Nusantara

Pembukaan Festival Film Internasional Perempuan & Anti Diskriminasi

Dewan Kreatif Rakyat Luncurkan Soundtrack From Seoul To Jakarta

Administrator | Sabtu, 28 Maret 2015 - 08:53:22 WIB | dibaca: 1196 pembaca

Logo Dewan Kreatif Rakyat (DKR) (sumber foto : ist)

JAKARTA (www.Parahyangan-Post.com) -- Dewan Kreatif Rakyat (DKR) menggelar festival film internasional perempuan dan anti diskriminasi. Festival yang dinamai International Film Festival For Women, Social Issues and Zero Discriminition (IFFWSZ) ini resmi dimulai pada hari Kamis (26/03). Acara pembukaannya didahului dengan pemutaran film-film official selection, di antaranya Between the Lines (Jerman, Slavko Spionjak) tentang pejuang muslim dan kristiani yang terbangun dalam sebuah ruangan sama, menghadapi nasib yang sama: sama-sama terikat kaki dan tangannya;  The Bridge (USA, Alia Diab), yang mengamati keadaan sosial masyarakat Amerika Serikat pasca pengemboman gedung World Trade Center; kisah indah dan inspiratif tentang keajaiban dan perjuangan wanita yang tak kenal menyerah untuk dapat sembuh melawan penyakit Multiple Sclerosis walau telah terikat di kursi roda dan didakwa tak dapat disembuhkan dalam The Healing of Heather Garden (Kanada, Judith Morrow), film Swedia besutan Johan Palmgren, The Flogsta Roar yang memotret keadaan sosial masyarakat Flogsta, Swedia yang melakukan ritual unik. Ratusan murid berteriak sekencang-kencangnya melepaskan rasa stress mereka setiap malam; dan film dokumenter menarik bertajuk Spilled Water (USA, May May Tchao) tentang transformasi ekonomi Cina mengubah peranan, hak, dan status kaum wanitanya. Acara ini dilanjutkan dengan workshop menulis kreatif oleh Imam Prihadiyoko dan peluncuran soundtrack film layar lebar From Seoul To Jakarta yang dinyanyikan oleh artis dan penyanyi remaja Natasha Dematra.

From Seoul to Jakarta adalah film binaan Dewan Kreatif Rakyat, hasil kolaborasi antara Indonesia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Peluncuran soundtrack film ini pun dijadikan ajang syukuran karena From Seoul To Jakarta baru-baru ini memperoleh 3 penghargaan internasional dari dua festival yang diselenggarakan di California, Amerika Serikat. Accolade Global Film Competition memberikan dua penghargaan Award of Merit dalam kategori Artis Terbaik (untuk Natasha Dematra) dan Sinematografi (untuk Damien Dematra). Selain Accolade Competition di California, festival San Francisco Film Awards di San Francisco juga menganugerahkan Award of Merit dalam kategori Feature Film.

Menurut Rick Prickett, Direktur Festival Accolade Global Film Competition, From Seoul To Jakarta meraih penghargaan ini karena penampilan akting yang luar biasa dari aktris Natasha Dematra dan gambar-gambar yang mengagumkan dari sisi sinematografi. Accolade Competition sendiri adalah sebuah festival film bergengsi yang dipilih oleh majalah Movie Maker Magazine sebagai “Top 25 festivals worth the entry fee” di mana film-film pemenangnya banyak yang telah meraih Piala Oscar dan Piala Emmy. Sedangkan Laurel Kapros dari San Francisco Film Awards mengemukakan alasan dipilihnya From Seoul To Jakarta karena film ini dianggap memiliki nilai artistik yang indah dan diproduksi dengan teknik prima.

Penghargaan ini merupakan penghargaan internasional ke-11 bagi Natasha Dematra, namun ia merasa hal ini spesial karena dalam film ini, ia dituntut untuk bisa menguasai Dance ala K-Pop dan menjadi penyanyi profesional, sekaligus melakoni akting sulit sebagai protagonis dan antagonis di saat yang hampir bersamaan. Natasha Dematra, yang juga adalah Duta Dewan Kreatif Rakyat, merasa terharu karena sekali lagi, kemenangannya turut memberi sumbangsih bagi kejayaan Indonesia di luar negeri dan membuat nama negaranya makin dikenal masyarakat internasional.

Produser dan sutradara Damien Dematra merasa bangga dengan perolehan ini, terutama karena penghargaan ini didapat untuk karya sinematografi. Hampir 10 kameraman terlibat dan memiliki andil dalam film ini, ujarnya. Penggunaan drone sebagai teknologi terkini dalam pengambilan gambar sulit dan di dalam ruangan merupakan salah satu tantangan terberat sang sutradara yang memilih terjun langsung mengoperasikan kamera drone-nya.

Rangkaian acara festival internasional ini akan berpuncak pada hari Kamis depan (2/4) dalam acara Awards Day yang akan dihadiri para filmmakers pemenang dari mancanegara yang terbang langsung dari negara mereka masing-masing. Festival ini akan berakhir pada hari Senin (6/4). “Setiap hari akan ada acara kreatif yang digelar di Pusat Kebudayaan Rusia sejak pukul 10 sampai 6 sore, mulai dari penayangan film-film internasional pemenang, pelatihan kreatif (menulis, pelatihan drone, film, akting, casting, dan musik indie) oleh para pakar di bidangnya masing-masing, setiap pukul 2-4 sore, dan juga Special Screening dua film inspiratif garapan Denny JA dan Hanung Bramantyo dengan tema anti-diskriminasi. Semua tidak dipungut biaya. “Pokoknya rugi deh, kalau sampai ketinggalan,” ujar pria berambut panjang ini sambil tersenyum.

Damien Dematra, founder dan director yang menahkodai IFFWSZ, mengungkapkan bahwa festival internasional ini sejak awal memang dirancang untuk merayakan Hari Perempuan International (8 Maret), Hari Anti Diskriminasi (1 Maret), dan Hari Autis Sedunia (2 April). Festival. Festival ini akan terus berlangsung sampai dengan tanggal 6 April 2015. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa IFFWSZ merupakan penyelenggara festival film internasional yang berkaitan dengan isu-isu tentang perempuan, masalah sosial, dan persamaan hak tanpa diskriminasi, dalam lingkup nasional dan internasional. Festival ini memiliki misi meningkatkan kesadaran di kalangan masyarakat Indonesia maupun lintas negara, serta mendukung Perserikatan Bangsa-Bangsa menjalankan misi kemanusiaan dan perdamaian. Dalam pelaksanaannya pada tahun ini, IFFWSZ bekerjasama dengan beberapa festival internasional lainnya, yaitu International Movie Awards, Filmmakers World Festival dan Documentary and Short International Movie Awards. Terampung 355 film yang ikut serta dalam tahap seleksi, di mana 50 film akan diputar di Pusat Kebudayaan Rusia, Jakarta. Rangkaian kegiatan festival ini, tambahnya, dilakukan bekerja sama dengan Yayasan Denny JA Indonesia Tanpa Diskriminasi, Russian Culture Center, dan i-Hebat International Volunteers.

Para penasihat yang akan memotori visi misi DKR adalah Sinuhun Tedjowulan (Baginda Surakarta Hadiningrat), Damien Dematra (sutradara), Lily Wahid (aktivis), Erna Santoso (artis senior), Dr. Jalaluddin Rahmat (pakar komunikasi), Dorce Gamalama (penyanyi), Abah Ukam (produser lagu indie), Tiara Savitri (Ketua Yayasan Lupus Indonesia), Arie Rahmadani (Koordinator i-Hebat International Volunteer), Alika Chandra (pemimpin sanggar teater), Sidik W Martowidjoyo (pelukis internasional), Hery Sucipto (penulis), dan Emilia Renita (aktivis perempuan) di bawah koordinasi Dedeh Kurniasih (Sekjen DKR).

(ratman/pp)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)