat Oin Tazaka. Film musik ini diharapkan dapat mengispirasi dunia akan pentingnya nilai-nilai toleransi.

Sebagai wujud nyata toleransi kepada sesama, diadakan juga penggalangan dana CARE FOR ACEH untuk membantu korban gempa bumi berskala 6,5 skala ritcher yang melanda Aceh pada 7 Desember lalu. Rencananya, hasil penggalangan dana ini akan dibawa ke Aceh oleh Yayasan PENA dalam pertengahan bulan ini. Diharapkan bantuan ini dapat membantu korban bencana tersebut.

Sebelumnya, acara pembukaan malam penghargaan festival ini diadakan di Bali pada tanggal 23-25 November lalu. Acara ini didukung penuh oleh Raja Jembrana, Bali, Anak Agung Gde Agung B. Sutedja. Sineas-sineas yang hadir di acara ini adalah Stanley Jacobs, Megan Rohrer, dan Craig Leon asal Amerika Serikat, Rima Irani asal Lebanon, Sion Joseph Ribeiro asal Timur Tengah, Arunkumar Deivanayagam asal India, Cheryl Halpern, Aleksandras Brokas asal Lituania, Bernarda Avsenik dan Alenka Fajfar Gnezda asal Slovenia, Jana Younes asal Lebanon, Lucia Barata dan Fernanda Huffel asal Brazil, Liu Wei Cina asal Cina, bersama Yao Honghemei, Chen Tanrui, Yang Kaixin, Huaqing Jin, Chunchao Tang, Liu Jin, Li Xinyi, JiaSheng Cao, Can Jian, Li Qian, sineas dan produser asal Filipina Carlo Jay O. Cuevas dan Caloy Tabunda, sineas asal Polandia, Jozef Malocha, Michael Raso, Christina Gopal, dan Juan Manuel Benavides Fajardo.

Acara ini bekerja sama dengan festival berskala Internasional lainnya yaitu, International Film Festival for Documentary, Short and Comedy (IFFDSC), Filmmakers of the Year Film Festival (FOTY), Directors Awards, International Student, Newcomer and Women Movie Awards (ISENMA) dan Royal World Prize.

Acara ini didukung oleh Dewan Kreatif Rakyat (DKR), World Film Council, Yayasan Peduli Anak Indonesia (PENA), Film Festival Alliance, Jaringan Bioskop XXI, Russian Culture, i-Hebat International Volunteers, dan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media partner.


(ratman/rls/pp)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)