Seni Budaya

Kreasi Seni Siswa

“PKP Carnival 7” Berlangsung Meriah, Kreasi Siswa Mengagumkan

Administrator | Kamis, 28 November 2019 - 20:36:27 WIB | dibaca: 187 pembaca

Kepala Sekolah SMA PKP JIS Drs. Yayat W. Herianto, MM, (Seragam putih zaman kolonial) dengan pengurus Yayasan PKP dan guru foto bersama usai kegiatan, pada closing ceremony "PKP Carnival 7" (foto aboe)

Jakarta, parahyangan-post.com-Kreasi siswa-siswi Pondok Karya Pembangunan, Jakarta Islamic School (PKP JIS)  pada puncak acara (closing ceremony) “PKP Carnival 7” mengundang decak kagum penonton. Penampilan mereka sangat menarik. Mulai dari fashion show  dengan kostum burung (bird of Indonesia), tari daerah (Saman-Aceh ), pop song hingga musikalisasi puisi oleh Denting.

Denting adalah grup musikali puisi dari SMA PKP JIS yang memenangkan lomba tingkat DKI tahun ini.

Suguhan mereka sangat  kreatif, inovatif dan energik. Mampu mengkolaborasikan ide-ide  baru dengan dinamis, namun tetap berlatar tradisi nusantara. Fashion show sendiri, menurut kepala SMA PKP JIS, Drs. Yayat W. Herianto, MM, terinspirasi dari Jember Fashion Carnival (JFC) dan Etno Fashion Carnaval Banyuwangi.

Closing Ceremony “PKP Carnival 7” yang bertema Indonesia ‘tempoe doeloe’ berlangsung tanggal 28 November  merupakan puncak dari seluruh rangkaian kegiatan yang dimulai sejak 21 Oktober. Acara berlangsung di lingkungan sekolah, Jl. Raya PKP, Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur.

Kegiatan lain dalam rangkaian acara tersebut, diantaranya  kompetisi basket putera puteri antar sekolah, futsal, robotic dan lomba pidato.

Acara dimulai dengan parade (fashion Show) bertema burung dari 15 delegasi. Ke 15 delegasi itu merupakan perwakilan kelas masing-masing. Kirab diawali dari depan gedung utama yayasan, kemudian  berjalan mengelilingi bundaran dan memperagakan kreasinya di depan panggung utama. Di panggung utama tersebut juga duduk  tamu kehormatan yang menyaksikan dengan antusias. 

Usai fashion show, kegiatan dipindah ke lapangan dalam SMA PKP JIS. Para delegasi fashion show  kembali tampil di sini memperagakan kebolehannya.

Usai delegasi fashion show memperagakankan karyanya, acara dilanjutkan dengan penampilan aneka hiburan, diawali pop song, tarian daerah dan musikalisasi puisi. Acara kemudian ditutup dengan sambutan sambutan serta pembagian hadiah bagi pemanang lomba.

Pembelajaran Kolaboratif

Kepala SMA PKP JIS Drs. Yayat W. Herianto MM, menjelaskan tujuan utama "PKP Carnival" yang sudah memasuki tahun ke 7 ini adalah untuk meningkatkan kreativitas siswa dan seluruh komponen yang terlibat di dalam dunia pendidikan seperti  guru, pengelola (yayasan) maupun orang tua murid.

“Selain itu juga untuk branding sekolah,” papar Yayat kepada parahyangan-post.com.

Dikatakan, sejak dulu  SMA PKP JIS sangat konsern kepada seni. Berbagai bentuk kesenian pernah diselenggarakan, termasuk mendatang sastrawan/penyair ke sekolahnya.

“Nilai tambah SMA PKP JIS ini memang di bidang seni.  Dari sini pun sudah banyak lahir seniman dan artis,” tambah Yayat.

Sekolah swasta, lanjut Yayayat,  hanya bisa survive (bertahan) kalau hanya ada yang membeli. Yang membeli itu adalah konsumen. Salah satu yang harus dijual adalah nilai tambah.

“Nilai tambah SMA PKP JIS ini  antara lain, kita mempunyai keunggulandi bidang seni. Kemudian mengapa harus ada seni pertunjukan? Karena even ini adalah praktek pembelajaran yang menurut saya kajiannya luar biasa. Karena dalam even itu anak-anak belajar tentang sosiaologi, komunikasi, juga belajar tentang negosiasi. Ini yang menurut saya proses pembelajaran yang sebenarnya,” tambah Yayat.

Yayat optimis, “PKP Carnival” Ini akan terus berlangsung setiap tahun.

“Ada rencana akan kita selenggarakan di luar sekolah, seperti di mall dan pasar pagi, sabagai even bergensi yang dimiliki oleh sekolah,” tambahnya.

Hal terpenting lain dalam even ini,  menurut Yayat, adalah pembelajaran kolaboratif  dan kemerdekaan belajar. Anak-anak memiliki kemerdekaan untuk mengungkapkan kreasi dan inovasi  yang secara tidak langsung mendukung performace (penampilan) pribadi dan sikap mereka. Juga ada kolaborasi antara guru dengan murid dan orang tua. Karena kegitan itu membutuhkan konsentrasi, komitmen dan konsistensi.

“Makanya saya sangat mendukung kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, yang mengedepankan kolaborasi dan kemerdekaan dalam belajar. Sekolah itu harus menyenangkan.  Jangan sampai menjadi penjara. Dunia pendidikan kita harus mengadakan lompatan besar agar maju,” tutupnya.*** (aboe)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)