Seni Budaya

Seni Tradisi

Festival Seni Budaya Jatisampuran Tampilkan Tradisi Babaritan

Administrator | Senin, 02 Oktober 2017 - 16:18:20 WIB | dibaca: 172 pembaca

Camat Jatisampurna, Drs. Abi Hurairah M,Si.saat membuka festival Seni Budaya Kranggan. (foto edie)

Bekasi, parahyangan-post.com-Babaritan adalah kegiatan ritual adat istiadat warga masyarakat Kranggan, Jatisampurna Bekasi, usianya sudah ratusan tahun. Pada Festival Seni Budaya Jatisampurna  2017, yang bertema “Mari Lestarikan Budaya Daerah”, tradisi ini kembali ditampilkan bersamaan dengan kesenian lain, diantaranya tari Jaipong dari Sanggar Mekar Pasundan, Pencak Silat Restu Kasepuhan, dan Topeng Setia Bersama.

Tokoh budaya dan tokoh masyarakat Kranggan, Olot Kisan menjelaskan, Tradisi ‘Babaritan’ adalah doa memohon keselamatan. Ungkapan rasa syukur kepada Allah subhana wata’ala yang sudah memberikan nikmat sehat dan panjang umur, keberkahan sandang, pangan, papan dan nikmat kehidupan lain.

“Tradisi babarit atau ngababaritan rutin digelar setiap tahun oleh masyarakat Kranggan. Upacara ritual adat peninggalan budaya megalitikum ini, sudah dua kali ditampilkan di acara ‘Festival Seni dan Budaya’ yang digelar Pemerintah Kecamatan Jatisampurna,”paparnya kepada parahyangan-post.com, Jumat, 29/9.

Pelestarian

Festival Seni Budaya Jatisampurna yang diselenggarakan berdekatan dengan peringatan G.30 SPKI ini  dibuka dan diresmikan Camat Jatisampurna, Drs. Abi Hurairah M,Si. Turut hadir Wakil Ketua DPRD Bekasi, H. Yusuf Nasih, S.Sos., MM, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadis Parbud) Kota Bekasi, Ahmad Zarkasih, Lurah Jatisampurna, Asep Muharam SE, para Lurah se Kecamatan Jatisampurna, seniman, budayawan, tokoh masyarakat serta warga Kranggan Jatisampurna.

“Eksistensi sebuah bangsa diakui karena budayanya. Maka budaya atau kearifan lokal ini, khususnya tradisi Babaritan, jangan sampai hilang. Kita akan terus melakukan pelestarian dan penggalian budaya. Berbagai potensi seni dan budaya akan kita beri ruang untuk terus dikembangkan agar lebih mengakar,” ujar Drs. Abi Hurairah M,Si, yang menjabat sebagai Camat Jatisampurna, sejak 27 Juni 2016 lalu.

Namun mampukah tradisi ‘Babaritan’ bertahan di kampung Kranggan. Mengingat kampung yang memiliki basis budaya tertua di Bekasi ini terus memperlihatkan geliatnya di bidang pengembangan kota. “Budaya pasti mengalami perubahan, sebagaimana manusia makhluk yang mengalami evolusi. Namun sebagai warga bangsa, kita wajib menjaga eksistensi budaya yang menjadi citra jati diri bangsa, yaitu nilai-nilai yang dapat menjadi tatanan dan tuntunan,” tegas Abi Hurairah.

Dualisme

Kranggan tempo dulu, dan Kranggan masa kini, adalah dualisme paradoks wajah Kranggan yang kerap dipercakapkan. Desa Kranggan tempo dulu yang agraris, tradisional, dengan ekologi alam untuk pemenuhan kebutuhan hidup -- dan Kranggan masa kini, yang mengalami transformasi millenium; budaya pop, kosmopolit, konsumtif - materialis.

30 tahun silam, kawasan yang kerap dijuluki ‘tempat jin buang anak’ ini, hanyalah belantara kebun karet, tempat penduduk setempat mengolah daya, menanam kunyit, jahe, lengkuas, serai wangi, dan tumbuhan palawija. Bahkan seperempat abad lalu, masyarakat masih kerap mendapati ‘Ancak Sesaji’ yang diletakkan di sejumlah perempatan jalan, di pohon-pohon besar, di makam leluhur, dan di berbagai tempat tertentu yang dipandang sakral dan mistik. ‘Ancak Sesaji’ ini diadakan sebagai bentuk persembahan dan penghormatan bagi para leluhur, dan keseimbangan alam.

Namun seiring pesatnya pembangunan di seputar kawasan ini, Kranggan kini berrubah menjadi kota baru yang semakin lengkap, megah dan mewah. Tak hanya perkampungan, kebun, persawahan dan rumah-rumah sederhana, melainkan hotel bintang lima, café, restoran, pusat perbelanjaan bertarap internasional, rumah sakit dan taman rekreasi tumbuh di kawasan ini.

Akankah tradisi bermantra, dengan selaksa ‘Ancak Sesaji’ yang dipersembahkan tetap dapat mewarnai ritual ‘Babaritan’ di kampung Kranggan Jatisampurna?

Jawabnya, tak ada budaya yang statis. Setiap bangsa akan terus tumbuh dengan budaya yang mengikutinya. Waktu terus berjalan dari abad ke abad. Namun jejak aneka peradaban jangan dilupakan.** (aboe/pp)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)