Edukasi

Organisasi Wartawan

Dudy S. Takdir Terpilih Sebagai Ketua Umum Forjim

Administrator | Sabtu, 06 Januari 2018 - 20:56:45 WIB | dibaca: 328 pembaca

Ketua baru Forjim (kanan) dan ketua lama (kiri), usai pemilihan. (foto fjm)

Jakarta, parahyangan-post.com Dudy S. Takdir terpilih menjadi Ketua Umum Forum Jurnalis Muslim (Forjim) pada Munas I yang berlangsung di Jakarta, 6/1/’18.

Dudy yang juga Redaktur Eksekutif ahad.co.id, akan menggawangi organisasi wartawan Muslim paling anyar ini hingga tahun 2021. Dia menggantikan Adhes Satria yang sudah habis masa jabatannya. Adhes ditunjuk sebagai Direktur Forjim Solidarity, badan otonom yang menangani aksi kemanusiaan.

Dalam sambutan setelah terpilih, Dudy mengajak anggotanya untuk meningkatkan kapasitas serta menjaga profesionalitas.

"Tahun-tahun ke depan merupakan tantangan sekaligus ujian bagi profesionalisme kita. Independensi insan pers mutlak dijaga, jangan sampai jadi alat politik praktis," katanya.

Dudy  juga akan membuka peluang sinergi dengan lembaga dan ormas lain.

"Kolaborasi positif dengan berbagai lembaga dan ormas Islam mutlak dilakukan, apalagi Forjim terlahir dari rahim umat Islam. Maka sudah seharusnya Forjim jadi yang terdepan mengawal agenda-agenda keumatan," jelasnya.

Sebagai organisasi profesi, lanjut Dudy, Forjim akan dikelola dengan manajemen organisasi yang baik. "Karena itu kami mengajak bekerja sama membangun Forjim menjadi organisasi profesi wartawan yang disegani," tegas alumni Ilmu Komunikasi UIN Jogja itu.

Dudy menunjuk Ibnu Syafaat (VOA Islam) menjadi Sekretaris Umum, Setyohadi Wiratmoko (Arqom.co.id) sebagai Bendahara Umum.

Munas juga menghasilkan beberapa rekomendasi, antara lain hitungan upah layak jurnalis (muslim) untuk pemula adalah Rp 6,9 juta.

Selain itu, terkait tindakan kriminalisasi terhadap ulama dan tokoh Islam, Forjim mengecam dan menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap tokoh dan ulama. Forjim juga menolak stigmatisasi anti-NKRI, anti-Pancasila, dan anti-Kebhinekaan yang disematkan kepada umat Islam dan tokoh-tokoh Islam.

Sedangkan terkait pemblokiran media Islam, Forjim menolak setiap bentuk pemberedelan terhadap media Islam, termasuk pemblokiran yang dilakukan berdasarkan subyektifitas penguasa. Karena kebebasan pers dilindungi oleh undang-undang.

Selain itu, Forjim juga  mengupayakan terciptanya sinergi yang baik antara lembaga filantropi, ormas Islam, pendidikan Islam, keuangan syariah, industri dan wisata halal dengan jurnalis Muslim dan media-media Islam.

Dalam persoalan kepemimpinan, Forjim menyerukan kepada umat Islam agar merebut kepemimpinan dalam Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

Munas ke-1 Forjim Indonesia mengambil tema “Mengukuhkan Jurnalis Muslim sebagai Agen Perubahan”. Ikut memberikan pencerahan,  Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), H. Usamah Hisyam.*** (rls/frj/aboe)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)