Husada

wabah penyakit

ACT Bersyukur Status KLB Campak dan Gizi Buruk Asmat Dicabut

Administrator | Selasa, 06 Februari 2018 - 09:16:01 WIB | dibaca: 646 pembaca

penanganan kasul KLB Campak dan Gizi Buruk di Asmat

Jakarta, parahyangan-post.com Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersyukur status KLB Campak dan Gizi Buruk di Asmat telah dicabut. Kendati demikian pencabutan status KLB bukan berarti menghilangkan status emergency untuk lembaga kemanusiaan termasuk ACT. Hal tersebut disampaikan

 GM Komunikasi ACT, Lukman Azis Kurniawan.

"Selama masih terjadi kondisi gizi buruk dan campak di Asmat, kami akan tetap melakukan upaya penanganannya," kata Lukman, Selasa (6/2/2018).

Dia juga mengatakan, ACT telah membuat rangkaian program untuk menyelesaikan permasalahan yang menimpa warga Asmat.

“Sesuai program yang kita buat, langkah emergency ini akan dilakukan act hingga 3 bulan kedepan. Dilanjutkan ke program recovery," pungkas Lukman.

Status KLB Campak Asmat Dicabut

Sebelumnya diberitakan, Elisa Kambu menyatakan pihaknya telah mencabut staus KLB Campak dan Gizi Buruk di Asmat.

“Penurunan jumlah penderita campak di Kabupaten Asmat membuat status kejadian luar biasa (KLB) dicabut. Tapi proses pendampingan warga oleh tenaga kesehatan diminta terus dilanjutkan,” tegas Kambu usai rapat koordinasi di Posko Satgas KLB Campak dan Gizi Buruk Campak, Senin malam (5/2) .

Dikatakannya, dengan memerhatikan usul Dinkes Asmat melalui surat Nomor 800/50/Dinkes/2/2018, maka pihaknya  menyatakan KLB campak telah berakhir.

Pencabutan status KLB tersebut dilakukan karena trennya semakin menurun di RSUD Agats yang tersisa 12 orang.  Mereka terdiri dari 9 anak yang dirawat inap akibat gizi buruk dan terkena campak sebanyak 3 anak.

"Kondisi dinilai makin terkendali dengan indikator vaksinasi di 224 kampung yang berada di 23 distrik," kata Elisa.

Elisa berani memutuskan pencabutan KLB campak karena rekomendasi teknis kesehatan. Dengan dasar Permenkes Nomor 1501 Tahun 2010.  Dia sempat mengevaluasi dengan menemui langsung pasien rawat inap. Evaluasi dilakukan selama hampir 20 hari sejak penetapan KLB campak pertama kali pada 15 Januari 2018.

Melalui Kemenkes, imunisasi lengkap diberikan kepada anak-anak dari usia 0-15  tahun sebanyak 17.337 anak. Saat bersamaan, ditemukan pula penderita campak sebanyak 651 anak dan 223 pasien gizi buruk. Komplikasi gizi buruk dan penderita campak turut ditemukan sebanyak 11 pasien, plus suspek campak sebanyak 25 pasien.

Hingga status KLB berakhir, tercatat anak meninggal sebanyak 72 orang. Mereka meninggal akibat campak sebanyak 66 orang dan gizi buruk 6 orang. Jumlah meninggal di RS sebanyak 8 orang sisanya ditemukan di kampung per September hingga 4 Februari 2018 dengan penyebaran merata. Pasien rujuk ke RSUD Agats ditemukan pada 20-22 Januari 2018 lalu.

Elisa berharap, meski status KLB berakhir, pendampingan ke warga dan pelayanan kesehatan terus dilakukan dalam waktu lebih lama.

"Model penanggulangan seperti di Asmat akan direplikasi tempat lain. Kami di Asmat masih memerlukan dukungan. Kita masih butuh perawat dan dokter. Kita nanti bisa duduk bersama-sama agar bisa riil," ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat dr. Pieter Pajala menerapkan rencana tindak lanjut sesuai arahan teknis Kemenkes.

"Yakni, melalui rencana aksi ketahanan pangan, sosbud, dan melalui skala pendampingan yang lebih lama. Sehingga tenaga kesehatan gampang berkomunikasi dengan anak-anak dengan adaptasi optimal hingga ke bivak-bivak," katanya.

Kabid Evaluasi Pusat Krisis Kesehatan Kamaruzaman yang mewakili Kemenkes salam rapat Satgas KLB Campak dan Gizi Buruk Asmat menyatakan, rekomendasi teknis pencabutan KLB campak sesuai prosedur.

Sebelumnya, Dirjen P2P Kemenkes dr. HM Subuh menerangkan, KLB dinyatakn selesai setelah dua kali masa inkubasi tidak ditemukan atau dilaporkan adanya kasus baru. Sedangkan untuk campak masa inkubasinya 14 hari. Sehingga pencabutannya ditunggu 2x14 hari.*** (pp/rls)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)